Surga Impian di Jalur Candi Cethonya Gunung Lawu

Apa definisi surga impian menurutmu?

Bagi saya, surga yang selalu saya khayalkan dalam setiap perjalanan menjejakkan kaki di alam ialah menemui hamparan padang rumput, dengan oase di tengahnya di mana binatang hendak minum di kubangan airnya.

Imaji sepercik surga itu selalu membayang di dalam kepala, akibat kebanyakan nonton tayangan Natgeo Wild sih keknya, tapi ya begitulah. Impian untuk merasakan oase itulah yang akhirnya menyampaikan saya pada catper-catper pendakian Gunung Lawu via Jalur Candi Cetho, di mana hutannya masih rapat, dan kabar adanya genangan air yang disebut Tapak Menjangan sebagai sumber air yang sering digunakan minum oleh para hewan. Mendengarnya, membuat saya lantas mengazamkan diri “Mesti ke sini!”

Continue reading

Mie Rebus Memorable di Curug Cibereum

Saya sempat menghadapi writer’s block, tapi ga gitu juga sih, saya masih bisa menuliskan catatan perjalanan ini meski memakan waktu hampir 3 tahun, hanya saja saya bingung hendak memberi judul apa, hingga kemudian ketika saya bertanya pada Lia Hastien tentang trip ini serta merta ia mengungkapkan rasa mie rebus yang disantap kala break waktu itu terasa enak.

Sebenarnya awalnya saya hendak memberi judul ‘Piknik Cantik’, tapi apa daya waktu itu tripnya ga cantik-cantik amat, tidurnya numpang di masjid, transportnya carter angkot, makannya di pinggir jalan, satu-satunya yang membikin cantik karena tanpa sadar warna jilbab kami kali itu tanpa disadari senada meski samasekali ga pernah janjian. Ya sudahlah, mari kita mulai. \m/

Semua berawal dari requestnya Ika kala itu, yang meminta kesempatan diajak ngebolang. Karena ini merupakan permulaan, saya pikir harus cari destinasi yang tak terlalu jauh dari Jakarta. Selain cari hemat, agak susah kalau mencari tempat-tempat yang jauh yang mengharuskan kami mengajukan cuti kerja. Selain itu, pertimbangan tempat yang tetap bernuansa alam namun tak membutuhkan persiapan peralatan yang terlalu banyak. Akhirnya diputuskanlah Curug Cibereum yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, yang tempatnya dekat, alam banget, view gunungnya masih bisa didapat. Setelahnya, saya mengajak Lia yang sebenarnya juga diajak Ika, lalu 2 orang tambahan yang diajak Ika yang belakangan kami ketahui bernama Irma dan Mayta. Setelah urusan rombongan siap, dijanjikanlah kami akan bertemu di Terminal Kampung Rambutan.

Continue reading

Seribu Kunang-kunang di Gunung Burangrang

Semua berawal dari ajakan di grup facebook Viator Mundi, grup yang berasal dari kami yang bertemu sewaktu naik Gunung Guntur di bulan Oktober 2013 lalu. Karena dirasa perlu dibuatkan wadah untuk bersilaturahim, maka diputuskan untuk membuat grup facebook yang namanya Viator Mundi sebagai upaya bagi kami untuk terus menziarahi dan mengeksplorasi bumi.

Setelah fixed tanggal bagi kami untuk berangkat, diputuskanlah Gunung Burangrang di Bandung melalui jalur sekolah polisi atau sering disebut Pos Komando, yang dahulu belum banyak dikenal menjadi tujuan mendaki, atau dalam kata lain mencari antimainstream lah.

Continue reading

Membumi Bukan Melangit di 0 MDPL Garut

Di bagian itu, Kugy dan Keenan akhirnya berkesempatan untuk merendam kaki mereka dalam air laut, di atas pasir pecahan kerang berwarna krim kekuningan. Ratusan anak ombak berkilau perak ditimpa sinar bulan. Karang-karang kecil bermunculan, tampak mengilap disepuh buih ombak. Selain mereka berdua, tak ada lagi orang di sana.

Oke, dua penggal paragraph di atas sudah cukup melukiskan buku apa yang sedang saya kulik. Teracuni dengan kisah cinta mereka yang super unyu menurut saya, membuat saya mengkhatamkan semua hal berbau Perahu Kertas karya Dee Lestari itu. Mulai dari novel, film, soundtrack, bahkan lagu instrumental backsound filmnya pun saya koleksi. Hingga akhirnya, sebagai agen neptunus yang baik di pergantian tahun pun saya ikut-ikutan ngetrip ke pantai sebagai bagian dari agenda mengunjungi markas. Saking korban filmnya, Rancabuaya pun dimasukkan dalam agenda saya di penghujung tahun 2013 lalu.
Menjelang Akhir Desember 2013,

Continue reading

Gunung Merbabu , It’s not About The Highest Peak But Friendship

Suatu ketika di Argopuro

“Eh ini tempat makannya siapa? Mas Andreas ya?”

“Iya Len, kamu bawa aja. Buatmu aja.”

“Jangan, oiya bulan depan Leni mau ke Merbabu, bisa sekalian ketemuan sambil balikin ya? Sama Mas Eko juga.”

“Wah iya kalau gitu.”

para tersangka utama di catper kali ini

para tersangka utama di catper kali ini

Continue reading

Takbiran di Curug Sawer Bersama Rohis 8

SMS terakhir kak Ida malam itu tek henti-hentinya membuat saya tersenyum.

Siapin headlamp ya len, antisipasi kalo gada ojek. Kita trekking.

Ngebayangin malam-malam di pedesaan jalan kece sambil pakai headlamp, tentu membuat jiwa ngebolang saya meletup-letup 😀

Sabtu 29 Juni 2013
Penuh syukur saya meninggalkan ruang ujian matkul B.Mandarin. Alhamdulillah yah ujiannya tentang angka dan jam, jadi masih bisa mengandalkan otak saya yang sudah terlanjur lemah menghadapi hafalan kosakata. malah curhat Masih mengenakan almamater dan ransel yang berisikan buku kuliah, dengan jumawa saya melangkahkan kaki menuju terminal bus Kp.Rambutan. Petualangan dimulai… 😀

Continue reading

PLKJ Series : Kepingan Masa Lalu di Museum Nasional

Awalnya saya menganggap kegiatan berkunjung ke tempat-tempat wisata di Jakarta hanyalah bentuk penyaluran hasrat saya dalam ngebolang dan melepas penat setelah sehari-hari berkutat dengan pekerjaan. Namun akhirnya saya sadar, setiap hal yang saya lakukan di hari ini adalah bentuk kelanjutan dari hal-hal kecil yang saya impikan di masa lalu.

Dulu saat bersekolah, saya hanya bisa menatap gambar-gambar bangunan bersejarah dan penting yang tercantum dalam pelajaran muatan lokal PLKJ ( Pendidikan Lingkungan  Kehidupan Jakarta ) yang wajib dipelajari dalam tingkat pendidikan SD dan setaranya. Maka di sinilah saya, merekam ingatan menjejak di bangunan-bangunan tersebut sambil menginsyafi bahwa dulu hal yang hanya mampu saya lihat dari buku, dengan perjalanan waktu mampu terwujud, sesederhana apapun itu, tetaplah menjadi jejak terbesar dan amat berarti dalam perjalanan hidup saya.

Continue reading

Pendakian Gunung Argopuro ; What A Long and Winding Road

Satu momen di Gunung Cikuray, saat beristirahat di pos 3.

“ Iya, Argopuro tuh, Leuser-nya Jawa.”

“Leuser? Maksudnya kak?”

“Iya, trek terpanjang di pulau Jawa.”

Maka sepulang trip itu, saya pulang dengan pemahaman untuk lebih membuka mata tentang gunung-gunung di Indonesia.

Hingga akhirnya, kesempatan itu muncul, datang dari sebuah updatean kak Anggi di FB. Yap, kalau Cikuray dulu karena twitter, kali ini lewat FB. Generasi jaman sekarang banget saya -_-

Continue reading

Fun Hiking di Gunung Gede

Tugas menumpuk, UAS sebentar lagi menjelang, closing belum kelar, deadline buletin, sukses membuat saya galau sepanjang pekan. padahal kesehariannya juga galau terus  saat sedang hectic begitu, saya teringat sebuah postingan kawan di tumblr

Teman : Kalau kamu lagi galau pengennya ngapain?

Saya : Naik gunung

Teman : Terus bisa ilang gitu galaunya kalau sudah turun?

Saya : Nggak. Jadi makin galau pengen naik yang lain. Seperti sekarang ini

— Setiap orang punya ‘kagalauan’ masing-masing

source : klik di sini

 

Continue reading

Apa yang Kauperlukan

kamu hanya butuh hati yang selalu menebal tekad. meski terkadang lelah, jenuh. kamu tahu, kamu akan memiliki musim semimu sendiri.

saat di mana kau hanya mampu tersenyum di bangku taman, karena seluruh anggota tubuhmu yang lain terlalu enggan digerakkan akibat dinginnya angin yang senantiasa berhembus. lalu kau menatap penuh haru pada lembaran-lembaran penuh warna, seraya mengucap : ” mama, semua ini berkat doamu yang senantiasa memenuhi langit malam.” lalu kau mengambil kamera yang terdiam, tergeletak di sampingmu. kaupun mengambil gambar, yang akan kaukirim untuk sahabat terbaikmu, ia yang selalu menyediakan bahunya ketika kau menangis, ia yang selalu mendoakanmu saat kau menceritakan impian-impian anehmu dan ia yang mampu membuatmu menangis saat kau mengenang genggaman tangannya, senyum jenakanya, tingkah lucunya, ataupun sekadar nasihatnya kala kau terpuruk.

dan kau akan menyadari, semua hal yang membuatmu berkali-kali jatuh tersungkur, kelak kau akan syukuri karena itu membuatmu lebih tangguh.

teruntuk dua orang perempuan, yang selalu lekat di hati sampai kapanpun. amat lekat.

Endapan Kenangan

dalam beperjalanan, terkadang hati ini kelu untuk memulai berkata. karena mata terlalu sibuk untuk menangkap keindahan yang tersaji. maka ketika pulang, ketika imaji yang berhasil tertangkap oleh mata mulai mengendap menjadi kenangan, mulailah hati ini riuh mengurai kata. menyampaikan rindu pada dataran tinggi itu, pada dinginnya, pada tanah yang selalu ramah menyediakan tempatnya untukku duduk melepas lelah, pada langit malamnya yang mendekatkanku pada gemintang dan pada celetukan riuh kawan saat melangkah.

hingga jemari ini menari di atas keyboard, kenangan itu mengendap, semakin menguatkan rasa rindu. hingga nanti, kan kukabarkan pada mereka yang bermata jeli, mereka yang selalu antusias mendengar cerita-ceritaku, kan kudengungkan cerita ini.

 

cikuray

Gunung Cikuray : When Ur Knee Met Ur Head

Masih seminggu lagi hari yang dinanti tiba. Tapi saya masih saja gamang dengan tempat tujuan nanjak bersama kawan Rohis Periode Sekarang ( RPS ). Duh bagaimanalah ini? Booking Gn. Gede tak lagi menerbitkan harapan sedikitpun, pasrah, karena fullbooking untuk tanggal yang kami ajukan. Makin gamanglah saya ketika mengoordinasikan ini dengan kak Ida .

Saya : ” Alternatif lain kak? Gn. Guntur ?”

Kak Ida : ” Temanmu ada yg udah pernah kesana, len?”

Saya : ” belum ada kak, hmm, jadi gimana kak? ”

Kak Ida : ” kalau dipending jd awal juli gmn? kelamaan ya, hehe ”

What? Awal Juli? Pleaaseee, saya gak mau digorok kawan yang lagi pada giroh nanjak. Ga kebayang gimana raut mukanya Erlisa yang udah bela-belain beli carrier dan ngumumin ke seluruh penghuni rumahnya. Dan akhirnya tercetuslah ide….

Continue reading