Mie Rebus Memorable di Curug Cibereum

Saya sempat menghadapi writer’s block, tapi ga gitu juga sih, saya masih bisa menuliskan catatan perjalanan ini meski memakan waktu hampir 3 tahun, hanya saja saya bingung hendak memberi judul apa, hingga kemudian ketika saya bertanya pada Lia Hastien tentang trip ini serta merta ia mengungkapkan rasa mie rebus yang disantap kala break waktu itu terasa enak.

Sebenarnya awalnya saya hendak memberi judul ‘Piknik Cantik’, tapi apa daya waktu itu tripnya ga cantik-cantik amat, tidurnya numpang di masjid, transportnya carter angkot, makannya di pinggir jalan, satu-satunya yang membikin cantik karena tanpa sadar warna jilbab kami kali itu tanpa disadari senada meski samasekali ga pernah janjian. Ya sudahlah, mari kita mulai. \m/

Semua berawal dari requestnya Ika kala itu, yang meminta kesempatan diajak ngebolang. Karena ini merupakan permulaan, saya pikir harus cari destinasi yang tak terlalu jauh dari Jakarta. Selain cari hemat, agak susah kalau mencari tempat-tempat yang jauh yang mengharuskan kami mengajukan cuti kerja. Selain itu, pertimbangan tempat yang tetap bernuansa alam namun tak membutuhkan persiapan peralatan yang terlalu banyak. Akhirnya diputuskanlah Curug Cibereum yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, yang tempatnya dekat, alam banget, view gunungnya masih bisa didapat. Setelahnya, saya mengajak Lia yang sebenarnya juga diajak Ika, lalu 2 orang tambahan yang diajak Ika yang belakangan kami ketahui bernama Irma dan Mayta. Setelah urusan rombongan siap, dijanjikanlah kami akan bertemu di Terminal Kampung Rambutan.

Continue reading Mie Rebus Memorable di Curug Cibereum

Membumi Bukan Melangit di 0 MDPL Garut

Di bagian itu, Kugy dan Keenan akhirnya berkesempatan untuk merendam kaki mereka dalam air laut, di atas pasir pecahan kerang berwarna krim kekuningan. Ratusan anak ombak berkilau perak ditimpa sinar bulan. Karang-karang kecil bermunculan, tampak mengilap disepuh buih ombak. Selain mereka berdua, tak ada lagi orang di sana.

Oke, dua penggal paragraph di atas sudah cukup melukiskan buku apa yang sedang saya kulik. Teracuni dengan kisah cinta mereka yang super unyu menurut saya, membuat saya mengkhatamkan semua hal berbau Perahu Kertas karya Dee Lestari itu. Mulai dari novel, film, soundtrack, bahkan lagu instrumental backsound filmnya pun saya koleksi. Hingga akhirnya, sebagai agen neptunus yang baik di pergantian tahun pun saya ikut-ikutan ngetrip ke pantai sebagai bagian dari agenda mengunjungi markas. Saking korban filmnya, Rancabuaya pun dimasukkan dalam agenda saya di penghujung tahun 2013 lalu.
Menjelang Akhir Desember 2013,

Continue reading Membumi Bukan Melangit di 0 MDPL Garut

Gunung Merbabu , It’s not About The Highest Peak But Friendship

Suatu ketika di Argopuro

“Eh ini tempat makannya siapa? Mas Andreas ya?”

“Iya Len, kamu bawa aja. Buatmu aja.”

“Jangan, oiya bulan depan Leni mau ke Merbabu, bisa sekalian ketemuan sambil balikin ya? Sama Mas Eko juga.”

“Wah iya kalau gitu.”

para tersangka utama di catper kali ini
para tersangka utama di catper kali ini

Continue reading Gunung Merbabu , It’s not About The Highest Peak But Friendship

Pendakian Gunung Argopuro ; What A Long and Winding Road

Satu momen di Gunung Cikuray, saat beristirahat di pos 3.

“ Iya, Argopuro tuh, Leuser-nya Jawa.”

“Leuser? Maksudnya kak?”

“Iya, trek terpanjang di pulau Jawa.”

Maka sepulang trip itu, saya pulang dengan pemahaman untuk lebih membuka mata tentang gunung-gunung di Indonesia.

Hingga akhirnya, kesempatan itu muncul, datang dari sebuah updatean kak Anggi di FB. Yap, kalau Cikuray dulu karena twitter, kali ini lewat FB. Generasi jaman sekarang banget saya -_-

Continue reading Pendakian Gunung Argopuro ; What A Long and Winding Road

16 Juli Ini ; antara 19, Aku dan Kamu Nanti

Kemarin lalu, genap sudah 19 tahun lalu mama meregang nyawa, melahirkan anak pertamanya yang masih kadang sangat kekanak-kanakan hingga kini. Banyak hal yang berkelebat di kepala menghadapi pertambahan bilangan usia dan pengurangan jatah hidup ini.

Betapa hidup telah berjalan begitu cepat, hingga kadang aku tak sadar banyak hal ajaib yang telah kulewati. Dan kali ini, aku menulis untukmu, untuk kalian, makhluk bermata indah yang kelak akan ke luar dari rahimku, sebagai catatan bahwa ibumu pernah muda dan sering gamang, terlepas keberadaan tulisan ini akan sampai pada kalian atau tidak.

Continue reading 16 Juli Ini ; antara 19, Aku dan Kamu Nanti

Bukber RPS : Setahun Tentang Kita

Jakarta, Ahad pagi 13 Juli 2013

Pagi hendak menjelang. Mengantarkan kegugupan saya pada tugas statistik dan lab Akun. yang masih menunggu diselesaikan. Masih gamang dengan penyelesaian tugas, ternyata saya diharuskan untuk ikut ke pasar bersama Encing, guna membeli logistik acara kami sore itu. Dan baiknya saya hanya membahas bukber saja, bukan tugas karena khawatir kalau diteruskan tambah galau -_-‘ pffft  Acara yang tergagas lewat pertemuan-pertemuan siling kami, lewat grup chat di FB yang lumayan bikin geleng-geleng kepala kalau intermezzonya muncul dan lumayan bakal bikin senyum-senyum sendiri kala mengingatnya beberapa tahun nanti.

Continue reading Bukber RPS : Setahun Tentang Kita

Film Korea : My Way ; Sebuah Pengingat

Awal film bercerita tentang persaingan dua orang anak beda kebangsaan dan beda kasta, Korea dan Jepang yang saling bersaing prestasi dalam hal lari marathon. Hasegawa Tatsuo dan Kim Jun Shik. Persaingan dan dendam atas kematian kakek Tatsuo membuat hubungan mereka berubah. Nasib membawa Jun Shik menjadi seorang penarik becak khas Jepang, sedangkan Tatsuo tumbuh menjadi kalangan bangsawan  yang hidup serba kecukupan. Sayembara ujicoba olimpiade mempertemukan mereka kembali dalam persaingan marathon. Kemenangan jatuh pada Jun-Shik, namun karena konspirasi juri memutuskan Tatsuolah yang menang. Protes, sebagian imigran Korea yang memihak pada Jun-Shik membuat sebagian di antara mereka diharuskan mengabdi menjadi tentara Jepang.

Continue reading Film Korea : My Way ; Sebuah Pengingat

Apa yang Kauperlukan

kamu hanya butuh hati yang selalu menebal tekad. meski terkadang lelah, jenuh. kamu tahu, kamu akan memiliki musim semimu sendiri.

saat di mana kau hanya mampu tersenyum di bangku taman, karena seluruh anggota tubuhmu yang lain terlalu enggan digerakkan akibat dinginnya angin yang senantiasa berhembus. lalu kau menatap penuh haru pada lembaran-lembaran penuh warna, seraya mengucap : ” mama, semua ini berkat doamu yang senantiasa memenuhi langit malam.” lalu kau mengambil kamera yang terdiam, tergeletak di sampingmu. kaupun mengambil gambar, yang akan kaukirim untuk sahabat terbaikmu, ia yang selalu menyediakan bahunya ketika kau menangis, ia yang selalu mendoakanmu saat kau menceritakan impian-impian anehmu dan ia yang mampu membuatmu menangis saat kau mengenang genggaman tangannya, senyum jenakanya, tingkah lucunya, ataupun sekadar nasihatnya kala kau terpuruk.

dan kau akan menyadari, semua hal yang membuatmu berkali-kali jatuh tersungkur, kelak kau akan syukuri karena itu membuatmu lebih tangguh.

teruntuk dua orang perempuan, yang selalu lekat di hati sampai kapanpun. amat lekat.

Endapan Kenangan

dalam beperjalanan, terkadang hati ini kelu untuk memulai berkata. karena mata terlalu sibuk untuk menangkap keindahan yang tersaji. maka ketika pulang, ketika imaji yang berhasil tertangkap oleh mata mulai mengendap menjadi kenangan, mulailah hati ini riuh mengurai kata. menyampaikan rindu pada dataran tinggi itu, pada dinginnya, pada tanah yang selalu ramah menyediakan tempatnya untukku duduk melepas lelah, pada langit malamnya yang mendekatkanku pada gemintang dan pada celetukan riuh kawan saat melangkah.

hingga jemari ini menari di atas keyboard, kenangan itu mengendap, semakin menguatkan rasa rindu. hingga nanti, kan kukabarkan pada mereka yang bermata jeli, mereka yang selalu antusias mendengar cerita-ceritaku, kan kudengungkan cerita ini.

 

cikuray

Kamu yang Genggaman Tangannya Terasa Menentramkan

Masih ingat di benakku momen 4 tahun yang lalu. Di aula SMKN 8 Jakarta, aku menengok ke arahmu yang duduk di barisan belakang peserta MOS, mengajukan ide untuk yel-yel kelas kita. Saat itu, aku tak tahu akan ada benang halus yang akan mengikat kita dalam perasaan melankolis ini. Hari berganti, semesta kembali berupaya mendekatkan kita. Di kelas kamu pindah duduk di bangku belakangku. Dan dimulailah persahabatan kita yang manis itu.

Begitu banyak hal yang mengesankan ada pada dirimu. Bahumu yang selalu sedia menyangga pipiku kala aku menangis di sekre, tanganmu yang selalu nyaman kugenggam saat aku menahan haru kala sertijab, kamu yang menenangkan diriku yang menangis cengeng saat sanlat terakhir kita, senyum jenakamu setiap melambaikan tangan dari jendela bus pada anak-anak di luar sana kala kita bepergian, kesediaanmu untuk menemaniku memotong batangan bambu yang mulai bertandang di musolah, hingga sekadar berkeliling sekolah demi mencari kain pel. Kamu, yang selalu bersedia menggenggam tanganku, memelukku saat airmata membanjir, menyempatkan waktu untuk tetap bersamaku di kala yang lain mulai menjauh dengan alasan-alasannya. Kau masih ingat itu kawan?

Continue reading Kamu yang Genggaman Tangannya Terasa Menentramkan

Jangan Dulu

Papandayan

hey kamu yang selalu menemani. jangan rewel ya, kan kuajak kamu ke berbagai tempat. landai, curam, tandus, becek, terik, dingin, mulus, berbatu, bersih, berlumpur, tropis dan insyallah subtropis. atau mungkin bahkan di area ujung sana. mari saling menguatkan. jangan mudah menyerah, kalau lelah, bilang padaku. kita akan berhenti sejenak, lalu berangkat melangkah lagi. kita punya misi penting, menjejak berbagai tempat, demi makhluk-makhluk bermata indah itu. mereka pasti akan antusias mendengar petualangan kita. bisakah kaubayangkan mereka yang berebutan tempat demi mencapai tempat terbaik untuk mendengar cerita-cerita kita? mereka mungkin akan agak sedikit rusuh, tapi saat melihat pancaran mata mereka yang berbinar karena antusias, itu akan menentramkan hati. kumohon, jadilah partner menjejakku yang baik. setidaknya, hingga ada cerita-cerita hebat yang bisa kubagi dengan makhluk-makhluk itu. setelah bercerita, kamu boleh minta pensiun. kamu boleh rematik, asam urat, dan yang lainnya. tapi sebelum itu, jangan dulu. kamu mau kan, kaki? 🙂

Gunung Cikuray : When Ur Knee Met Ur Head

Masih seminggu lagi hari yang dinanti tiba. Tapi saya masih saja gamang dengan tempat tujuan nanjak bersama kawan Rohis Periode Sekarang ( RPS ). Duh bagaimanalah ini? Booking Gn. Gede tak lagi menerbitkan harapan sedikitpun, pasrah, karena fullbooking untuk tanggal yang kami ajukan. Makin gamanglah saya ketika mengoordinasikan ini dengan kak Ida .

Saya : ” Alternatif lain kak? Gn. Guntur ?”

Kak Ida : ” Temanmu ada yg udah pernah kesana, len?”

Saya : ” belum ada kak, hmm, jadi gimana kak? ”

Kak Ida : ” kalau dipending jd awal juli gmn? kelamaan ya, hehe ”

What? Awal Juli? Pleaaseee, saya gak mau digorok kawan yang lagi pada giroh nanjak. Ga kebayang gimana raut mukanya Erlisa yang udah bela-belain beli carrier dan ngumumin ke seluruh penghuni rumahnya. Dan akhirnya tercetuslah ide….

Continue reading Gunung Cikuray : When Ur Knee Met Ur Head