Europe on Screen 2017 : Alternatif Pilihan Tontonan


Apa yang saya tunggu di tiap pergantian tahun?

Tentu saja menunggu bulan Mei datang.

Bulan Mei, bulannya Uni Eropa. Selain memang getol menggelar acara di tiap pusat kebudayaannya di bulan-bulan lainnya, bulan Mei inilah banyak pemutaran film di beberapa pusat budaya negara-negara Uni Eropa.

seperti biasa, disediakan buku yang berisikan sinopsis semua film, jadwal penayangan, informasi dan denah venue pemutaran film

Dan Europe on Screen kali ini tentu tak ingin saya lewatkan. Sebagaimana yang dulu pernah saya tuliskan di sini, kali ini pun saya sempatkan pemutaran film di Erasmus Huis yang bertempat di Kuningan Barat, Jakarta Selatan.

suasana auditorium EH

Sebelum jauh saya bercerita tentang film-film yang saya tonton di EoS tahun ini, marilah simak video teasernya terlebih dahulu.

Tahun ini saya sudah menghadiri dua hari pemutaran pada 3-4 Mei kemarin. Beberapa film yang sempat saya tonton pada dua hari tersebut adalah :

Room (2015)

Room-2015-poster-293x9999

Tentang ibu-anak yang disekap dalam sebuah gudang, Ma berusaha menciptakan dongeng tentang isi dunia pada Jack, anaknya yang berusia 5 tahun. Pertambahan umur Jack, menuntunnya pada keingintahuan yang lebih besar terhadap dunia. Awalnya Jack menolak untuk ke luar karena merasa apa yang di luar sana berbeda dengan konsep dunia yang selama ini Ma ceritakan padanya. Hingga akhirnya, mereka mengatur rencana untuk bisa ke luar dari ruangan. Di bagian ini, saya salut pada seorang petugas polisi perempuan yang pertama kali menangani Jack saat Jack baru saja berhasil melarikan diri. Polisi tersebut dengan sabar menanyai Jack, dan dengan sedikit saja informasi arah yang disebutkan Jack polisi tersebut langsung bisa menganalisa area yang dimaksud. Ah ya, juga saat Ma dan Jack akhirnya berhasil dipertemukan kembali lalu tinggal di rumah ibunya Ma yang notabene neneknya Jack, juga meninggalkan bekas yang mendalam bagi saya. Scene saat Leo memancing rasa penasaran Jack yang hanya bisa diam dan bersembunyi, lalu akhirnya mereka makan sereal bersama itu unyuuu :’) Juga saat Leo datang ke rumah dan membawa anjingnya-Seamus, itu juga bagian yang mengharukan. Konsep hewan peliharaan yang selama ini Jack yakini saat berada di ruang mereka tinggal dulu, akhirnya bisa ia lihat dan sentuh sendiri. Dan itu nyata.

Di saat Jack sudah bisa membuka diri, justru Ma yang masih dilanda trauma. Hingga akhirnya, Jack memberikan sesuatu yang ia anggap bisa memberikan kekuatan bagi ibunya yang masih daja di rumah sakit. Meski pada akhirnya Ma masih belum bisa berdamai dengan masa lalunya, Jack malah meminta mereka kembali datang ke ‘room’, tempat mereka dulu tinggal disekap bertahun-tahun lamanya. Awalnya Ma masih trauma, ditambah permintaan Jack untuk menutup pintu untuk menghadirkan kembali rasa tinggal yang dulu pernah mereka jalani. Jack lalu menyapa semua barang-barang yang tersisa, seperti kebiasaannya dulu saat bangun tidur kala pagi. Menyapa barang-barang kenangan yang tersisa, lalu mengucapkan selamat tinggal, untuk menanamkan perasaan berdamai dalam hati. Rasa-rasanya, Jack telah mengajarkan pada kita bagaimana berdamai dengan masa lalu, seburuk apapun, kita harus dengan lantang mengucapkan selamat tinggal. Untuk dengan hati yang lapang memulai yang baru kembali.

Legend (2015)

Legend-2015-poster-293x9999

Awal film berjalan dengan alur cerita yang bagi saya lambat untuk dicerna. Film bercerita tentang kondisi London tahun 60-an, dengan sepasang kembar Kray yakni Ronald dan Reginald. Dengan cara kerja gangster, mereka menjalankan bisnis pub, club dan tempat-tempat hiburan malam lainnya. Hingga akhirnya, Reggie dipertemukan dengan seorang France, kakak dari salah satu anak buahnya. Suara France inilah yang sedari awal menarasikan hidup kedua kembar Kray tersebut.

Film bercerita bagaimana Ron dan Reggie membangun usahanya dengan cara-cara gangster : intimidasi, suap, dan perkelahian. Dan karena saya nonton bukan di tv ataupun bioskop Indonesia, maka adegan perkelahiannya tak ada yang disensor. Mantap jiwa. Mulai dari gebuk-gebukan, pukul-pukulan, tusuk-tusukan dan kata-kata kasar mewarnai hampir di sepanjang bagian film. Kisah cinta Reggie dan France pun tak luput, dari perkenalan tak sengaja, saling jatuh cinta, bertahan dengan pekerjaan Reggie yang seorang gangster, hingga mereka menikah dan proses rumahtangga mereka. Dari keseluruhan film yang lekat-lekat mengendapkan ingatan London tahun 60’an : dinding bata, mobil-mobil klasik seliweran yang kemudian saya sesalkan karena nontonnya ga bareng seseorang yang bisa ditanya-tanya itu jenisnya apa, hingga lagu-lagu yang terdengar di klub-klub milik kembar Kray, lengkaplah sudah suasana 60’annya. Dan saya terkejut saat tahu ternyata si kembar Kray ini diperankan sendiri oleh orang yang sama. Dan dari gaya hidup si kembar Kray, rasa-rasanya cukup lah untuk disematkan label the truly gangster’s movies lah film ini.

p.s. untunglah saya nontonnya di pusat budaya Uni Eropa, karena kalo nonton di bioskop pasti ketemu orangtua Indonesia ngehek bawa anak yang pengen banget saya cakar mukanya mengingat film Legend ini sarat banget sama kekerasan.

A Man Called Ove (2015)

A-Man-Called-Ove-2015-poster-293x9999

Ove, seorang (yang dipaksa) pensiun, hidup seorang diri dan menjadi sosok pria tua pemarah yang kaku. Kalau pernah nonton film animasi Up di mana Mr. Fredericksen terkesan judes, maka Ove ini mirip kayak gitu judesnya ke orang lain, ditambah suka ngatur-ngatur tetangganya pula di sekitaran rumahnya. Sikap layaknya komisi disiplin Ove inilah yang membuatnya dijauhi oleh orang-orang sekitarnya, hingga perasaan terasing yang membuatnya berkali-kali mencoba bunuh diri.

Hingga suatu hari, ia kedatangan tetangga baru, seorang perempuan Iran dengan suami dan 2 orang anak perempuannya. Interaksi-interaksi Ove dengan keluarga Parvaneh yang awalnya ia tolak sebisa mungkin, justru akhirnya malah membuat Ove terjebak pada keakraban dan kehangatan keluarga yang selama ini tak pernah ia rasakan karena istrinya yang mati muda dalam kecelakaan bus. Ah ya, jangan lupakan skill Ove ini yang peralatan nukangnya lengkap, bisa masang dan bikin ini-itu, ngerti permesinan, jadi semacam ironi atas interaksinya dengan orang sekitar yang sukanya serba canggih dan instan tapi ga bisa apa-apa sebenernya, ehe.

Apa yang menyakitkan dari film ini? Perasaan sakit saat Ove lagi disayang-sayang sama orang lain, dia berhasil berinteraksi, justru meninggal gampang banget semudah ga bangun lagi dari tidur di pagi hari. Padahal pas dulu dia berusaha bunuh diri, selalu kedistrak sama hal lain 😦

Clear Years (2015)

Clear-Year-2015-poster-293x9999

Berbeda dengan film-film yang sebelumnya saya tonton di auditorium, kali ini saya nonton di section exhibition yang mana lebih terfokus menayangan film-film bergenre dokumenter. Membaca sinopsisnya yang nyata-nyata menuliskan film ini dibuat selama 9 tahun, membuat saya langsung berpikir ‘hmm, seems legit’. ehehe

Ya, saya penasaran dengan film-film yang memakan waktu lama pembuatannya, apalagi dengan timeline hidup yang nyata macem film Boyhood itu. Ditambah dengan embel-embel mengenai relationship, atas dasar harapan saya akan mendapatkan pencerahan hidup maka dengan jumawa saya meminta tiket Clear Years ke mbak-mbak penjaga meja registrasi.

Film bercerita bagaimana Claire hamil, lalu Frederic mengilas balik kisah awal-awal mereka bertemu. Ditambah berbahasa Perancis, mata saya makin berbinar-binar akibat nonton Kirikou tempo hari itu. Kalau hendak disandingkan, mungkin Clear Years ini mirip dengan A Happy Event versi nyatanya.

Kisah berlanjut dengan kegembiraan menyambut anak, Frederic yang pamit untuk meditasi dan beberapa ritual lainnya demi menyiapkan mental menjadi seorang ayah, hingga akhirnya tibalah hari persalinan. Seorang bayi perempuan-Juliette lahir. Dan seperti layaknya kehidupan berjalan, tak ada happy ending, adanya naik-turunnya siklus hidup. Claire menyukai pria lain, Frederic berusaha mengasuh Juliette seorang diri, mencari perempuan lain untuk menyembuhkan hati dan mendapat cinta, lalu hati yang ternyata tidak dapat disembuhkan, hingga akhirnya Claire kembali lagi pada Frederic dan Juliette. Ah ya, jangan lupa rasa ketertarikan pertama Juliette pada teman sekelasnya dan menuliskan di buku harian, rasa-rasanya penonton seperti diajak untuk berkaca pada hidup semasa kecil dulu :’)

Pada film ini, saya belajar ya memang begitulah hidup. Tak ada kebahagiaan yang permanen, yang ada hanyalah kita terus berusaha mencari kebahagiaan itu sendiri.

The Paradise Suite (2015)

the-paradise-suite-poster-293x9999

Kita tahu prostitusi dilegalkan dan dijadikan kawasan komersial di red light district. Bahkan malah dijadikan tempat wisata, sebagaimana belum rasa penasaran yang mengundang untuk datang ke Belanda melihat bagaimana jejeran ruko memajang tubuh meliuk-liuk layaknya pajangan dagangan lainnya. Tapi kita tak pernah tahu, bagaimana cerita di baliknya.

Ada Jenya, gadis yang dijanjikan akan menjalani sesi pemotretan sebagai model tapi berujung menjadi pekerja seks komersial. Yaya, imigran dari Afrika yang saat hendak membantu tetangganya justru dipecat dari tempat kerjanya hingga akhirnya mengalami kesulitan keuangan. Stig, seorang konduktor yang karena kesibukannya jadi melalaikan anaknya-Lukas yang jadi korban bully di sekolahnya. Ivica, penjahat perang Serbia yang menjalankan bisnis prostitusi dan Zina yang berusaha membalaskan dendam pada Ivica atas kematian anaknya.

Semua toko tersebut bergulat dengan masalahnya masing-masing hingga akhirnya memiliki benang merah dan bertemu pada satu titik di klub malam yang kamarnya dinamakan : Paradise Suite.

Di akhir film dilangsungkan sesi tanya jawab dengan sang produser film The Paradise Suit ini, Jeroen Beker. Kehadiran sang produser ini dirasa cukup melengkapi film yang sepanjang ceritanya mengaduk-aduk emosi kami para penonton.

Exif_JPEG_420

Film yang pada akhirnya memberikan saya perspektif lain yang baru saat mendengar atau memandang red light district.

Bagi saya menonton film-film yang diputar di EoS ini semacam memberikan alternatif pilihan tontonan yang baru. Karena memang harus diakui, sepanjang mengikuti EoS beberapa tahun terakhir ini film-film Eropa memang tak banyak menggunakan efek teknologi ataupun semacamnya, tapi alur ceritanyalah yang menjadikannya kekuatan. Alur yang kuat, karakter tokoh yang juga kuat, niscaya menjadikan hati terasa penuh kalau nonton yang berakhir bahagia atau malah ikutan sedih kalau nemuin yang sad-ending.

Lewat ngikut EoS ini pula, saya belajar menjadi penonton yang mengapresiasi film. Karena memang bukan di bioskop, bangkunya memang tak seempuk biasanya, bawa makanan dan minuman ga boleh mesti dititip, tapi saat film berakhir selalu dibiasakan untuk bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi-satu yang jarang saya temui di bioskop-bioskop biasanya.

Jadi masih tersisa 4 hari event EoS ini berlangsung. Bagi sesiapa yang kotanya disambangi penayangan EoS dan membaca postingan ini, maka datanglah. Pergunakan kesempatan nonton film bagus dan gratis ini πŸ˜›

Advertisements

4 thoughts on “Europe on Screen 2017 : Alternatif Pilihan Tontonan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s