Hikayat Dapur yang Tak Hanya Sekadar Perut


Laksana semesta berkonspirasi, hari ini saya mendarat pada postingan-postingan di medsos mengenai kegiatan memasak sendiri. Meski perdebatan mengenai urgensi bisa-tidaknya seorang perempuan memasak dalam sebuah rumahtangga, saya kali ini mencoba memandang kegiatan masak-memasak dari sisi seninya. Karena saya mempercayai pendapat yang menyatakan setiap kegiatan di dunia ini meski bukan menghasilkan karya seni layaknya kriya-kriya hasil tangan manusia lainnya, setiap kegiatan pasti memerlukan teknik, metode, serta siasat maupun cerita dalam setiap perjalanannya.

Apalagi setelah menonton sebuah episode acara Lokalvora DaaiTv, yang mengisahkan warung makan sederhana berkonsep organik, menggunakan bahan-bahan yang ditanam di halaman sendiri atau sayuran lokal hasil masyarakat sekitar. Dari episode tersebut saya menyimak bagaimana makanan memiliki kisah yang panjang, dari pengalaman hidup sang penutur, kaitan sejarah makanan yang disediakan petani dan rakyat saat zaman perang, juga tentang pandangan berkebun di halaman sendiri sebagai upaya bertahan hidup saat dunia yang makin rusak karena ulah kita sendiri mencemari lingkungan, upaya masak sebagai survival karena kelak jika dunia kian rusak dan manusia tak ada lagi yang mau jadi petani, kita masih bisa menanam dan memasak sendiri, karena toh kita tak handal-handal amat dalam berenang dan menangkap ikan di laut.


Ini episode yang saya maksud

 

Postingan yang bikin saya mengamini : “mikir masak apa hari ini tuh beneranĀ  Ā bikin pusing juga ya,” haha

Hari ini, genap 5 hari saya menyiapkan bekal makan siang tak hanya untuk diri sendiri. Setiap pagi saya janjian bertemu dengan seseorang di jembatan halte TransJakarta dan mengangsurkan tas kecil berisi bekal makan siang. Rutinitas sepele tapi nyatanya tak sesepele itu.

Biasanya saya membawa bekal apa saja yang mama masak di rumah. Andai di suatu pagi yang sudah siap saat hendak berangkat kerja hanya nasi dan tahu goreng, saya tetap ambil dan menyiasati dengan membeli lauk tambahan di warung sekitaran kantor. Namun meski hanya membeli lauk tambahan seperti yang biasa saya beli, toh tetap mahal kalau dihitung-hitung. Sebungkus tumisan usus Rp 3.000, itu di lapak nasi warteg yang paling murah. Sepotong ayam goreng Rp 7.000, telur balado dadar Rp 4.000, atau jika saya ingin menambah capcay karena lapak biasa tidak menjual capcay, saya mesti membeli di lapak lainnya seharga Rp 5.000 yang rasanya biasa-biasa saja. Mungkin nominal ini tak seberapa, tapi bagi saya yang sepulang kerja biasa mampir ke Pasar Mampang dan pulang dengan seikat besar sawi seharga Rp 5.000 yang jika dimasak niscaya hasilnya sepenggorengan penuh, otak saya jadi sibuk berhitung.

Selain karena sisi perduitan, bekal masak siang juga menghindarkan saya berpusing-pusing hendak beli makan apa hari ini, atau terjebak pada satu menu makanan ‘pilihan aman’ yang sama setiap hari. Apapun masakan yang ada di kotak bekal, harus saya telan. Karena terkadang, terlalu banyak pilihan pun bukan sebuah kebebasan. Dan juga karena ada amandel yang bersarang di tenggorokan, maka saya tak bisa setiap hari jajan makanan yang sudah pasti mengandung MSG maupun bahan-bahan lainnya yang pembeli pasti tak ketahui.

Pandangan ini erat dengan suasana di rumah saya sejak kecil, mama tak mengagungkan jajan di luar karena tiap saya ingin ngemil ya makan nasi. Sekeluarga besar pun begitu, kalau piknik ya bawa bekal, meski saat dimakan nasinya sudah dingin, huhu. Maka saya besar dengan pandangan ‘orang dapur’, saat saya ingin mencoba spaghetti ya masak sendiri, mau makan macaroni schotel ya bikin sendiri di rumah. Yah antara kreatif dan kere memang beda-beda tipis sih, ehe.

Meski saya sekarang sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, saya tetap menjunjung tinggi kegiatan masak sendiri di rumah. Untuk urusan jajan, saya enggan mengeluarkan uang untuk nongkrong cantik di tempat makan yang photogenic. Kegiatan paling impulsif bagi saya adalah beli nasi padang atau pecel lele pinggir jalan, karena di otak saya selalu tertera rumus : ‘duit segini kalau dibeliin sayuran dan bahan-bahan buat masak sendiri udah jadi sepenggorengan nih’.

Apalagi dengan menjamurnya urban garden, hidroponik, berkebun di rumah, saya selalu ngiler melihat foto-foto sawi hijau atau kangkung yang ditanam sendiri, membayangkan pasti segar memasak sayuran yang habis dipanen oleh tangan sendiri, dan dimasak saat sedang segar-segarnya. Atau membayangkan menangkap ikan di kolam sendiri untuk kemudian digoreng dan disantap saat daging ikannya sedang manis-manisnya.

Seperti yang sering dibicarakan bang Adri dalam podcastnya, jauh di lubuk hati saya membayangkan hari tua memberi makan ikan di kolam sendiri, atau sibuk ‘ngempanin’ ayam, heuheuheu.

Karena saat ini keadaan belum memungkinkan saya bercocok tanam atau beternak di rumah, saya memilih jalan memasak bekal makan siang sendiri. Seminggu ini saya menyiapkan 2 bekal, untuk saya dan seseorang yang juga mengeluh betapa borosnya pengeluaran makan siang di Jakarta. Maka jadilah saya harus merelakan waktu tidur yang rasanya selalu kurang itu untuk bersegera bangun dan merajang bahan-bahan seraya membagi tugas dengan mama siapa yang mengulek bumbu dan siapa yang menumis. Sepele, tapi rasanya lumayan berat juga ya. Saya juga harus cermat mengatur menu, karena tak mungkin membekali seseorang hanya dengan nasi dan omelet mie seperti saat saya menyiapkan bekal hanya untuk diri sendiri.

Mengatur waktu, mengatur menu, mengatur budget, hingga memilah-milah bahan masakan di pasar rasanya butuh kemahiran, sebagaimana tak semua perempuan pandai memilih buah yang manis saat berbelanja, huhu. Memasak seperti seni, di mana kondisi ekonomi, kebiasaan hidup, lokasi geografis, atau bahkan periode waktu turut berpengaruh dan semua bercampur hingga menjadi cerita yang mampu menimbulkan rasa rindu bagi sesiapa yang jauh dari rumah lalu kangen masakan rumah, atau kenangan memakan tumbuhan tak lazim karena kesulitan dan keterbatasan keadaan.

Pelan-pelan, saya kagum dengan setiap ibu-ibu yang setia untuk terus selalu bangun pagi dan memasakkan makanan untuk seisi rumah, atau para ayah yang justru jago memasak dan rasa masakannya tiada yang mampu menandingi.

Ah menyiapkan bekal untuk makan siang saja rasanya tak semudah yang dikira, saya membayangkan belum ada apa-apanya saat kelak berumahtangga nanti yang mesti menyiapkan masakan untuk seisi rumah terus-menerus bukan hanya untuk manusia dewasa namun juga untuk manusia kecil yang makannya harus serba terjaga.

Advertisements

4 thoughts on “Hikayat Dapur yang Tak Hanya Sekadar Perut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s