Ngayogyakarta : in Search for A Love Beach, Sadranan


Ngayogyakarta (1)

..seorang lelaki, tengah memandangi pantulan air, tengah bersiap melompat menuju air. Kawannya yang lain, menunggu di tepian sembari bercengkrama dan tertawa riang. Hati pun siap, bersama seorang kawannya yang sama-sama menggunakan pakaian renang ia berhitung, lalu potongan adegan menampilkan riak air efek mereka meluncur menuju air. Menyentuh air yang dingin, muncullah potongan lagu yang berlirik :

This is the place where I’m going to

The place I’ll take you

To Sadranan beach of Jogjakarta

Impresi pertama dari lagu yang dipakai sebagai backsound video perjalanan Kelana Bersama, yang meski bukan berlatar pantai tapi danau, nyatanya membuat saya penasaran lagu siapa dan judulnya apa. Atas alunan merdu yang rasanya ingin membawa diri ini cepat-cepat menghamburkan diri di atas pasir pantai, membawa saya pada satu ketetapan hati : kalo ke Jogja, mesti nyari Sadranan!

Lalu muncullah Ika yang biasa dipanggil Kawe, mengirimkan pesan singkat di BBM “Len, mantai yuk.” Sebagai sesama agen Neptunus yang tergabung dalam solidaritas anak tunggal se-SMK 8 Jakarta *ahsek* request Kawe langsung saya sanggupi, dan otak pun langsung bekerja menyusun perencanaan untuk ke Jogja demi menuntaskan keingintahuan pantai Sadranan itu seperti apa sampai-sampai dijadikan inspirasi lagu yang bagus begitu. Maka bersegeralah saya mengumpulkan orang-orang yang sekiranya bisa menemani kami selama di Jogja. Pertama, saya berhasil membujuk kak Galuh, seorang yang saya kenal lewat grup whatsapp sebuah komunitas pendakian khusus perempuan. Lalu saya dengan sok-kenalnya mengajak kak Diah, orang yang saya kenal via tumblr yang sebelumnya sama sekali belum pernah bertemu, bahkan komen-komenan pun sekadarnya saja. Syukurlah, keduanya menyanggupi untuk memboncengi kami selama di Jogja. Nasib, mau ngebolang tapi berdua belum ada yang bisa ngendarain motor saat itu huhu. Setelah semua hal siap, berangkatlah kami berdua dari Jakarta menuju Jogja. Sebuah perjalanan pertama bersama Kawe yang pas sekolah di SMK dulu ga akrab-akrab amat tapi nyatanya perjalanan kami saat itu menimbulkan baper tiapkali mengingat kota Jogja.

Stasiun Pasar Senen, 12 Februari 2015

Saya dan Kawe janjian di stasiun, setelah sebelumnya Kawe yang ternyata ke sebuah mall di sekitaran stasiun yang saya lupa dan gatau namanya, ehe. Sekian lama menunggu, masuklah kami ke gerbong kereta. Kereta pun melaju, menembus udara malam Jakarta, membawa saya dan Kawe, sepasang anak tunggal yang kadang merasa sebegitu sentimentilnya merasakan kesamaan nasib. halah. Sepanjang perjalanan, Kawe begitu antusias karena inilah kali pertamanya berkereta jarak jauh dalam misi jalan-jalan. Sementara Kawe yang sibuk bertelepon dengan temannya, saya memilih menekuri buku Koala Kumal milik Kawe yang baru saja dibelinya sore tadi, sambil sesekali juga menguping dua gadis yang duduk di bangku depan kami, yang heboh berdua membicarakan kpop. Barulah ketika kelopak mata terasa berat, kami tertidur untuk menjelang pagi yang baru di Jogja.

Stasiun Lempuyangan, 13 Februari 2015

Kami tiba pagi hari, setelah berkabar dengan kak Galuh dan kak Diah yang masih dalam perjalanan, kami memutuskan sarapan nasi goreng di warung sekitaran stasiun. Lalu muncullah kak Galuh, kemudian kak Diah yang di footstep motornya telah nangkring dengan indahnya daypack penuh muatan lengkap dengan matrasnya. Kami lalu menuju kostan kak Galuh untuk sejenak beristirahat dan bersih-bersih.

Setibanya di kostan kak Galuh kami diajak sarapan lagi oleh Garnis, adiknya kak Galuh. Sembari membongkar keril untuk menyatukan dan merapikan bawaan, Kawe masih harus disibukkan dengan telepon dari kantornya dan sesekali mencatat sesuatu di kertas, huhu. Setelah semua siap, saya dan Kawe dengan sigap duduk manis di jok motornya kak Galuh dan kak Diah. hehe.

Everything runs smoothly, kami melintasi jalan raya menuju Gunung Kidul, beberapa kali bertanya jalan pada orang, lalu sampailah kami ke area pantai yang kanan-kirinya justru malah banyak sawah. Saya sempat bertanya ke kak Diah, “..kita mau ke pantai atau ke gunung sih? Kok banyak sawahnya?” Lalu menjelang tengah hari, gerimis mulai turun yang memaksa kami untuk berteduh. Maka berteduhlah kami, di pondokan pinggir jalan bersama pengendara motor lainnya.

Setelah hujan mereda, kami melanjutkan perjalanan kembali, dengan jalanan berkelok naik-turun yang sungguh mengocok perut.

Hari agak sore, sampailah kami pantai yang melihat plang namanya saja serta-merta membuat saya tersenyum lebar : Sadranan!

Lalu mengalunlah di telinga sebuah lagu Answer Sheet – A Love Beach Sadranan, dengan mata yang tak puas mengerjap betapa saya gembira telah sampai di tempat yang dari dulu hanya saya bayangkan hanya dari lirik lagu. Syukurlah, meski di perjalanan sempat hujan tetapi kami tiba di sana dengan sengatan matahari dan pantulan air laut yang tengah biru-birunya. Seolah tengah mendengungkan lirik lagu yang membawa rasa penasaran saya untuk sampai ke pantai ini.

The Sun is rising up from the ground

The sound of waves resonates through the air

The Blue Sky Beautifully appear

We were there holdin arms

You looked up on me, you smiled at me

You laughed and said, “i love you”

Untuk urusan menginap di pantai Sadranan ini, keamanan kendaraan cukup terjamin dengan lahan parkir yang cukup memfasilitasi, karcis parkir, serta helm yang bisa dititip di rumah tukang parkirnya menghindari hilang atau terkena hujan.

Setelah berfoto sebentar, kami lalu mencari lapak untuk mendirikan tenda demi mengantisipasi hujan turun lagi dan mengamankan bawaan.

Ke sebelah kanan pantai, setelah jejeran pondokan, ditemukanlah lapak yang cukup lapang. Setelah dikira-kira aman dari air laut ketika pasang, maka kami bangun tenda sekadarnya, hanya agar bisa menaruh bawaan, sembari memasak perbekalan agar lapar yang mendera segera menghilang.

Tenda belum rapi seberapa, turunlah hujan lagi T_T Maka gedubugan kami merapikan barang-barang yang masih berserakan. Ketika semua bawaan dan kami masuk dalam tenda, muncul masalah lagi : tendanya banjir, lapak tenda kami rupanya kena genangan air hujan T_T dengan penuh keterdesakan, maka kami berempat sepakat untuk menggotong tenda ke lapak berpasir yang meski ga solid untuk tenda, setidaknya aman dari air yang ‘ngembeng’. Setelah rempong pindahan, maka kami santap makanan yang keburu dingin itu, yang juga tercampur pasir, hahaha. Lepas urusan makan dan beberes tenda, mumpung baju juga basah akibat hujan-hujanan ngegotong tenda tadi, maka kami putuskan untuk langsung menghambur ke air laut. Berhubung sore, maka kondisi air laut cukup berombak. Ditambah dengan hujan yang masih turun, keruhlah pantai. Tak ceria bening merona seperti saat kami baru tiba tadi T_T

tenda kami, lengkap dengan jemuran
undakan berbatu di dekat lapak tenda, entah tempat apa. sayang dipalangi kayu, tanda tak boleh dimasuki

Kami pun main air, tanpa gaya-gaya renang semacamnya, asal berendem di air. Begitu jari tangan mulai mengkerut, badan mulai bosan kena air dan langit mulai gelap, barulah kami berhenti main air, heheheu. Kami memanfaatkan wc milik ibu warung di sekitar tenda. Selesai mandi dan berganti pakaian, tak lupa memesan mie rebus sebagai hasil dari kelaparan akibat kelamaan main air. Meski hanya semangkuk mie rebus, kami menyantapnya dengan pemandangan pantai di sore hari yang menawan itu.

mie rebus doang sih, tapi pemandangannya syahdu
saya dan Kawe, dua agen neptunus di senja itu

Kami menghabiskan waktu di pondokan itu hingga malam, demi memudahkan saat mengambil wudhu di wc warung dan lapak salat yang bersih. Saat itulah, muncul rombongan lain yang ternyata nenda di pantai juga. Salah satunya sempat menyapa kami dan mengatakan berasal dari Solo, cuma saya lupa namanya siapa -_-

Kira-kira setelah waktu isya, kami menuju tenda untuk beristirahat. Keadaan tenda yang basah, pasir banyak yang masuk, nyatanya tak bisa membuat kami beristirahat dengan nyenyak. Mungkin cuma kak Galuh yang langsung tertidur lelap. Sisanya saya, Kawe dan kak Diah kesulitan memejam karena tempat yang basah dan badan yang gatal-gatal, huhu.

Menjelang tengah malam setelah bolak-balik memainkan hp, saya makin gelisah karena hanya tinggal saya yang belum tidur. Dicoba memejam, nyatanya deburan ombak tak cukup menghanyutkan saya untuk terlelap. Malah sayup-sayup terdengar suara orang bercengkrama di pantai. Yakali tengah malem gini main air, mana sorenya hujan kan, mana enak pasir lagi basah malah lari-larian? Tapi ah sudahlah~~

Pantai Sadranan, 14 Februari 2015

Langit masih gelap, tidur pun belum begitu puas. Terdengar celotehan kak Galuh tentang bintang di langit. Dan sayapun ikut ke luar, meski akhirnya tak begitu tertarik memandangi karena udara dingin yang langsung menyergap tubuh.

Setelah kembali ke tenda untuk menyiapkan alat salat dan mental menaklukan dingin *halah* kami lalu bersiap menunggu subuh di pondokan.

Ketika langit mulai terang, segeralah kami membongkar perbekalan makanan untuk memasak sarapan rasa main masak-masakan karena anggotanya perempuan semua, huhuhu.

Semua bahan makanan yang sekiranya perlu untuk dihabiskan, kami olah hari itu. Termasuk kentang goreng milik Kawe yang dibelinya sesaat sebelum menaiki kereta, yang tadinya terasa sepat ternyata setelah dipanaskan jadi enak lagi \m/

semacam main masak-masakan pas kecil dulu, huhu
telur dadar yang dicampur sawi putih. ajaran dari mana cobak -_-‘ ehe
menu sarapan kami kala itu

Kelar urusan perut, kami bergegas packing untuk menuju tujuan kami main selanjutnya : Gunung Nglanggeraaan \m/

Medannya kira-kira masih sama dengan perjalanan ke pantai Sadranan, masih berkelok-kelok dan naik-turun. Beruntunglah kak Diah sudah pernah ke sini, jadi kami tak random-random amat sepanjang perjalanan ehehe.

welcome to~

Sesampainya di Nglanggeran, kami segera membayar karcis masuk lalu bertanya diperbolehkan tidaknya menitipkan tas. Ternyata boleeeh \m/ Karena bagaimanapun tangguhnya kami, kalau mesti bawa tas yang berisikan baju basah mah rasanya bakal payah juga, huhu -_-‘

Kami memulai pendakian di gunung yang meski ga tinggi-tinggi amat ini, tetap saja bikin nafas tersengal. Beruntunglah Nglanggeran cukup terfasilitasi dengan banyaknya papan petunjuk, pedagang minuman, tangga-tangga sederhana serta beberapa tali yang dipasang untuk memudahkan memijak.

banyak penunjuk arah
biar ga tergelincir~
perhatikan tulisan di papan kayu bawah~
jangan takut kehausan. tapi takut bokek karena jajan mulu bisa sih~~

Uniknya Nglanggeran ini, plang petunjuknya banyak dan beberapa malah berisi pesan-pesan yang agak nyeleneh tapi cukup berfaedah.

ini misalnya

Lalu sampailah kami di celah batu sempit yang sungguh menjadi trademark Nglanggeran ini, yang mengingatkan pada film 127 Hours.

Lorong Sumpitan

Ke luar dari lorong sempit batu ini, kami sampai di atas punggungan batuan terbuka yang cukup lapang. Dari ketinggian, terpampanglah lanskap alam yang seluruhnya hijau. Saya bertanya Jogja kota di mana, yang dijawab kak Galuh Jogja kota tak terlihat dari sini, hijau-hijau sejauh mata memandang adalah masih kawasan Gunung Kidul. Maka fixed-lah, Gunkid ini hijau sekali. Semoga seterusnya selalu begitu.

merangkak ke luar dari celah
hijau sampai ke ujung

Uniknya lagi, punggungan bukit batu di sebelah kami ini kalau dilihat-lihat seperti memunculkan motif belang-belang karena lumut yang menyelimuti permukaannya.

kebayang ga belang-belangnya?

Setelah rehat sebentar selepas ke luar dari Lorong Sumpitan ini, kami melanjutkan menuju puncak. Seperti biasa, plang-plang kayu berisikan motivasi masih menghiasi sepanjang jalan.

Berkat papan di atas saya jadi tahu kalau Nglanggeran bisa dipakai buat ngecamp juga, meski kami tak putuskan untuk mendirikan tenda demi menginap karena ditimbang-timbang akses air yang lumayan jauh.

mendekati area puncak, akan dijumpai plang nama seperti ini
lalu tangga kayu seperti ini

Hingga akhirnya kami tiba di punggungan terbuka seperti ini, dengan batuan besar berselimutkan lumut di beberapa bagiannya di seberang sana.

yang iconic juga dari Nglanggeran
saya, kak Diah, kak Galuh dan Kawe

Dari puncak sini, terlihatlah genangan hijau-hijau yang disebut Embung Nglanggeran. Meski dijelaskan kak Galuh dan kak Diah cuma danau biasa, saya dan Kawe tetap minta diantar ke sana setelah turun nanti demi menuntaskan rasa penasaran.

air hijau di kejauhan

Selain indah, di puncak ini juga panaaaaasss. Panasnya menyengat, yang bikin cokelatnya kak Galuh mencair yang lantas dipakaikan caption :

“leleh cokelat adek bang..”
dua anak ilang~
sisi puncak yang lainnya. di kejauhan terlihat punggungan bukit dengan pondokan, tapi karena udara sedang panas-panasnya tak sedikitpun terbersit niat kami untuk ke sana. ehehe

Tak betah dengan panas, kami pun menuruni puncak untuk mencari lapak menggelar kompor. Tak lupa, membully Kawe yang atas kekikukannya menuruni tangga kayu serta penampilannya yang ready-to-go sekali, kami menyebutnya turis banget. hahaha

kacamata hitam, jeans dan tas kecil yang lumayan stylish. turis sekali bukan, mengingat kami sedang di medan gunung begini 😛

..dan kamipun menggelar lapak, di bawah keteduhan pohon, menghabiskan semua logistik yang tersedia karena selepas ini kami akan kembali ke kota.

Selanjutnya kami mencari jalur turun, dan menjelang sore sampailah kami di rumah penduduk dengan plang nama di seberang jalan raya yang menandakan perjalanan kami berakhir di gunung Nglanggeran atau gunung api purba ini.

ekspresi yang tak perlu dibuat-buat demi foto karena begitulah adanya~

Dari tempat plang nama itu, kami berjalan ke depan tak berapa lama untuk mencapai pos pendaftaran tempat kami menitipkan bawaan. Di sepanjang jalan, terlihatlah persawahan yang menghijau yang uniknya terselip beberapa batuan besar di tengah-tengah lahan.
Sesampainya di pos pendaftaran, kami mengambil tas-tas kami dan bergiliran untuk salat. Setelah diperhatikan, ternyata pos pendaftaran ini tuh kantor karang taruna. Saya tanya ke kak Galuh dan kak Diah, desa-desa wisata di Jogja memang begitu, dikelola warga sendiri.

Baiknya para petugas di sini, kami diperbolehkan untuk menumpang salat di lantai 2, tempat kantornya berada.

Setelah selesai, kami menuju Embung Nglanggeran. Dari parkiran, terlihatlah bukit batuan yang masih menjadi serangkaian dari gunung Nglanggeran yang membuat saya teringat dengan pemandangan di Rammang-rammang Sulawesi sana. Karena dirasa cukup unik, maka saya dan kak Galuh memutuskan berfoto berlatarkan batuan karst tersebut sembari menggendong keril yang menggembung demi terlihat ciamik.

tampak belakang (keril)
tampak depan (muka kami)

Langit mulai terlihat mendung, kami tetap berangkat namun kak Diah memilih untuk tinggal di pos parkiran embung.

tangga semen
permukaan embung

Dari atas embung inilah, benar saja di bagian lain sekitar kami hujan mulai turun. Bukannya cepat-cepat balik ke parkiran, kami malah tetap tinggal untuk memfotokan hujan yang turun, ditandai dengan bagian putih yang terlihat menyelubungi tanah. Huwow kan, kapan lagi lihat hujan turun begini. ehe

Tak lama kemudian kami bergegas menuju parkiran, yang tak lama setibanya kami di sana hujan deras segera mengguyur area sana. Hujan disertai angin yang keras, membuat pos tempat berteduh tak ada yang aman dari air. Semuanya basah dan lantainya digenangi air. Untuk mengisi waktu, kami yang berempat telah berkumpul kembali ini melontarkan tebak-tebakan dan candaan mulai dari yang lurus hingga absurd. Mulai dari spek tenda, bulu mata Syahrini anti badai, film Rundown, hingga ketawa-ketiwi lainnya yang membuat perut jadi sakit dan rahang terasa kaku. Yah pokoknya paling berisik di antara pengunjung yang neduh lainnya lah -_-

Begitu hujan reda, kami bergegas pulang, ke kostannya kak Diah di daerah Gejayan sih.

Sesampainya di kostannya kak Diah, kak Galuh segera pamit untuk pulang, karena memang tak bisa menemani kami sampai hari terakhir saya dan Kawe di Jogja. Rencana yang tadinya mau langsung leyeh-leyeh terpaksa tertunda karena kondisi kostan yang mati lampu. Dan dodolnya di tengah kondisi gelap begitu, kami bertiga malah cerita-cerita mistis -_-

Setelah keadaan membaik, kak Diah dan saya membeli makan sambil mencari laundry express demi mengurangi beban bawaan yang berat karena baju basah dari Sadranan.

Saat malam, saya dan Kawe menempati kamarnya kak Diah yang syukurlah teman sekamarnya pun tak keberatan kami tempati.

Gejayan, 15 Februari 2015

Minggu pagi! Setelah mandi dan sarapan, kami menuju area UGM karena apalagi yang dicari di Jogja kalau bukan Sunday Morning-nya? Ehehe. Kawe berboncengan motornya kak Diah sementara saya yang penasaran melihat sepeda perempuan di teras kostan meminta izin apakah boleh mengendarainya. Ternyata boleh \m/ Meski cuaca lumayan terik, tapi saya merasa senang naik sepeda di Jogja. Lalu lintasnya cenderung mendukung sepedahan (atau efek hari minggu aja?), parkiran di mana-mana yang mendukung parkir sepeda : saya sempat mampir ke minimarket dan memarkirkan sepeda, yang begitu hendak pergi hanya dikenakan tarif Rp 500 oleh kang parkir, juga banyaknya pengendara sepeda lain yang berlalu lalang. Berasa punya temen sepersepedaan lah.

Untung pula, jarak dari kostan kak Diah menuju UGM ya masih ditolerir buat sepedahan. Sebelumnya kami diajak melewati kampusnya kak Diah di UNY, lalu mencari jalan pintas menuju Sunmor. Uwoogh Sunmor dan perempuan bersepeda, ku merasa utuh ke Jogja kali ini. ehehehe

Jogja, bersepeda, ke Sunmor~
warna-warni penangkap mimpi

Di Sunmor, kami berkeliling mencoba berbagai jajanan. Kak Diah beli gorengan sosis gitu, saya beli omelet mie dan air tebu, sedang Kawe beli kentang goreng yang ukurannya cukup panjang, pokoknya sebisa mungkin jajanan yang agak unik kami beli. Saking kalap karena banyak jajanan, kami melewatkan sarapan yang akhirnya berefek agak siang kami merasa begah dan pusing -_-

di Jakarta jarang yang sepanjang ini nih~

Karena terasa kurang sehat, kami memutuskan untuk kembali ke kostannya kak Diah untuk bersiap-siap menuju tempat yang ingin kami kunjungi selanjutnya : sisi lain gunung Merapi!

Agak siang kami sampai kembali di kostan kak Diah, lalu segera mengatur strategi. Sementara kak Diah mengantar Kawe mengambil laundry-an dan beli makan siang, saya mengontak salah seorang teman yang saya kenal dari grup whatsap komunitas buku. Namanya Eko, tapi biasa dipanggil pakde. Beruntung pakde menyanggupi permintaan saya untuk bertemu dan menemani kami menuju kawasan Kinahrejo, ditambah pakde pun sudah pernah ke sana. Jadi setelah semua persiapan selesai, di tengah teriknya siang hari itu saya janjian dengan pakde di jalan raya depan kostannya kak Diah. Lalu meluncurlah kami menuju Kinahrejo.

Dibonceng pakde Eko, beberapa kali di perjalanan saya diceritakan tentang kenangannya ngecamp di perkemahan di sekitaran Kaliurang, juga beberapa member komunitas baca yang sempat mampir ke Jogja lalu berhasil meet up dengan Pakde.

Matahari tak begitu terik lagi, ketika kami sampai di daerah Kinahrejo, sebuah desa tempat almarhum mbah Maridjan, sang juru kunci gunung Merapi tinggal hingga detik-detik terakhir ia menghembuskan nafas terakhirnya ketika erupsi 2010. Sesuai peraturan, kendaraan pengunjung mesti diparkir dan kalau mau mencapai museum atau ke area berbatu tempat Lava Tour berada, mesti sewa ojek atau jeep. Karena kami kere 😛 maka jadilah kami berjalan kaki di aspal mulus tapi menanjak parah. Baru beberapa menit, pakde memutuskan untuk menunggu kami di warung pinggir jalan saja. Dan memang salah sih, baru nyampe langsung jalan di medan menanjak gitu, jelas nafas tersengal.

Merapi di kejauhan memanggil untuk datang

Di sepanjang jalan, beberapa pedagang minuman menggelar lapak seadanya di antara semak dan rumput pinggir jalan.

dan kamipun asal duduk di pinggir jalan karena tanjakan yang menyesakkan dada

Hingga akhirnya kami melihat plang nama yang menunjukkan…

Maka berbeloklah kami, menuju rumah alm. mbah Maridjan dan sisa-sisa barang milik warga yang kini dijadikan museum.

spanduk selamat datang

Dari keberadaan spanduk ini masih harus masuk lagi, tak terlalu jauh sih tapi saat itu sudah tak terasa lagi karena iming-iming sudah deket weeey. ehehe

Sesampainya di kawasan museum, terlihat sebuah bangunan terbuka yang menampung berbagai barang yang terkena dampak dari awan panas saat erupsi dulu. Semuanya diletakkan begitu saja, namun tak mengurangi kesan ‘bercerita’ bagaimana saat erupsi itu terjadi.

Di sini juga terdapat secuplik informasi mengenai gunung Merapi, urutan beberapa juru kunci, hubungan gunung Merapi dengan Keraton dan masyarakat Jogja, serta kronologis peristiwa saat erupsi yang mana mobil evakuasi yang karatan dan penyok di sana-ini berperan dalam peristiwa evakuasi.

motor yang penyok dan meleleh di beberapa bagian
seperangkat gamelan
seperangkat meja-kursi
perabotan penuh debu
meteran listriknya penyok
tutup panci penyok
gelas yang sempat meleleh lalu membeku kembali
urutan juru kunci
sisa pondasi bangunan

Hingga akhirnya mata kami menangkap sekalimat yang cukup menyayat hati, ditambah melihat sendiri bagaimana perabot rumah yang kini penyok setelah terkena dampak awan panas saat erupsi.

rumahku tinggal kenangan..

Di sebelah bangunan tempat barang-barang dipamerkan, berdiri sebentuk bangunan dengan sebuah batu yang diletakkan di tengah. Sebuah petilasan.

Dan spanduk yang berisikan kata-kata :

tulang belulang hewan ternak
pendopo
warung di sekitar museum

Selesai melihat-lihat, kami duduk di bangku semen untuk sejenak beristirahat dan mendengar cerita kak Diah yang dulu sempat menjadi relawan saat erupsi Merapi terjadi. Bagaimanapun, kunjungan ke Kinahrejo ini dirasa menjadi semacam penutup dari hingar-bingar dari liburan saya dan Kawe ke Jogja. Liburan yang saya rencanakan sebisa mungkin dapat membawa Kawe liburan di alam, tanpa harus membuat Kawe lelah berlebihan karena inilah kali pertamanya tidur di tenda dan naik-naik gunung segala. Diawali dengan berkemah dan main air sampai puas di Pantai Sadranan, mencicip trip singkat ke gunung Nglanggeran, melihat proses turunnya hujan di Embung Nglanggeran, jalan dan jajan sampai begah di Sunmor, hingga akhirnya kami di sini, di Kinahrejo ini, tempat yang hening melihat kekuatan awan panas menyapu daratan, menjadikan semua yang dulu disandang manusia menjadi hilang, merenggut keluarga dan orang terdekat, barang-barang dan harta yang diupayakan sedari dulu, semuanya begitu lemah jika dibandingkan dengan kekuatan Tuhan melalui peristiwa alam. Hingga yang tersisa hanyalah kenangan, sebagai sebuah pembelajaran bagaimana manusia untuk menjadi lebih dewasa dan bijak menjalani hari depan. Refleksi, yang kami bertiga dalami di bangku semen sambil menatap Merapi yang tengah menjulang dengan gagahnya dari kejauhan.

Dari bangku semen ini, kamu menuruni setapak untuk mencapai kali Opak yang kini tak bersisa aliran airnya. Tergantikan menjadi tumpukan batu dan kerikil.

dulunya kali Opak

Dan sulit dipercaya tanah berkerikil yang kami pijak ini dulunya sebentuk sungai, karena beneran isinya batu dan pasir semua cuuy.

Diam-diam, saya melirik setiap liukan tubuh gunung Merapi, memandang puncaknya yang abu-abu dan diam-diam menyimpan harap untuk bisa menjejak di puncaknya. Menaruh impian untuk bisa berkenalan dengan medan pendakiannya, sebagaimana kalimat ‘Merapi tak pernah ingkar janji’ yang makin sering saya dengar pada kunjungan ke Jogja kali ini.

Menjelang sore kami pulang, dengan berjalan kaki yang terasa ringan karena turunan, ehehe. Lalu menyempatkan untuk berfoto dengan pakde sebagai kenang-kenangan kami sudah pernah meet up di Jogja.

jalan pulang
saya dan pakde Eko

Setibanya di parkiran, saya melihat satu lapak oleh-oleh yang sungguh Indonesia sekali : ulekan! Karena saya elus batunya bagus, batu asli bukan semen seperti ulekan yang dijumpai di pasar-pasar di kota, ditambah provokasi sang ibu penjual kalau ulekan tersebut baru jadi, maka jadilah saya memboyong ulekan berbentuk oval yang saya pegang sih masih basah seperti baru habis dipahat. Harga Rp 30.000 untuk ulekan batu berukuran sedang yang pahatannya pun rapi, dengan jumawa saya tenteng meski aneh juga ngapain oleh-oleh kok ulekan. wkwk

Menjelang magrib kami sampai di Gejayan, berterimakasih pada pakde Eko karena sudah mau membonceng saya di tempat wisata terakhir yang ingin dikunjungi di Jogja kali ini, lalu bergegas rapi-rapi packing karena malam ini saya dan Kawe berencana untuk mencari penginapan di Malioboro. Setengah gelap, kami diantar kak Diah menuju halte TransJogja terdekat. Dengan hati separuh berat berpisah dengan kak Diah, atas 3 hari yang telah kami lewati bersama, kami berpamitan.

Kami sampai di area Malioboro lalu mencari penginapan. Dari info di internet yang banyak menyatakan kalau gang Sosrowijayan ga rekomen-rekomen amat buat penginapan murah, maka kami menyusuri gang-gang di area Malioboro hingga ketemulah : gang Sosrokusuman. Tanya-tanya ke penginapan yang masih tersedia kamar, sampailah kami di Hotel Puri. Kami memesan kamar 2 bed dengan kipas angin, kami dapat harga Rp 100.000. Harga yang bagus dengan fasilitas yang standar tapi memang sangat sesuai dengan kebutuhan kami. Karena senang dengan impresi menginap di sini yang sangat sesuai dengan kebutuhan backpacker-an, maka saya sisipi gps-nya.


Setelah menaruh bawaan dan bersih-bersih, saya dan Kawe bergegas ke luar penginapan, menikmati udara dan hiruk-pikuk Malioboro di waktu malam. Karena butuh ke atm, maka pergilah kami ke dalam Mall Malioboro. Kelar urusan permesinan, tak sengaja kami masuk ke toko yang isinya berbagai pouch. Entah ada hembusan bisikan darimana, sontak saya berpandangan mantap dengan Kawe, sambil bilang : “keknya di Jakarta ga lucu-lucu kek gini deh..” Untunglah, sebelum jadi mencomot pouch dan membawanya ke kasir, mental kami kembali pulih untuk tetap mempertahankan uang yang tersisa sebijak mungkin :v

Kami berjalan bolak-balik di antara jejeran pedagang Malioboro kala itu, makan malam dengan gudeg, lalu penasaran dengan tempat-tempat yang selama ini saya belum pernah datangi padahal masih di sekitaran area Malioboro.

Pertama kami ke Benteng Vredeburg yang ternyata biasa aja karena kami memang ga boleh masuk sih, sudah tutup. haha. Lalu ke Nol Kilometer yang ternyata persimpangan jalan padahal selama ini saya penasaran bakal ada apaa gitu, haha.

nol kilometer. gitu doang

Jalan-jalan lagi, penasaran pengen beli bakpia, lalu celingukan cari becak. Dapatlah becak dengan harga yang ekonomis, dan bapaknya ngajak kami melewati Jalan Sosrowijayan yang penampakannya kebanyakan hotel-hotel bagus yang sudah pasti mahal. Maka sepatutnya hilanglah label ‘gang tempat hotel murah’ bagi Jalan Sosrowijayan tersebut, huhu.

Kelar dapet bakpia, kami ke kawasan Wijilan yang memang sudah sepi sih, lalu menuju Alun-alun Utara mencari tempat duduk yang pas sembari menikmati wedang ronde. Ngobrol ngalor-ngidul, ngerumpi, sampai akhirnya bosan dan kami berjalan pulang ke penginapan.

Malioboro, 16 Februari 2015

Pagi hari datang, saya dan Kawe tak banyak beraktivitas karena inilah hari terakhir kami di Jogja dan jadwal kereta pulang kami ada di siang. Setelah beraktivitas dan cari sarapan, kami meninggalkan penginapan dan bertanya jalan ke Stasiun Lempuyangan pada petugas resepsionis. Dapat informasi, kami cukup berjalan lurus mengikuti gang Sosrokusuman, lalu cukup mencari becak karena letaknya tak begitu jauh.

Sebelum mendapat tukang becak, saya sekali lagi membeli bakpia di toko sekitaran jalan karena masih ragu oleh-olehnya kurang, huhu. Hingga akhirnya jadilah kami menumpang becak. Ketika becak melintasi jalan menanjak, tak sengaja kami melewati bangunan berkaca dan menangkap pantulan si bapak becak yang turun dan mendorong becak. Saya dan Kawe hanya bisa berpandangan, sambil bisik-bisik nanti bakal kasih uang lebih.

Lalu sampailah kami di Stasiun Lempuyangan, menaiki gerbong yang tertera di tiket kami, dan meletakkan bawaan. Saya pun menutup perjalanan ke Jogja kali ini dengan mata berlinang di dalam gerbong, efek baca Koala Kumal-nya Kawe yang dia beli sebelum kami naik kereta berangkat dari Pasar Senen. Iya aneh masa nangis gara-gara Koala Kumal. Ya abis sedih sih pas baca udah lama LDR, semuanya baik-baik aja, lalu putus karena alasan “..aku dah nemu orang lain..” :”((

p.s. all photos are belong to Kawe, kak Galuh dan kak Diah

Versi cerita lain yang ditulis kak Diah, bisa dibaca di sini. Tentu saja lebih disiplin waktu ngepostnya, dibanding saya yang baru ngepost ini 2 tahun kemudian 😦

Advertisements

10 thoughts on “Ngayogyakarta : in Search for A Love Beach, Sadranan”

      1. merekanya masih takut atau udah mulai berani sm manusia mas? duh kalo udah berani bahkan cenderung galak, sedih deh 😦

      2. waktu kesana masih manis-manis mereka, endak tau kalau sekarang gimana? 😀

        mungkin kemarin mereka pas waktunya mencari makan kebetulan aku pas lewat dan melihat mereka 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s