Children Who Chase Lost Voices (2011) It’s Okay to Letting Go the People We Loved


Mitos tentang orang menuju ke bawah bumi untuk membangkitkan orang, ditemukan di seluruh dunia. Negeri Yomi, Underwold, Hades, Shambala, Agartha, mereka dipanggil dengan nama yang berbeda. Tetapi mereka semua berkata berada di dunia di bawah bumi. Orang pernah percaya bahwa di bawah bumi tersimpan rahasia untuk kematian itu sendiri.

Asuna, sumber dari sini

Asuna, sumber dari sini

Asuna, seorang gadis yang hidupnya terlalu sering diliputi kesepian. Ayahnya meninggal sejak ia kecil, ibu yang sibuk bekerja, menjadikan ia sosok pelajar yang gila belajar dan tak banyak memiliki teman. Bahkan, ia cenderung menutup diri dari teman-teman yang mencoba mendekatinya. Atas kesendiriannya itulah, ia sering menghabiskan waktu di bebatuan puncak bukit, membangun markas rahasianya dan bereksperimen dengan set radio sederhana yang kadang-kadang menangkap suara musik yang entah datang dari mana. Hingga suatu hari, muncullah seorang pemuda bernama Shun yang mulai mewarnai hari-harinya Asuna. Namun di saat Asuna mulai jatuh hati, nasib tragis menimpa Shun. Atas peristiwa kematian Shun yang aneh, muncullah semacam organisasi rahasia yang bernama Arch Angel, yang kemudian menjadikan Mr. Morisaki berupaya menjadi guru di sekolah Asuna demi bisa mengorek informasi tentang Shun dan negeri tempat Shun berasal. Dari sekadar romansa remaja, latar belakang yang dimiliki Shun kemudian menyeret Asuna dan Mr. Morisaki dalam petualangan ke negeri di bawah perut bumi.

Shun-Asuna. sumber dari sini

Shun-Asuna. sumber dari sini

Dari awal, saya telah jatuh hati dengan kepribadian Asuna. Meski cenderung introvert, Asuna ini tipikal anak perempuan kebanggaan versi saya, ehehe. Karena ibunya yang berprofesi sebagai perawat sering meninggalkan rumah, maka Asuna tumbuh menjadi gadis mandiri yang handal dan tangguh. Belanja sendiri, masak sendiri, makan sendiri, nyuci baju sendiri, ngelipetin baju sendiri, beres-beres rumah sendiri, pokoknya tipe perempuan yang jago bebenah deh.

Asuna demennya bebenah. sumber dari sini

Asuna demennya bebenah. sumber dari sini

Nah karena merasa kehilangan Shun yang tiba-tiba tewas, Asuna berusaha mencaritahu ke mana perginya Shun berbekal dari pelajaran Mr. Morisaki di kelas yang nyebut-nyebut Agartha, yang mana pernah diperkenalkan oleh Shun sebagai negara asalnya. Usut punya usut, ternyata negeri tempat Shun berasal itu negeri yang berada jauh di perut bumi, sebagai tempat asal-usul kehidupan dan kematian berada. Dan sejak awal keikutsertaan Mr. Morisaki ke organisasi Arch Angel adalah untuk bisa pergi ke negeri Agartha, tempat ia akan meminta istrinya yang telah meninggal untuk dihidupkan kembali. Maka, atas kemufakatan niat yang sama, berangkatlah Asuna dan Mr. Morisaki. Meski sebelumnya mengalami hambatan karena Shin-adiknya Shun yang berupaya mencegah manusia permukaan untuk memasuki negerinya karena dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan, nyatanya Asuna dan Mr. Morisaki berhasil menjejakkan kaki di negeri Agartha. Dan pemandangan Agartha itu sunggguh memanjakan mataaaa ❤ ❤ ❤

welcome to Agartha. sumber dari sini

welcome to Agartha. sumber dari sini

Shin dan Asuna, sumber dari sini

Shin dan Asuna, sumber dari sini

Di Agartha, perjalanan mereka berdua pun tak mudah. Menghadapi monster-monster penjaga gerbang, kehabisan bekal makanan, ditolak penduduk setempat, sosok makhluk Quetzal Coatl-si pelahap makhluk hidup yang telah mati yang akan mengantarkan pada alam kematian yang meski dilihat-lihat agak mengerikan tapi ternyata cukup bersahabat, Asuna yang sempat diculik Izoku-makhluk yang takut air dan cahaya yang penampakannya mengingatkan saya pada Smeagol di film Lord of the Ring, huhu. Duh pokoknya bikin ikutan deg-degan deh, hati kebat-kebit. Selain itu backsoundnya mendukung sekali, jadi saat scene-scene menegangkan saya pun ikutan geregetan. Ah ya, dan jangan lupakan detil-detil yang ada di tiap elemen dalam frame, detil dan bikin percaya seandainya itu beneran ada kebudayaan kayak begitu, hehe.

detil di rumah penduduk setempatnya. sumber dari sini

Shakuna Vimana-perahu para dewa. sumber dari sini

Quetzal Coatl, mengerikan namun bersahabat. sumber dari sini

Asuna dikerubutin kawanan Izoku, yang selalu sukses bikin saya takut beneran tiap mereka muncul. sumber dari sini

Asuna dikerubutin kawanan Izoku, yang selalu sukses bikin saya takut beneran tiap mereka muncul. sumber dari sini

Dan jangan lupakan bekal bebenah-nya Asuna ini memang sangat membantu perjalanan mereka di Agartha ini. Di saat Mr. Morisaki tengah menerka-nerka langkah apa yang mesti mereka ambil, Asuna selalu sigap entah untuk mencarikan makanan, mencucikan baju, atau bantu-bantu di rumah penduduk lokal saat mereka tengah menginap.

Hingga saat semua perjuangan mereka menemui ujungnya ke tempat yang menjadi tujuan mereka : Finis Terra, sebuah gerbang kehidupan dan kematian itu berada, nyatanya menghadapi ketakutan akan Finis Terra akhirnya menguji niat awal tujuan mereka pergi ke Agartha ini. Akhirnya, Asuna mengurungkan niatnya untuk memperjuangkan bertemu Shun yang telah mati, sedangkan Mr. Morisaki melanjutkan perjalanan demi bertemu istrinya yang telah tiada. Dan melihat penampakan Finis Terra ini rasa-rasanya seperti mendengar bunyi gong yang tengah ditabuh : “Dooonggggg…”

Finis Terra. sumber dari sini

Finis Terra. sumber dari sini

Meski ngeliat wujud Finis Terra yang berbentuk seperti kawah ini mengingatkan saya pada salah satu scene di film Kimi no Na wa.

Ujungnya? Benar-benar ga ditebak sih, ehehe. Yang saya pikir berjalan sempurna, ternyata berakhir lain. Yang pada akhirnya mendaratkan saya pada sebuah kesimpulan, untuk menanggalkan keegoisan kita terhadap orang-orang yang kita cintai yang telah meninggal dunia meski terdapat kesempatan untuk menghidupkannya kembali. Kenapa begitu? Karena bisa jadi, keegoisan kita untuk kembali berkumpul pada orang yang telah mati, bisa merenggut hidup milik orang lain di sisi yang lain.

sumber dari sini

Sebelumnya saya agak skeptis dengan movie anime yang berjenre fantasi-drama begini, saya cenderung menyukai slice of life yang potensi maknanya lebih besar. Tapi kalau disuguhi Children Who Chase Lost Voices yang jalan ceritanya apik, animasinya kece, backsound yang mendukung, serta menimbulkan daya khayal yang luar biasa setelah menonton begini sih, saya jadi kembali tertarik pada genre fantasi-drama 😀 Dan setelah googling sana-sini, beberapa makhluk maupun legenda yang ada di film ini, ternyata ada juga mitologinya di kebudayaan manusia, meski tak sama persis dengan apa yang dikisahkan di versi film ini.

Advertisements

10 thoughts on “Children Who Chase Lost Voices (2011) It’s Okay to Letting Go the People We Loved

  1. Kirain produksinya Ghibli, ternyata bukan hehehe.. Padahal gambarnya mirip Princess Mononoke 😛

    Masuk list film yg ditonton di 2017 nih 🙂

  2. Paket komplit :))

    pas nonton film ini aku teringat brother fullmetal alchemist, mereka juga berusaha menyibak rahasia “kematian”. Begitukah rasanya kehilangan? 😦

    • eh iyakah? daridulu belum nonton fullmetal alchemist karena gatau jalan ceritanya apa. tp kalau garis besar ceritanya kek gitu, saya jadi tertarik 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s