If Cats Disappeared from The World (2016) : How Actually Does Life Feels Like?

acorn

“If I disappeared from the world.. the dreams and wishes I couldn’t think about, things that I couldn’t do when I was alive, and things I want to redo.. there must be many regrets left behind. But the world where I existed and the world where I vanished.. I want to believe they are different. It may be an insignificant change, but it’s proof that I was alive. Struggling and worrying, these are proof that we’re alive.”

Percayalah, bahasan kali ini bukan tentang film kucing yang tiba-tiba hilang di muka bumi semata. Saya pun kecele saat pertama kali melihat poster filmnya di postingan instagram, huhu.

Continue reading

Membumi Bukan Melangit di 0 MDPL Garut

Di bagian itu, Kugy dan Keenan akhirnya berkesempatan untuk merendam kaki mereka dalam air laut, di atas pasir pecahan kerang berwarna krim kekuningan. Ratusan anak ombak berkilau perak ditimpa sinar bulan. Karang-karang kecil bermunculan, tampak mengilap disepuh buih ombak. Selain mereka berdua, tak ada lagi orang di sana.

Oke, dua penggal paragraph di atas sudah cukup melukiskan buku apa yang sedang saya kulik. Teracuni dengan kisah cinta mereka yang super unyu menurut saya, membuat saya mengkhatamkan semua hal berbau Perahu Kertas karya Dee Lestari itu. Mulai dari novel, film, soundtrack, bahkan lagu instrumental backsound filmnya pun saya koleksi. Hingga akhirnya, sebagai agen neptunus yang baik di pergantian tahun pun saya ikut-ikutan ngetrip ke pantai sebagai bagian dari agenda mengunjungi markas. Saking korban filmnya, Rancabuaya pun dimasukkan dalam agenda saya di penghujung tahun 2013 lalu.
Menjelang Akhir Desember 2013,

Continue reading

Fun Hiking di Gunung Gede

Tugas menumpuk, UAS sebentar lagi menjelang, closing belum kelar, deadline buletin, sukses membuat saya galau sepanjang pekan. padahal kesehariannya juga galau terus  saat sedang hectic begitu, saya teringat sebuah postingan kawan di tumblr

Teman : Kalau kamu lagi galau pengennya ngapain?

Saya : Naik gunung

Teman : Terus bisa ilang gitu galaunya kalau sudah turun?

Saya : Nggak. Jadi makin galau pengen naik yang lain. Seperti sekarang ini

— Setiap orang punya ‘kagalauan’ masing-masing

source : klik di sini

 

Continue reading

Film Korea : My Way ; Sebuah Pengingat

Awal film bercerita tentang persaingan dua orang anak beda kebangsaan dan beda kasta, Korea dan Jepang yang saling bersaing prestasi dalam hal lari marathon. Hasegawa Tatsuo dan Kim Jun Shik. Persaingan dan dendam atas kematian kakek Tatsuo membuat hubungan mereka berubah. Nasib membawa Jun Shik menjadi seorang penarik becak khas Jepang, sedangkan Tatsuo tumbuh menjadi kalangan bangsawan  yang hidup serba kecukupan. Sayembara ujicoba olimpiade mempertemukan mereka kembali dalam persaingan marathon. Kemenangan jatuh pada Jun-Shik, namun karena konspirasi juri memutuskan Tatsuolah yang menang. Protes, sebagian imigran Korea yang memihak pada Jun-Shik membuat sebagian di antara mereka diharuskan mengabdi menjadi tentara Jepang.

Continue reading

Gunung Cikuray : When Ur Knee Met Ur Head

Masih seminggu lagi hari yang dinanti tiba. Tapi saya masih saja gamang dengan tempat tujuan nanjak bersama kawan Rohis Periode Sekarang ( RPS ). Duh bagaimanalah ini? Booking Gn. Gede tak lagi menerbitkan harapan sedikitpun, pasrah, karena fullbooking untuk tanggal yang kami ajukan. Makin gamanglah saya ketika mengoordinasikan ini dengan kak Ida .

Saya : ” Alternatif lain kak? Gn. Guntur ?”

Kak Ida : ” Temanmu ada yg udah pernah kesana, len?”

Saya : ” belum ada kak, hmm, jadi gimana kak? ”

Kak Ida : ” kalau dipending jd awal juli gmn? kelamaan ya, hehe ”

What? Awal Juli? Pleaaseee, saya gak mau digorok kawan yang lagi pada giroh nanjak. Ga kebayang gimana raut mukanya Erlisa yang udah bela-belain beli carrier dan ngumumin ke seluruh penghuni rumahnya. Dan akhirnya tercetuslah ide….

Continue reading

Harta Karun di Perpustakaan Nasional RI

Jakarta, 5 Mei 2013

Minggu pagi itu, keinginan saya saat tahun 2011 akhirnya terpenuhi. Awalnya hanya berniat untuk lari pagi di kawasan Monas, apa daya, rasa keingintahuan membuat saya akhirnya menjumpainya.  Dulu, saya hanya mampu menatapnya dari jauh, mengira-ngira bagaimana keadaannya. Berkat sikap kooperatif seorang senior, berhasillah saya memasukinya. Perpustakaan Nasional RI yang berada di Jalan Medan Merdeka Selatan No. 11 Jakarta Pusat. Dan begitu saya memasukinya… uoww. Kereen, suasana gedung jadul berpadu dengan koleksi buku-bukunya yang begitu menggoda untuk dijelajah. Saya kenal dengan tiga perpustakaan umum di wilayah Jakarta. Perpustakaan Umum Daerah (Perpumda) yang berada di kawasan Gor Soemantri Brodjonegoro, Perpustakaan Umum Nasional di kawasan Salemba dan yang satu ini, berada di sekitaran  kawasan Monas. Akses ke sana cukup mudah, naik Bustransjakarta menuju Monas, lalu berjalan kaki ke deretan gedung Balai Kota.

Continue reading

First Nanjak : Gunung Papandayan

Garut, 13 April 2013

Sabtu pagi itu, tibalah kami di tempat pemberhentian bus daerah Garut. Semacam terminal bayangan.  Langit masih gelap, karena jam di tangan menunjukkan masih pukul 2 pagi. Saat leyeh-leyeh menunggu kedatangan truk yang akan mengangkut kami ke pos pertama Gunung Papandayan, tiba-tiba Nissa berteriak : “ Zaaak, tas gueee.” Sontak, kamipun panik. Ya, tasnya Nissa rupanya masih tertinggal di bagasi bus Primajasa yang tadi kami tumpangi. Untunglah ada akang ojek yang dengan kemampuan bermanuver tingggi bersedia mengejar tas yang tertinggal. Setelah melakukan aksi pengejaran dan tembak-menembak ala film action, sampailah tas tersebut di tangan kami dalam keadaan yang mengenaskan, penuh luka tusuk dan kelaparan. Sejenak, kamipun bisa bernafas lega, dan dengan terkumpulnya semua harta benda, berangkatlah kami menumpang truk terbuka. Ah, petualangan dimulaiii. Dan sepanjang perjalanan, scene tas yang tertinggal menjadi bahan fresh untuk membully Nissa. *free pukpuk untuk Nissa. Hembusan angin dan gemintang yang nampak dekat  di pandangan mata menjadi teman setia mengiringi perjalanan kami.

Jam 4, kami tiba di pos pertama penanjakan . Karena langit masih saja gelap, kami bersantai di warung-warung yang tersedia. Ceritanya sih sarapan, tapi menjadi berbeda karena diiringi hembusan angin yang cukup kencang. Terpal penutup warung tak cukup rupanya melindungi kami dari dinginnya angin daerah pegunungan.

Continue reading

Ngebolang di Ancolnya Jakarta

Jakarta, 2 Desember 2012

Ga lengkap rasanya kalau memulai cerita tanpa ada scene saya bangun kesiangan. *sigh Hari itu, saya bersama teman-teman “ngelingker” merencanakan rihlah ke Ancol. Sekalian restrukturisasi lah. Dan trade mark saya adalaah : bangun kesiangan -.- hyaah, apa daya, dasar saya makhluk nokturnal, jadi saya nyusul sendiri ke daerah Ancol. hiks

Rute dari daerah rumah ke Ancol, lumayan. Lumayan bikin gugup kalau janjian datengnya telat. Setelah transit sana-sini halte busway, akhirnya sampailah saya di halte ***** ( bukan sensor, tapi lupa ). Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan kembali menggunakan transjakarta bus. Tiba di halte Ancol, masuklah kami dengan membayar tiket masuk seharga Rp 15.000. Dengan langkah jumawa, kami segera mencari bus wara-wiri, sebuah bus yang disediakan pihak pengelola kawasan Ancol untuk berkeliling secara cuma-cuma. Interior dalamnya mirip dengan transjakarta bus, tapi agak kecil. Kami memutuskan untuk turun di tempat pemberhentian dekat pantai. Secara geografis, tempat yang dimaksud adalah di depan pantai dan tepat bersebelahan dengan wahana Hysteria Dufan. Kami melangkahkan kaki ke jembatan, untuk berfoto sejenak.

Continue reading

Intro : Sedikit Jawaban atas Kenapa?

Selalu ada kata yang terulang ketika saya memutuskan untuk mengepak barang, mengabarkan rencana atau saat meminta izin. “Kenapa jauh-jauh sih Len?” ” Kenapa harus ke situ, main-main di Jakarta kan bisa.” “Nanti makannya susah lho, hidup tuh jangan belajar susah.” “Ih, gue sih males Len, ntar kalo mau apa-apa repot.” Ya, begitulah saat rencana menjejak kaki terlontar. Jadi, kenapa?

Sejak kecil, saya selalu betah berdiam diri di perpustakaan sekolah. Mulai dari perpus MI yang jarang sekali peminat dan perpusnya malah lebih cocok disebut tempat penyimpanan buku, karena benar-benar tak diperhatikan kerapiannya. Lalu perpus SMP yang sampai saya hapal letak buku pelajaran di mana, novel di mana, tempat yang bau kaki di mana -.- ( maklum, namanya juga anak-anak, kaus kakinya ga terlalu dipeduliin ). Saat SMK, tempat pertama kali yang ingin saya kunjungi ketika MOS adalah perpusnya. Saya begitu antusias, ingin tahu sebanyak apa buku-buku menarik yang dimiliki suatu perpustakaan sekolah. Di SMK, untunglah pembina ekskul yang saya ikuti adalah seorang pembina perpustakaan. Hehe, jadi punya kemudahan untuk ‘menjelajah’. Saat kuliah saat ini, saya cuma bisa manyun kalau masuk perpus kampus. Isinya buku pelajaran semua -.-‘ sangat menyiksa batin kekanak-kanakan saya *okemulaiabsurd

Continue reading

Jalan-Lari-Makan di GBK

Minggu pagi, 31 Maret 2013

Drrt, drrt. Drrrt

Hp di sebelah saya bergetar. Huah, siapa pula hari libur gini sms? Refleks tangan ini meraih hp. Oh, sms dari Nurul.

“ Leni, udah berangkat? “ oh, Nurul nanyain berangkat, kirain ada berita penting apa gitu. HEH! BERANGKAT APAAN? Butuh beberapa detik untuk mengingat apa yang seharusnya saya lakukan pagi itu. Dan, saya baru ingat. Ingatnya telat pula -.-‘ ada janji untuk jalan-jalan pagi dengan para korban bully ( Nurul, Murni, Ikhwan, Giro dan Haidar)  di twitter. Yap, dengan segera saya bersiap-siap. Kacau, tiap janjian selaaluu kesiangan, padahal promotornya.

Continue reading

The Intersect

Annyeong, awalnya denger ost.nya dari soundcloud, begitu nyadar ada filmnya, maka jemari ini bergegas mencari keberadaan film tersebut. Daaan, ternyata itu film pendek buatan mahasiswa Indonesia yang lagi belajar di Jerman. Mereka bikin film ini dalam rangka ikut lomba gitu. Huaah, filmnya bagus, ceritanya unyuu, padat dan ga belibet. Nah, ini dia filmnya. Enjoy this!

Titik Nol : Makna Sebuah Perjalanan

Merayakan akhirnya terlepas dari belenggu lembur ( miris ya ) -.-‘ 26 Feb. 2013 kemarin saya tawaf main-main ke toko buku. Niatnya cuma mau liat-liat, apa daya diri ini yang selalu lemah iman kalau liat buku backpacking keliling dunia. Awalnya sih mau beli buku-buku yang unyu+galau, eh buku yang satu ini lebih menarik hati. Menarik karena sejauh apapun melangkah, rumah adalah tempat kembali. Mama dan Indonesia. Daaan, ini dia buku hasil perburuan sayaaaa .

Continue reading