Alone – Season 3 (2016) : Betapa Tuanya Peradaban Manusia


Alone - Season 3

Ada masa di mana saya susah untuk me-move-on-kan diri dari bayang-bayang drama Korea Signal ataupun susahnya menyabarkan diri dari munculnya episode One Piece setiap minggu. Maka obat terbaiknya adalaaah : cari tontonan lain!

Dan saya sedang tidak berselera untuk beralih ke judul drama Korea ataupun anime lainnya, jadilah saya mencari tv series yang sekiranya cocok untuk pengobat kangen gunung yang sudah mengendap terlalu lama. Jadilah saya ketemu Alone season 3 ini, yang membuat mata kian belekan akibat ga sabaran kalau nontonnya dihemat-hemat, dan membuat episode Black Mirror pun terabaikan. ehehe. But trust me, buat yang lagi kangen-kangennya naik gunung, maka inilah tontonan yang menurut saya sih tepat banget. Ga cuma jual pemandangan ataupun turisme semata, karena pengalaman di alam bebasnya bener-bener nyata.

Jadi, Alone season 3 ini dimulai dengan 10 orang partisipan di mana 3 di antaranya adalah perempuan. Di sepanjang episode, saya malah jadi merenung betapa perjalanan peradaban manusia ini sudah memakan waktu yang cukup lama ya hingga bisa sampai di titik di mana saya bisa ngetik postingan ini dan bisa dibaca oleh orang lain di seluruh penjuru dunia. Satu hal, yang akhirnya saya dapat dari tontonan yang tujuan awalnya saya kira hanya sebagai pengisi kekosongan atas semangat ingin mengembara lagi di alam bebas.

10 orang ini, yang saya kira asal daftar aja, ternyata setelah seleksi segala macem masih harus melalui masa training yang diawasi oleh para ahli survival. Di masa latihan itulah, kemampuan mereka bertahan hidup diuji dan diawasi, seperti bagaimana membangun shelter dari bahan seadanya, pengetahuan terhadap alam bebas, serta mencukupi kebutuhan hidup seperti membuat perangkap atau jebakan binatang demi mendapatkan makanan. Setelah melewati masa training ini, mereka lalu ‘dilepas’ di bentang alam Patagonia, dengan batasan bawaan 10 barang yang sangat ketat dibatasi seperti bawa pistol ga boleh, bawa tenda ga boleh harus flysheet, bawa makanan berlebihan ga boleh, bahkan bawa alat tulis sih juga engga. Berbekal gear bertahan hidup yang dibatasi dan tanpa kru kamera, mereka menjalani hari-harinya di alam bebas Patagonia. Dan meski dalam masa bertahan hidup, partisipan ini juga diawasi, terbukti dengan datangnya tim medis pada waktu-waktu tertentu demi memonitor kondisi fisik peserta.

Saya ‘nyantol’ pada kesimpulan perjalanan peradaban manusia ini, karena para partisipan dari awal mencoba untuk mencari gaya terbaik dalam bertahan hidup dengan sumber daya yang seadanya. Ada yang membuat shelter paling standar, berkemah di antara semak-semak, di antara sela pepohonan, hingga yang berinovasi membuat bangunan menggunakan ranting dan dahan, yang mana membawa benak saya pada berbagai rumah adat di Indonesia. Menerka hendak meniru gaya rumah adat mana jikalau saya ditempatkan pada posisi  mesti bertahan hidup seperti itu, yang pada akhirnya membuat saya bergumam : “anjir nenek moyang dulu butuh waktu berapa lama untuk sampe di pikiran bikin rumah mesti dibikin model panggung biar ga kena hewan buas, bikin atap dan dinding dari jerami yang tebel biar ga kena angin yang menyelusup ke dalem…” Kemudian dari segi berburu, efisien mana mancing atau bikin perangkap, gimana bikin perangkap buat hewan yang berjalan di darat, atau bikin perangkap burung, metode berburu apa yang paling efektif, alat berburu apa yang paling tepat sasaran, dan berbagai hal lainnya yang justru membuat saya salut pada pencapaian yang ditempuh para nenek moyang di zaman dulu, sebagai kepercayaan saya bahwa bentuk kecanggihan dan masa depan itu justru ada di masa lampau, bukan zaman milenial dengan segala kecanggihan internet seperti sekarang ini yang kira-kira narasi serupa-nya ada di tulisan ini. I mean, kita yang terlampau dimanjakan kemudahan sekarang ini bisa apa bertahan di alam liar tanpa skill berburu, ngebangun tempat berlindung, atau sampai gimana cara menavigasikan diri tanpa gadget? Justru orang-orang terdahulu lah yang terbukti canggih bisa memadukan diri dengan alam.

Oke balik ke tv series, mari saya urutkan jagoan-jagoan saya :

  1. Greg (53). Tua, gondrong, badan tegap, suara serak, mainannya kapak, kerjaannya bikin perapian, bahkan pemilihan shelternya di antara batang pohonmembuat saya berujar : manly banget! Mountain man bangetlah, sejalan latar belakangnya yang hidup memang di alam banget.
    Alone_Season3_Greg_Ovens_Bio-765x429
    sumber foto

    Greg ini mainannya batang-batang kayu yang gede sambil menghabiskan waktu di depan perapian. Greg juga yang mengajarkan untuk cari tumbuhan dibikin minuman teh. Pokoknya first impression dari pemilihannya nyari shelter di sela pepohonan lah. Dari Greg juga, saya belajar ada titik di mana manusia butuh untuk berpindah tempat, bermigrasi, karena kasusnya Greg ini dia kehabisan kayu di sekitarnya dan terlalu membuang energi kalo harus nebang pohon di saat suplai makanan terbatas. Dari awal saya berharap lewat Greg ini bakal tercipta scene nyembelih hewan-hewan gede macem babi hutan, rubah, yang ujungnya tak pernah terjadi karena Greg keburu hipotermia saat mesti nyebur ke air ngambil ikan yang tersangkut tumbuhan danau. Meski tragis, tapi Greg ini tipikal senior yang meski ga bertahan hingga hari terakhir bakal saya angkat gelas atau angkat topi saking respeknya dengan beliau.

  2. Callie (27). Berasal dari lingkungan ‘bebas’ di mana memang menyandarkan hidup pada tetumbuhan herbal, didukung lingkungan tinggal yang berasal dari komunitas yangsepersotoyan saya sih kayaknya hippie, Callie ini menempati tempat spesial di hati karena upayanya untuk sebaik mungkin membuat kehidupan di tengah alam bebas.
    Alone_Season3_Callie_Blue_Bio-765x429
    sumber foto

    Callie bikin gantungan angin dari bambu yang bakal berbunyi tiap angin berhembus, bikin dreamcatcher, bikin gitar sederhana, bahkan bikin sauna! wkwk. Pokoknya prinsipnya Callie ini untuk menikmati waktu semaksimal mungkin. Sempet kena gigitan laba-laba yang pada akhirnya mengajarkan saya betapa penting dan bermanfaatnya usnea atau jenggot kakek yang biasanya dianggap benda ga penting di hutan saat ngegunung. Tapi swear, berkat Callie kalo suatu hari saya ngegunung dan nemu usnea, niscaya akan saya pergunakan dengan mengolahnya jadi makanan kalo bisa masaknya atau simpan baik-baik siapa tau ada bagian tubuh yang butuh pengobatan. Meski sempat kritis karena gigitan laba-laba, pengobatan dari bahan yang ada mampu membuat Callie bertahan, yang berikutnya justru ketemu masalah tikus di shelternya. Hal sesepele seekor tikus, yang justru membahayakan karena dengan keterbatasan obat bisa bikin rabies. Masalah tikus terselesaikan, Callie-nya sehat-sehat aja, pada ujungnya dia memutuskan pulang karena merasa perjalanannya sudah mencapai pada titik di mana merasa cukup. Sungguh pencapaian diskusi dengan diri sendiri yang rasa-rasanya patut dicontoh.

  3. Carleigh (28). Berlatar belakang profesi dari bidang konstruksi, membuat saya menaruh ekspektasi penuh pada Carleigh ini. Ditambah pengerjaan shelternya yang mirip-mirip rumah tradisional di Papua, ku merasa bakal banyak pelajaran yang bisa diambil dari strateginya.
    Alone_Season3_Carleigh_Fairchild_Bio-765x429
    sumber fotosumber foto

    Dan bener aja. Carleigh ini terhitung ga banyak drama sih. Hari-harinya diisi dengan membuat barang-barang seperti bikin keranjang yang lumayan rapi, sebentuk bubu buat ikan, bikin shelter yang nyaman, dan yang paling wow bagi saya dia bikin sebentuk rebana yang berasal dari kulit binatang yang ditemukannya di hari-hari pertama. Sempet bikin gregetan karena Carleigh ngediemin gitu aja rusa yang melintas di areanya. Terlepas gimana kalemnya Carleigh ini, dia partisipan yang cukup berprestasi. Terbukti dari gimana dia bertahan hingga hari-hari terakhir, yang akhirnya mesti pulang dengan terpaksa karena kondisi fisiknya yang mengkhawatirkan.

Selain 3 di atas, saya menghaturkan rasa hormat pada ketiga partisipan perempuan yang jutru berada di posisi 5 teratas, yang ternyata mampu bertahan hingga hari-hari terakhir. Selain itu, partisipan favorit saya lainnya mungkin Dave, yang mengajarkan sikat gigi bisa pake arang, makan telur ikan mentah-mentah sepertinya patut dicoba jika sedang berada di alam bebas, bagaimana mengatur kesediaan makanan dengan cara membuat semacam ikan asap. Dave pulalah, yang sukses membuat saya menangis di depan monitor karena juga terpaksa pulang atas kondisi fisiknya sangat memprihatinkan. Wajarlah, Dave paling kurus, bertahan hidup di alam dengan kondisi cuaca yang ga ngenakin, makanan seadanya, ketika tubuh perlahan mengikis daging yang ada, akan jadi makin mengkhawatirkan kalau tubuh juga pelan-pelan mengikis organ vital yang ada.

Untitled
this really breaks my heart 😥

Momen di mana tim medis memvonis Dave mesti dibawa ke rumah sakit, padahal Dave bilang dia secara mental baik-baik aja, makanan juga punya, itu tuh rasanya bikin nyeseeek di hati 😦

Saya juga menaruh simpati pada Fowler, yang bela-belain naik ke punggungan bukit demi mendapatkan lapak yang tersinari matahari, yang ternyata kena sinar matahari yang cukup tuh penting loh buat ngebangkitin mood. Fowler pula yang berupaya menuangkan kisah-kisahnya pada sebatang tongkat, mengukirnya dengan simbol-simbol untuk menjadi pengingat perjalanannya bertahan hidup di Patagonia.

Semuanya menarik bagi saya, bagaimana ketahanan bertahan hidup, pencarian strategi menghadapi alam bebas, perenungan eksistensi diri sendiri dan kerinduan terhadap orang-orang yang kita sayangi berkecamuk menjadi satu. Konflik yang mungkin sering kita temui ketika bepergian ke tempat jauh dan menjadi terasing. Dan atas kepedihan karena 10 episode ditambah 1 episode rasanya terlalu sedikit, mungkin saya akan berusaha mengobatinya dengan jalan mencari akses untuk bisa menonton season 1 dan 2-nya :”((

*krayy sekebon*

…diketik dengan sayup-sayup potongan suara Okta yang mendengungkan :

Berbagi waktu dengan alam

Kau akan temukan siapa dirimu yang sebenarnya

Hakikat manusia

Advertisements

2 thoughts on “Alone – Season 3 (2016) : Betapa Tuanya Peradaban Manusia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s