Kirikou et les Hommes et les Femmes (2012) : Between Child and Community


Semula layar didominasi warna kuning dilatari tabuhan musik ceria yang kelak mengantarkan kita pada kekhasan alam Afrika, lalu muncul sesosok tua di ruangan serba biru yang bercerita tentang kisah keseharian cucunya. Lalu latar cerita berganti tempat ke sebuah desa dengan seorang anak kecil enerjik yang seringkali telanjang, dengan cerdik dan kepolosannya satu-persatu terlibat berbagai peristiwa yang muncul di kampung kecilnya. Semua kisah dalam film ini disajikan dalam potongan kisah tersendiri, sesuai tuturan cerita sang kakek.

Pertama, Kirikou kedatangan tetangganya yang terpaksa harus menginap di rumahnya karena rumah sang tetangga ini atapnya rusak. Kirikou dasar anak kecil, mengeluh dengan kelakuan sang tamu yang tidurnya mendengkur dan serakah dalam menguasai lapak tidur, akhirnya memilih untuk tidur di luar rumah yang ternyata – ibunya Kirikou juga tak tahan dengan dengkuran sang tamu! haha. Mereka tidur berdua beralaskan tikar di luar rumah, kemudian ketika pagi tiba Kirikou mencari jalan ke luar supaya atap rumah sang tamu bisa diperbaiki. Kirikou, dengan segala akal cerdiknya bersama dengan beberapa penduduk desa mengelabui Karaba-tokoh antagonis yang egois agar bisa memperbolehkan penduduk desa membetulkan atap rumah penduduk yang rusak. Sayang sekali, di awal cerita saya belum terlalu tertarik dengan film ini, karena film animasi diputer tengah malem bok, jarang banget yakan. Maka saya memencet tombol remot tv mengganti channel-suatu hal yang sesali karena saya jadi tak utuh dalam menangkap keseluruhan cerita film ini :'((

resized_w1000_h1000_Kirikou_03
sumber foto

Kisah kedua, seorang tetua kampung yang tiba-tiba hilang tak ditemukan ke mana perginya. Kirikou penasaran, lalu mengelabui sebentuk cctv bisa berbicara yang berada di atas rumah Karaba untuk menanyakan ke mana perginya sang tetua. Gatau sih, di film nyebutnya jelangkung, tapi saya lebih suka menafsirkan benda berbicara yang bisa melihat segala sesuatu yang terjadi di kampung tersebut sebagai cctv, karena fungsinya mirip sih, haha. Berkat pengelabuan Kirikou, tersebutlah sang tetua berada jauh di atas pepohonan arra. Kirikou lalu seorang diri mencari sang tetua adat yang ternyata benar-benar di atas pohon, karena di bawahnya telah menunggu sebentuk binatang buas bernama Jackal. Kirikou lalu memanjat dahan pepohonan untuk menyelamatkan sang tetua desa, yang ajaibnya sebegitu ringannya tubuh Kirikou karena begitu mudahnya bergelayutan dan terlempar dari satu dahan ke dahan lainnya.

Mereka pun berhasil turun dari pohon, untuk kembali pulang menuju desa. Di sinilah saya mulai tertarik dengan tokoh Kirikou, karena digambarkan gak sakti-sakti amat macem tokoh si Entong yang dulu sinetronnya pernah tayang di tv, huhu. I mean, seberapapun tangguh dan beraninya Kirikou, ia masih mengeluh atau melontarkan celotehan-celotehan polos khas anak kecil. Semisal saat ia memberikan perbekalannya kepada sang tetua yang mulai kelaparan dan kehausan karena terlalu lama menunggu di pohon, saat sebentuk labu yang dipakai untuk menampung air dibuang begitu saja oleh sang tetua seusai minum, Kirikou mengomentarinya : “..padahal labu baru, kenapa dibuang..” Lalu di tengah perjalanan menuju desa, Kirikou mengeluh lapar dan haus yang kemudian ditunjukkan tumbuhan yang di batangnya mengandung air oleh sang tetua. Takjub atas tumbuhan yang batangnya menyimpan air, Kirikou berkomentar : “..aku lebih suka tanaman yang menyimpan roti bakar dibanding yang menyimpan air..” Bagaimanapun, keluhan yang dilontarkan Kirikou mampu membuat tersenyum karena menyimpan sebentuk kekonyolan khas anak kecil.

resized_w1000_h1000_Kirikou_16
sumber foto

Kisah berlanjut dengan ditemukannya sesosok yang terbungkus rapat kain biru, yang menggemparkan seisi penduduk desa, yang menurut saya baik sekali mengemas isu toleransi ras. Anak-anak desa awalnya takut dengan sesosok makhluk biru tersebut, karena dikhawatirkan akan berbahaya saat menyentuhnya, namun Kirikou yang polos tak memedulikannya dan malah mendekatinya untuk mengetahui asal-usul makhluk tersebut, meski dengan keterbatasan perbedaan bahasa.

20189561.jpg-r_1920_1080-f_jpg-q_x-xxyxx
sumber gambar

Terakhir, Kirikou mendapati ibunya yang tengah membunyikan flute peninggalan ayah Kirikou. Di sini, saya tersenyum bagaimana sang ibu menjelaskan dan menjawab dengan sabar segala pertanyaan Kirikou mengapa flute tersebut tak lagi dimainkan. Pada akhirnya, alunan flute yang dimainkan Kirikou membawa seisi desa untuk menari dan memainkan musik dengan barang di sekitar mereka, termasuk Karaba yang ternyata ikut menyanyi dengan suaranya yang indah. Tarian bersama seluruh penduduk desa mengakhiri cerita dalam film.

resized_w1000_h1000_Kirikou_08
sumber foto

Saya menyukai Kirikou, dengan kepeduliannya terhadap desanya sendiri, interaksinya terhadap orang-orang di sekitarnya, keberaniannya terhadap hal-hal baru yang bahkan dia belum tahu, meski penggambaran fisiknya yang terlampau kecil dibandingkan orang dewasa di sekitarnya, yang saking timpangnya malah kayak ukuran tuyul, ehe. Penggambaran kisah dan animasi yang cukup memberi alternatif baru di antara film-film animasi ke luaran studio animasi lainnya, dengan jalan cerita kehidupan suku di Afrika rasa-rasanya memberikan penyegaran baru di mata. Selain itu bagaimana Kirikou dengan berani dan kepolosannya dalam menghadapi masalah, rasa-rasanya cukup memberikan pesan moral baik kepada anak-anak ataupun orang dewasa yang menontonnya. Yah, meski urusan berpakaian di desanya Kirikou banyak yang topless bahkan untuk perempuannya dan ujung-ujungnya kena blur di tv, jadi sebentuk ironi atas jalan cerita dengan si makhluk biru asing yang sempat dipandang aneh sekampung karena berbeda dengan kebiasaan di situ.

Ah ya, selain menambah pengetahuan terhadap alam dan kehidupan suku-suku di Afrika, pengucapan bahasa Perancis dalam film ini juga sukses membuat saya jatuh hati pada bahasa tersebut. Dan perasaan berbahagia ini yang membawa saya untuk ke depannya kembali menginventarisir daftar film-film animasi Eropa lainnya yang pernah ditonton dan membekas di hati.

Pokoknya, ini tuh tipe-tipe film yang begitu kita selesai nonton bikin kita pengen googling buat nyari info lainnya sebanyak-banyaknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s