Sejarah Kemang dan Keprihatinan Lainnya di ICAD 7th


12 Oktober 2016

“.. di gps harusnya lurus, tapi di rambu ga boleh lurus, harus belok kiri. Sedangkan di gps dibilangnya Grand Kemang itu tinggal lurus lagi. Ga mungkin kan ngelawan rambu. Yah yaudahlah pasrah. Sayapun belok kiri, dengan hati pasrah sudah kalau ternyata nyasar..”

Pagi itu saya melintasi jalanan di Kemang dengan dada berdebar. Tujuan saya ialah hotel Grand Kemang, tapi dengan pengalaman ngubek-ngubek Kemang cuma ke Kemang Barat tiap berkunjung ke rumah teman, maka saya mengendarai motor bersenjatakan gps hp dengan rasa was-was dan pasrah. Kalau ga ketemu, yaudahlah.

Hari itu ada acara kantor di hotel Grand Kemang, rencananya saya bertugas bantu-bantu menjaga meja registrasi dan menulis notulen. Rencana tinggallah, awalnya saya optimis tapi apa daya begitu kenyataan dan rute gps tak sinkron, yang saya lakukan hanyalah berdoa kalaupun nyasar ya semoga nyasarnya ga jauh-jauh amat. Padahal ku lahir di Jakarta, tapi kalau soal keliling-keliling rasanya payah -_-

Seperti yang tertulis di prolog, saya pun belok kiri padahal jelas-jelas di gps menyarankan untuk lurus. Pasrah, saya mengikuti ke mana kendaraan lainnya berjalan. Mengikuti arus. Sampai akhirnya, tak sengaja mata ini menangkap satu plang nama di kiri jalan :

GRAND KEMANG! BENERAN NIH??

Setengah tak percaya, saya pun berhenti di depan area valet dan berteriak ke para satpam yang ada : “Pak, ini Grand Kemang ya?”

Dijawab : “Iya neng.”

“Kalau motor masuk lewat mana pak?”

“Neng lurus lalu ambil kiri, masuk lewat belakang.”

Dengan hati gembira, saya pun kembali mengendalikan motor, dan begitu sampai di pintu belakang hotel, karena khawatir salah saya pun bertanya lagi ke satpam yang tengah berjaga : “Pak, Grand Kemang ya?”, dan dijawablah iya oleh si bapak. Memang sih, saya cerewet kali itu, tapi ya gimana, udah pasrah kalaupun nyasar tetiba nemu jalan yang benar ya mesti konfirmasi dooong. hahaha

Setelah pengecekan bagasi motor, saya pun memasuki gedung dan memarkir motor di tempat yang rasanya strategis. Berikutnya, melangkah mencari ruangan tempat teman-teman kantor yang lain sudah berada. Di saat itulah, saya merasa ini hotel kok agak beda, kayak ada event gitu. Dan ketika jam istirahatlah tanya itu terjawab, memang benar ada pameran. Bersemangat, saya menghitung waktu, menunggu jam acara rapat berakhir untuk bisa berkeliling lihat-lihat pameran. Seakan semesta mendukung, saat proses pembayaran dan meminta inoice hotel memakan waktu lama, sehingga memberikan saya waktu ekstra lebih untuk mengeksplor pameran. Lumayan, biasa lihat pameran kalau gak di museum ya pusat budaya kedubes, eh ini di hotel. Saya membaca jejeran huruf yang tertempel di dinding.

ICAD 7th Seven Scenes? Beruntunglah ada buku panduannya, maka saya bisa menjelaskan apa itu ICAD di postingan ini. Mengutip dari buku tersebut, dikatakan bahwa :

Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD) adalah pameran pertama di Indonesia yang menginisiasi kolaborasi desain, seni, teknologi, hiburan, dan industri perhotelan ; dengan melibatkan desainer grafis, fotografer, videografer, skenografer, perupa, pematung, sineas dan pelaku kreatif lainnya. ICAD diselenggarakan setiap tahunnya untuk mengeksplorasi kekayaan dari kearifan lokal Indonesia melalui pendekatan kontemporer.

Pada penyelenggaraan yang ke-7 ini, ICAD mengusung tema SEVEN SCENES, dengan mengangkat angka ‘7’ yang merujuk pada simbol pencapaian. Tujuh seniman dan desainer yang dianggap telah sampai pada pencapaian di bidangnya masing-masing akan hadir dalam pameran utama, menampilkan karya-karya terbaik hasil kolaborasi dengan para deniman dan desainer muda. ICAD 2016 juga akan dilengkapi pameran pendamping (fringe events), penampilan khusus, seminar seni, desain, dan mode, lokakarya seni, serta festival film.

Jadi gituuu… Dan memang keren sih, salah satunya instalasi kayu yang menggantung di langit-langit koridor menuju tempat makan, yang banyak memancing orang untuk berfoto.

koridor

koridor

ada yang digantung-gantung

ada yang digantung-gantung

detil apa itu yang digantungin

detil apa itu yang digantungin

ini dibikin dari mesin ketik bekas lho!

ini dibikin dari mesin ketik bekas lho!

versi miniaturnya

versi miniaturnya

Dijelaskan bahwa urbanisasi yang gila-gilaan pada ujungnya menuntut kota untuk terus membangun, sementara ruang yang tersisa hanyalahย memanjang ke angkasa.

Lanjut melangkah, saya menjumpai pameran-pameran unik lainnya yang pada akhirnya membuat saya berdecak kagum seraya berujar dalam hati : “Anjir, anak seni kalo berekspresi keren amat ya!”

Let's go to the City and Fall in Love

Let’s go to the City and Fall in Love

Penjelasan untuk yang ini, dikatakan masyarakat perkotaan yang meniatkan diri untuk tampil beda pada akhirnya malah menjadikan terlihat hampir sempurna.

Lalu ada penjelasan tentang asal-usul Kemang, yang sungguh saya sukaaa. Sepintas mengingatkan serpihan-serpihan dari mana jatidiri Jakarta berasal. Pamerannya dinamakan :

Kemang RT/RW

Kemang RT/RW

Bentuknya seperti lipatan kertas sepanjang 12m yang digelar dan berisikan cerita-cerita tentang Kemang, asal-usul nama Kemang berasal, penduduk yang tinggal di Kemang pertama kali, jawara-jawara silat yang memang banyak di sekitaran Kemang bahkan sampai ke daerah Cipete sih sebenernya, hingga bagaimana ekspatriat mulai berdatangan yang kemudian menjadikan Kemang sebagai kawasan elit seperti sekarang ini.

Mari kita mulai satu-persatu, menggunakan foto-foto yang berhasil saya jepret melalui hp kamera yang seadanya ini. ehe

dulunya tuh tempat jin buang anak lho, wkwk

dulunya tuh tempat jin buang anak lho, wkwk

nama Kemang itu berasal dari nama buah

nama Kemang itu berasal dari nama buah

mantan jawara. jadi, dunia persilatan yang banyak jagoan silatnya itu ngumpul di Kemang

mantan jawara. jadi, dunia persilatan yang banyak jagoan silatnya itu ngumpul di Kemang

rumah-rumah penduduk Kemang dulu

rumah-rumah penduduk Kemang dulu

dulunya diperuntukkan untuk kompleks tentara

dulunya diperuntukkan untuk kompleks tentara

Hingga akhirnya, di tahun 70an ekspaktriat berdatangan dan menghuni Kemang. Sejak itulah, Kemang berubah image yang bisa dikiaskan Seminyak-nya Bali lah. Ohya, kalau ngomongin Kemang, jangan lupa alm. Bob Sadino, Kemang inilah tempat di mana Kemchicks berada. Ulasan alm. Om Bob ini juga dibahas di Kemang RT/RW.

Peristiwa bersejarah di Indonesia pun turut mempengaruhi keadaan di kemang, seperti saat terjadinya kerusuhan 98, banyak rumah yang dijual para penghuni ekspatriat, yang menjadikan banyak rumah kosong di mana-mana.

for rent

for rent

Demografi penduduk asli Kemang yakni orang Betawi, juga dibahas di sini. Ujungnya, orang-orang Betawi tinggal di gang-gang sempit, diapit oleh rumah-rumah gedong di sana-sini.

Betawi saat ini

Betawi saat ini

Penjelasan-penjelasan di atas, juga disajikan dalam bentuk timeline di dinding.

..and yes, u’ve seen that ‘go-go something’ on the right corner. Fenomena ojek online dan keberadaan kantor Go-jek di Kemang juga dibahas di sini.

kemang go 'green' :P

kemang go ‘green’ ๐Ÿ˜›

rumput kering dibikin sarang, kebon kosong tanemin sawi. jangan sampe generasi sekarang, lupa tradisinye sendiri~

rumput kering dibikin sarang, kebon kosong tanemin sawi. jangan sampe generasi sekarang, lupa tradisinye sendiri~

Puas muter-muter dan baca-baca di Kemang RT/RW ini, saya disusupi perasaan terharu, karena telah dikenalkan jatidiri salah satu sudut Jakarta. My greatest appreciation to Hermawan Tanzil, those who made this one. Dari penjelasan di buku panduan, proyek dokumentasi ini melibatkan berbagai masyarakat Kemang, seperti penyapu jalan, ekspatriat, sosialita, orang-orang ‘tua’, hingga penyapu jalan. Pokoknya lengkap semua penghuni Kemang deh.

semua tentang Kemang. termasuk info destinasi2 asik yang bisa dikunjungi

semua tentang Kemang. termasuk info destinasi2 asik yang bisa dikunjungi

Semoga akan ada lagi pameran asal-usul daerah Jakarta lainnya, seperti wilayah Ciganjur yang dulunya konon sebuah kerajaan, dan nama Ragunan yang berasal dari nama Pangeran Wiraguna. Asyik lho, ngeliat ‘wajah’ Jakarta yang sebenarnya kek gini ๐Ÿ˜€

Di samping Kemang RT/RW ini, digantunglah 3 buah monitor yang menayangkan sudut-sudut Jakarta lainnya. Ini agak dark sih, tapi sumpah keren!

The Missing Horizon

3 buah monitor tersebut menayangkan sudut-sudut kota, bangunan, yang pada akhirnya karena obsesi pembangungan menjadikan hilangnya cakrawala dari pandangan mata manusia. Garis pembatas antara langit dan bumi, ditandai dengan menjulangnya bangunan beton, tiang-tiang listrik, papan reklame, yang juga membatasi antarkelas manusia di Jakarta.

Ada juga, sabun-sabun ukiran yang sungguhlah paling tabik di antara kesemuanya. Rangkaian kotak-kotak sabun berukirkan wajah tokoh pejuang HAM yang hilang, dan jauh dari upaya pengungkapan kebenaran di bawah kekuasaan pemerintah yang rajin ‘mencuci tangan’. Sabun-sabun ini dijajakan oleh rangka besi berbentuk bocah-bocah pedagang pinggir jalan. Ide mengemas orang-orang hilang dengan sabun cuci tangan inilah yang makin membuat saya berpikir : “beraaat, beraaat.. orang seni mah beraaat…” Aselik ku frustasi karena segini kerennya, ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ So, let’s give applause to Agung Kurniawan, who made this one.

para penjaja

para penjaja

Ada beberapa benda lainnya yang juga dipamerkan, di antaranya :

semacam rajutan gitu

semacam rajutan gitu

tea pot

tea pot

lampu

lampu

lukisan (yaiyalah) :P

lukisan (yaiyalah) ๐Ÿ˜›

gerabah

gerabah

mungkin ini semacam jokes?

mungkin ini semacam jokes?

lego

lego

testimoni

testimoni

lagi berkeliling, nemu poster ini. berhubung ku ngefans sama beliau, masukin di post ini yak buat ngadem2in mata :P

lagi berkeliling, nemu poster ini. berhubung ku ngefans sama beliau, masukin di post ini yak buat ngadem2in mata ๐Ÿ˜›

Tertarik? Pengen dateng? Tenaang, meski ini postingan telat sebulan lebih *tabok leni* tapi masih berjalan kok pamerannya. ICAD 7th SEVEN SCENES ini berlangsung dari 7 Oktober – 7 Desember 2016, di lantai 1 hotel Grand Kemang, Jakarta.

Advertisements

5 thoughts on “Sejarah Kemang dan Keprihatinan Lainnya di ICAD 7th

  1. Takjub kalau lihat-lihat karya-karya demikian. Instalasi-instalasi kayak gitu, kudu fokus dan telaten hahaha.

    Berarti kalau saya ke Jakarta minta ditemenin Mbak Leni bisa yaaa ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s