Momong Ponakan di Museum Gajah & Kota Tua


momong ponakan di museum gajah & kota tua

Jakarta, 10 Desember 2016

Sejak pagi saya telah bersiap menguleni adonan roti untuk bekal piknik hari itu. Roti terpanggang, makanan siap, bersegeralah saya menjemput Rahma. Setelah bertemu, kami menuju halte bus transjakarta Ragunan. Motor telah terparkir, bersegeralah kami menuju tempat pertama yang ingin kami kunjungi : Museum Gajah. Tempat ini dipilih karena saya pernah menceritakan kegiatan Akhir Pekan di Museum yang beberapa kali sempat saya ikuti. Dengan kesan-kesan dongeng yang ditampilkan di museum tersebut yang sebenarnya menyasar usia anak-anak nyatanya malah membuat saya berbinar-binar, Rahma pun sukses penasaran dan menagih janji kapan saya bisa membawanya mengunjungi museum. Ditambah, dengan ketidaktahuannya apa itu patung, apa itu stupa, ku merasa sedih anak-anak jaman sekarang dengan segala kemudahan teknologi masa ga pernah tau atau minimal diajak ngeliat hal-hal edukatif gini siiih T_T

Menjelang siang kami tiba di halte busway Museum Nasional, kemudian bergegas memasuki bangunan museum yang berjarak beberapa langkah dari halte busway tersebut. Saat itu, di halaman museum tangah terparkir sepotong badan pesawat yang ramai dikerubungi anak kecil. Entah sedang ada event apa, karena di sebelah kanan halaman museum juga terparkir sebentuk perahu namun tak begitu banyak diminati pengunjung museum. Saat tengah mengantre giliran masuk, rombongan anak SD samar-samar berteriak “gak bisa bahasa Indonesia, gak bisa bahasa Indonesia.” Setelahnya seseorang berparas oriental mengenakan jas dan menenteng tas laptop menghampiri saya. Dengan penuh kebingungan, rupanya mas-mas ini turis yang minta difoto bersama anak-anak itu. Feeling saya sih turis masih wilayah Melayu, karena di akhir kalimat berbahasa Inggrisnya samar-samar saya tangkap ada imbuhan ‘lah-nya’.

Kelar sang turis berfoto, rombongan SD perlahan bubar dan saya berkesempatan memasuki bangunan pesawat dengan bebas. Horeeee~

Di dalamnya terdiri dari ruangan kokpit dan beberapa baris kursi penumpang. Duh, ini pasti kalau ngajak bocah-bocah batita senengnya bukan main, karena menarik bangeeet.

Hari itu bertepatan pula dengan Festival Pembaca Indonesia. Namun karena tengah membawa anak kecil begini, gak mungkinlah saya memaksakan kehendak nongkrongin talkshow atau merhatiin tiap stand buku yang ada. Saat tengah berusaha memfotokan Rahma dengan presisi, muncul dua orang mbak-mbak yang salah satunya berkata : “Bund, boleh minta tolong difotoin? Nanti gantian.”

Oke, ku dikira emaknya Rahma -_-

Karena rasanya Rahma tak begitu antusias dengan keramaian hari itu, saya mengajaknya mendatangi ruangan lain untuk melihat-lihat sambil bercerita mengenai benda-benda di museum sebisa saya.

stand ngebatik
stand gamelan, seru banget nih kalo bisa nyicip belajar maininnya
rombongan TK yang takut-takut masuk ke bagian manusia gua
entah mengapa Rahma minta difotoin di sini

Setelah ruangan  bertemakan teknologi ini sebenarnya kami ke lantai atas, menjumpai ruangan berisi perhiasan dan keramik. Namun sayang tak bisa dimuat karena dilarang mengambil foto di ruangan ini.

Dan tibalah kami di halaman tengah museum yang selalu saya namakan : ditaburi patung dan batu. ehehe

Akhirnyaa Rahma bisa lihat dan tau patung, stupa dan arca itu kek apa. ehehe

Gatau sih, mungkin dia tau dari pelajaran sekolah, tapi tidak benar-benar membekas di kepala kalau dibandingkan dia melihat sendiri bentuknya seperti apa.

arca-nya super gedeeeee

Arca Bhairawa ini spesial buat saya, karena dulu pernah mendengar penjelasan dari guide museum bahwa inilah sebentuk contoh pergaulan bebas di masa lampau. Dikisahkan dilakukan ritual meminum darah, mabuk-mabukan, dan kegiatan party-party lainnya. Keingintahuan yang mendaratkan saya pada sebuah artikel historia yang ini. Dan ngenesnya, meski ini patung tinggi dan gede banget, tapi di bagian lutut ke bawahnya licin karena dulu disangka petani batu biasa dan dipakai untuk mengasah parang atau goloknya. Antara ngejleb prihatin dan konyol sih dengernya, hehehe.

Dirasa lelah dan lapar, kami memutuskan untuk mencari lapak di halaman depan museum sembari memakan bekal yang disiapkan dari rumah.

why Museum Nasional used to be called Museum Gajah

Karena waktu masih siang dan saya sebagai anggota paguyuban pantang pulang masih terang, wkwkwk, saya mengajak Rahma ke kawasan Kota Tua. Bersegeralah kami menuju halte busway, dan mencari rute halte Kota.

Dan karena sedari dulu saat mengunjungi area Kota Tua ini saya selalu kesorean, ketika masih bisa memasuki Museum Fatahillah ini saya merasa wow hingga akhirnya pengen koprol, ehehehe. Saya akan coba tulis berdasarkan keterangan dari foto-foto yang sempat diabadikan, untuk kemudian ditelaah alasan mengapa saya merasa takjub.

diorama pertempuran

Selain dulunya dipakai sebagai kantor pemerintahan, dulunya di sini juga digunakan sebagai dewan pengadilan, yang mana proses pengadilan, penjara, maupun eksekusi matinya pun juga dilaksanakan di sini. Badan makin merinding manakala melihat pedang yang dipajang yang dulunya dipakai untuk mengeksekusi. Ga kebayang udah berapa nyawa melayang karena ayunan pedang tersebut 😦

perabot buat eksekusi lainnya

Museum Taman Prasasasti yang dulunya disebut kuburan Belanda. Cerita di baliknya menarik, kalau penasaran dateng aja dan baca sendiri :P. Tapi yang jelas, saya penasaran dengan tempat yang satu ini karena terdapat prasasti bertuliskan namanya Soe Hok Gie di Taman Prasasti sebagaimana review lengkapnya ada di tulisan ini. Dan saya makin terkesima begitu liat lukisan jaman dulunya Museum Taman Prasasti ini artsyyy banget ada di sini, ehehe. Ada jalan setapak dikelilingi pohon dan patung ‘selamat datang’ seperti yang digambarkan di lukisan ini.

Tak lupa, dipamerkan benda-benda wah, sebagai simbol kemewahan dan kekuasaan jaman dahulu.

salah satu ukiran kepala medusa di kayu pembatas ruangan gitu. saking penasaran saya foto tersendiri, hehehe
cermin besar yang selalu laris dibuat pengunjung foto selfie. macem saya ini, belum kelar udah ditungguin. hhhh
teralis jendela, tak lupa dengan pose ala-ala di jeruji penjara. huhuhu
sudut berjendela dengan pemandangan genteng yang selalu saya suka
sudut tangga antar ruangan yang diam-diam saya perhatikan karena saya penasaran gimana alurnya. sayang ga boleh dimasuki

Karena nama lain Museum Fatahillah ini adalah Museum Sejarah Jakarta, maka semua hal tentang Jakarta ya masuk di sini. Termasuk adanya miniatur galeon Portugis yang ternyata asal mula mereka dibolehkan mendirikan benteng di Sunda Kelapa, atau riwayat raja-raja Sunda yang setelah saya lihat-lihat oiya Jakarta ini terkait banget sama Pajajaran kan ya.

Setelah puas berkeliling, Rahma menarik saya untuk mengunjungi belakang bangunan, tempat adanya penjara bawah tanah. Begitu masuk ke penjara bawah tanah yang sepertinya jadi satu dengan saluran air, ditambah langit-langit yang rendah, beuh ga kuat saya. Kebayang betapa ngerinya dulu yang dipenjara di situ, juga betapa angkernya penjara bawah tanah tersebut sekarang, secara gelap, bau, lembab, air tergenang, karena khawatir maka saya tak berani foto-foto ruangannya, huhu.

tampak bangunan dari luar

Selain penjara bawah tanah yang jadi satu dengan saluran pembuangan, juga ada penjara lainnya di sepanjang sisi bangunan, diteralis rangkap, tak lupa langit-langit rendah dan ruangan yang sempit. Dan mengingat itu dulunya penjara bahkan banyak memakan korban akibat ga ada wc-nya, saya pun masih ga berani foto-foto detail, cuma sekitaran luarannya aja.

Kemudian kami beranjak ke halaman belakang museum, terdapat kursi untuk duduk-duduk, kantin, dan musolah. Yang menarik perhatian, sesosok patung yang tengah berdiri menunjuk langit : Hermes.

lampu taman, bangku semen, dilatari tembok tanaman merambat dan gedung tua. sungguh spot foto yang ❤ ❤ ❤
pohon flamboyan yang meneduhkan
gerbang ke luar

Setelah ke luar Museum Fatahillah, tak lengkap rasanya kalau ga foto pose mainstream sejuta umat di depan gedung museum, ehe.

 

Advertisements

4 thoughts on “Momong Ponakan di Museum Gajah & Kota Tua”

  1. Saya dari dulu penasaran ih sama Kota Tua, efek karena sudah lama tidak ke Jakarta pula. Apa nunggu Jakarta sepi dulu, ya? Hahaha.

    Btw, kapan momong anak? #eh wkwkwkwk

  2. duh sedih ya anak zaman sekarang engga ngerti stupa. Mudah-mudahan kunjungan ke museum ini bikin mereka nagih untuk belajar lebih banyak sejarah ketimbang gadget-an melulu ya. Salam kenal Leni 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s