Constantly Akrab ke Bogor


Bepergian dengan seseorang, hanya akan menghasilkan dua hal : makin akrab atau makin ga akrab. Kali ini, cerita tentang makin akrabnya.

Pasar Minggu, 29 September 2016

Pagi-pagi saya sudah memarkirkan motor di stasiun Pasar Minggu ditemani Arra yang mestinya saya ajak dia bepergian sejak hari kemarin begitu sampai di Jakarta tapi batal karena berbagai drama yang penyebabnya adalah saya sendiri, ehehe. Selepas beli tiket, kami menaiki kereta komuter menuju stasiun Bogor, sebagaimana rencana kami hari ini untuk menghabiskan waktu mumpung Arra yang jauh-jauh dari Semarang lagi di Jakarta. Kira-kira satu jam kemudian, tibalah kami di Bogor. Karena sedari pagi gak nendang sarapan seadanya, saya mengajak Arra mencari pedagang soto mie Bogor yang saya ingat pernah mencicip yang enak di samping kantor PLN depan stasiun Bogor. Dan benar saja, masih ada pedagangnya, meski seingat saya dulu sih penjualnya bapak-bapak dan sotonya kurang gurih tak seperti yang dulu saya coba 😦 Saya pesan yang kuah bening, sementara Arra pesan yang kuah santan.

punya saya, kuahnya bening

 

punya Arra, kuah santan

Selesai sarapan, kami sejenak duduk di McD depan stasiun sambil nunggu Handay yang kabarnya akan datang menyusul kami. Dan karena saya penasaran dengan seblak depan stasiun yang teman sekelas di kampus merekomendasikan, saya mengusulkan untuk pesan seblak. Dan Handya-pun datang ketika saya dan Arra tengah mengerjap kepedasan. Pasukan komplit, kami lalu mencari angkot menuju BTM, arah menuju Curug Nangka.

Awalnya saya kira rute angkot akan seperti terakhir kali saya ke Bogor, ternyata dibuat memutar dan angkot berhenti di Jalan Suryakencana, jalan yang lumayan historis dan banyak jajanan khas Bogor-nya. Padahal saya pikir Jalan Suryakencana tuh di manaa, apalagi setelah baca postingan blognya Nugi yang ini, kan saya penasaran mau tahu itu di mana. Tapi ternyata masih searah BTM tooh, haha. Sepertinya sih sejak Istana Bogor dipakai presiden berkantor, makanya angkot jadi memutar lebih jauh.

Nah sampailah kami di Jalan Suryakencana ini yang abang angkotnya bilang kami ga bisa langsung turun di BTM, dituruninnya di sini. Karena saya ingat betapa huwownya Jalan Suryakencana ini, alih-alih kecewa karena diturunin ga sampai tujuan, saya malah bersemangat pengen tahu. Dan benar saja, begitu jalan kami langsung disambut gapura besar warna merah berhiaskan ornamen oriental.

welcome gate~

Karena seingat saya dulu tuh tiap ke Bogor ga pernah lihat gapura begini deh, saya tanya ke petugas keamanan yang posnya ada di dekat gapura. Beruntunglah, si bapak yang kami tanyai orangnya ramah dan mau menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Dari hasil tanya-tanya sekilas, memang Jalan Suryakencana dan kawasan sekitarnya ‘agak dirapikan’ sejak Istana Bogor dipakai kembali sebagai kantor kepresidenan. Dan terutama Jalan Suryakencana ini, ditata dan dipoles menjadi area wisata makanya ada gapura gede begitu. Dan ketika saya tanya tepatnya sejak tahun berapa ini gapura ada, bapak petugas keamanan lainnya menyahut : “Itu lihat tahunnya di belakang patung meong, ada tahunnya itu..”

Karena saya lupa tahunnya berapa, jadi yang ikutan penasaran silakan datang dan menengok untuk cari infonya di balik patung meongnya yaa 😀

Dan kata si bapak, kata ‘lawang’ yang ada di papan gapura itu artinya kota tua, jadi di Jalan Suryakencana ini kemungkinan dulunya area kota tua, seperti halnya kawasan-kawasan kota tua yang dimiliki kota-kota lainnya. Si bapak menginformasikan kalau di ujung Jalan Suryakencana ini ada bangunan tua, entah hotel atau sekadar bangunan biasa ku lupa, huhu. Merasa sudah mengantongi bekal info yang cukup, kami pun pamitan dan beranjak menuju vihara yang sedari tadi warna merahnya cukup menarik perhatian di mata.

 

Namanya Vihara Dhanagun, saat kami datang sepi tapi tungku pembakaran yang di halaman tengah menyala dan mengepulkan asap.

Ada seorang bapak di teras depan yang sedang makan menyuruh kami untuk masuk karena sedari tadi kami hanya foto-foto di halaman saja, namun karena merasa sungkan kami hanya mengangguk dan tersenyum. Tak berani masuk dan foto-foto sembarangan, apalagi di rumah ibadah orang lain. Padahal mah PENGEN BANGET masuk dan lihat, sekadar menambah wawasan keberagaman, tapi apa dayalah masih sungkan khawatir mengganggu. Mungkin di lain kesempatan bisa masuk dan mengenal rumah ibadah lainnya, semoga.

Di kedua sisi dinding bangunan, dilukis gambar-gambar yang salah satunya mengingatkan saya akan cerita perjalanan dalam mencari kitab suci.

saya-Arra-Handay

Ah ya, karena Arra ini tinggal di Semarang yang mana dekat dengan Jogja dan sering sekali bertemu dan ngumpul dengan kak Galuh, maka saya dan Arra khusus berfoto di rimbunan bambu di halaman vihara sebagai bukti kepada kak Galuh bahwa dua orang bermuka pipi semua ini benar-benar bertemu, yang mana kalau Arra sukses menutupi pipinya sementara saya malah membuka lebar-lebar pipi saya ke khalayak publik, huhu.

duo chubby

Merasa cukup berfoto-foto, kami lalu berjalan menyusuri Jalan Suryakencana. Tapi kami kali itu tak berjalan terlalu jauh mengeksplor karena cuaca demikian terik dan menyengat. Di tengah keramaian, Arra menghentikan langkah dan menawar buah nangka yang dijual seorang bapak tua. Uwow banget kan jajannya nangka, hahaha. Berbekal nangka tersebut, kami mencari angkot menuju Pura Jagatkarta. Begitu turun angkot dan sampai di gang Pura Jagatkarta berada, kami ragu karena hari sudah demikian sore dan pura pun tutup jam 3 sore. Kami mengalihkan rencana untuk pergi ke Curug Nangka saja tapi sebelumnya beristirahat dulu di masjid depan gang. Perut terasa lapar kembali, Handay membeli chicken yang setelahnya kami makan di teras masjid selepas salat.

Karena sebenarnya jarak antara pura dan Cunang tuh ga jauh-jauh amat, maka kami memutuskan berjalan kaki saja, menolak tawaran angkot yang kerapkali berhenti untuk menawarkan jasa. Tapi kalau dijalanin sih jauh juga sih, hahaha. Cuma ya karena dijalanin sambil bercanda, jadinya beban jalan kaki jauhnya berkurang sebagian.

padahal mah mayan jauhnya, haha
otw Cunang

Saat tiba di gang menuju Cunang, kami beristirahat dan membuka bekal yang tersisa : sedikit air dan nangka yang tadi dibeli Arra di. Beruntunglah di tas kecilnya Handay terdapat pisau lipat, maka urusan motong-motong nangka terpecahkan, haha.

Kelar mencicip nangka, kami lanjut berjalan menuju Cunang dengan kanan-kiri jalan berupa ladang sesekali diselingi rumah warga dan di kejauhan Gunung Salak dengan gagahnya berdiri meninju langit yang punggungnya masih berhias hutan hijau yang sangat rapat.

the scene I was told u before

Dan karena perkebunan itulah, mata saya dan Handay menangkap pohon singkong yang lumayan tinggi tumbuhnya, beda dari tinggi pohon singkong biasanya. Selain pohon singkongnya dilihat terasa aneh karena ada bunganya, juga saya dan Handay sibuk berdiskusi betapa enaknya daun singkong direbus yang dimakan bersama sambal dan nasi hangat, wkwk.

dua orang yang dari kejauhan terlihat begitu syahdu membicarakan sesuatu 😛

Lama berjalan kaki dan bercanda, sampailah kami di gerbang masuk Cunang. Setelah membayar tiket masuk di dua gerbang pos, kami memasuki area pohon pinus dan memanfaatkan kerapatan pohon untuk berfoto.

the best one captured by Arra, love it so much :3
Arra was hope for good things to come
Handay, looking for some good perspectives to go~
just found an interesting pine nut
ini sih lagi pada bercanda aja 😛
behind the scene, wkwk
ada paku di tubuhku

Begitu selesai foto-foto dan memasuki area warung, baru banget mau ke trek menuju curug,  turunlah hujan deras T_T

Maka kami mengungsi ke warung-warung, memesan dua mangkok mie rebus yang tertukar antara pesanan saya dan pesanan Handay, T_T serta menghabiskan nangka yang tersisa. Jadilah kami makan nangka di area Curug Nangka.

membersihkan nangka di warung sekitaran Curug Nangka~
kuteguk kopi dalam menunggu derasnya rindu yang tak kunjung reda~

Cukup lama kami di warung menunggu hujan yang tak kunjung reda, hingga langit berganti gelap menuju malam.

Begitu hujan reda, langsung kami pergunakan kesempatan tersebut untuk kembali berjalan kaki menyusuri jalan beraspal untuk menjangkau angkot, pulang.

Setibanya kembali di kereta komuter, kami hanya bisa cengar-cengir menahan lelah dan perut yang tak kunjung bergejolak yang rasa-rasanya kembung akibat sarapan makan soto nasinya sedikit, makan siang cuma fried chicken pinggir jalan, sorenya makan nangka pula, wkwk. Meski gagal ke pura, gagal ke curug pun, kami senang karena sepanjang perjalanan diisi celotehan bercandaan, bullyan dan curhatan. Tiba-tiba akrab dan dekat aja gitu padahal kami baru bertemu dan jalan bareng kali itu. Kenangan trip sehari ke Bogor yang ujungnya menimbulkan rasa haru dan kangen kala diingat-ingat kembali, hingga menimbulkan tanya di tiap kesempatan kala berbalas komentar di medsos untuk kapan kembali bertemu dan mengulang kisah perjalanan bersama kembali.

Advertisements

2 Replies to “Constantly Akrab ke Bogor”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s