Kertas Waktu

Cikuray, 2.818mdpl

Pagi masih terlalu dini untuk datang menyapa dunia. Hanya seberkas warna orange yang muncul di langit bagian timur. Embun masih setia menempel di permukaan flysheet, sambil sesekali satu-dua bulirnya jatuh menerpa tanah. Udara masih terlalu dingin, aku merapatkan jaket polar sambil membetulkan letak topi kupluk yang menempel di kepala.

“Kamu tahu? 26 Mei 6 tahun yang lalu, masih dengan jaket polar yang ini, tepat beberapa langkah di depan tenda kita ini aku melakukan salat subuh sambil duduk karena terlalu banyak pendaki yang menunggu sunrise.”

Lawan bicaraku masih saja sibuk mengatur nyala api dari trangia.

Continue reading “Kertas Waktu”

Advertisements

Amplop Penyebab Mulas

Hari menjelang sore. Aku masih saja terpaku pada scanner di kamar, mempersiapkan berkas untuk Erasmus Mundus hingga nada dering hp yang membuatku mengentikan sejenak aktivitas. Nama kontak ” 2745926 ” muncul di layar hp.

Len, besok usai wisuda saya mau ketemu. Jangan pulang dulu.

Dengan dahi berkerut, kukirimkan sms jawaban dan kulanjut aktivitas sore itu. Ya. aku harus mempersiapkan semua dokumen untuk seleksi beasiswa EPOG dari Erasmus Mundus. Besok, genaplah sudah semua waktu persiapanku. Sudah empat tahun aku merencanakan ini. Dan dengan wisuda besok,  berarti hanya tinggal persyaratan ijazah S1 yang belum kulengkapi.

Continue reading “Amplop Penyebab Mulas”

Reuni Kecil

Bonn, Juli 2018

Yaa, dengarlah sayangku, aku mohon kau menikah denganku

ya, hiduplah denganku..

Belum usai Glenn Fredly menyanyikan bagian reff lagunya, mendadak hpku bergetar dan menghentikan playlist. Ada sms masuk rupanya. Sejenak aktivitas menghabiskan bekal sandwich kuhentikan. Sebuah nama kontak muncul. “ak1_rinda”

Len, jadi ketemuan kan? Jemput gue besok di Trudering jam 9

Dengan senyum sumringah, kubalas sms itu. Dan selanjutnya, benakku memutar kenangan lagu yang kini mulai terdengar kembali lewat headset di telinga.

Continue reading “Reuni Kecil”

Hadiah di Ketinggian

Aku masih berjalan di belakangmu, tertatih mengikuti langkahmu yang panjang

Sejenak aku menghentikan langkah, mencoba membetulkan posisi tas carrier yang mulai terasa berat karena jalan yang menanjak

Kaupun menengok, tersenyum melihatku

Dan seperti biasa, senyum hangatmu muncul melihat tingkahku

Perlahan, kau mengulurkan tangan agar aku bisa mempercepat langkahku

Segera, kupompa semangat agar kita cepat tiba

Lima belas langkah berikutnya, kita berhenti. Tepat di ketinggian 2622mdpl, kau memekik riang

“ Lenii, ini hadiah ulang tahun pernikahan kita… “

Aku? Hanya sibuk mengusap mata yang perlahan mulai basah