Niat yang Menjadi Nyata di Gunung Guntur


“Saar, ada mobil Saaar. Ayo cepetan…” sontak kami pun berlari semampu kami, meski kaki sudah begitu pengkor akibat turun menuruni trek berkerikil dengan ngesot. Entah diletup api semangat dari mana, tubuh-tubuh yang terlalu lemah itu kembali bugar mengejar suara truk pickup sembari menerjang tumpukan batu bekas galian pasir…

Saat berada di Gunung Putri, saya dan Pandu melontarkan ajakan untuk mendaki gunung sambil nyebrang pulau. Tersebutlah teh Ghemi dan Salman mengiyakan untuk bergabung. Berikutnya, terbersitlah ide untuk latihan fisik di Gunung Guntur. Tanggal dipilih, pasukan disiapkan, berangkatlah kami ke Gunung Guntur dengan niat mengolah fisik. Sungguh mulutmu harimaumu itu benar nyata adanya, niat sederhana itu berubah menjadi nyata *elap airmata*.

29 Agustus 2014

Logistik dibeli, bawaan dipacking, pagi hari saya mengontak Sarah untuk menanyakan kembali kabarnya benar ikut atau tidak. Sarah dari jauh-jauh hari ragu ikut karena terkendala izin pergi, maka sebelum benar-benar berangkat meninggalkan Jakarta saya menunggu keputusan Sarah. Di menit-menit terakhir, muncullah wasap Sarah yang dengan riwilnya meminta saya dan Pandu benar-benar menunggu Sarah untuk naik bus. Dan benarlah, setibanya kami di terminal bayangan di Pasar Rebo datanglah Sarah seperti pelarian karena packing seadanya di menit-menit terakhir, huhuhu.

wp_20140830_001

Berjalanlah bus kami menuju Garut, namun apa nyana bus tersebut melewati rute yang tidak biasa, dengan ugal-ugalan. Sontak kami pun merasa mabuk kepayang dibuatnya.

30 Agutus 2014

Siang hari yang panas, tibalah kami di Garut. Kami pun meminta turun di pom bensin depan gang rute pendakian Gunung Guntur. Segera memanfaatkan momen untuk mengademkan diri di dalam musolah, kami lanjut jalan masuk gang.Β Tak berapa lama, muncullah truk pickup yang melintas dan memperbolehkan kami menumpang. Pandu duduk di belakang, sementara saya dan Sarah duduk di samping sopir. Terakhir ke Gunung Guntur ini 2013, ternyata keadaan sudah jauh berbeda. Rumah ketua RT yang biasa dijadikan pos mendaftar, sekarang sudah berbentuk basecamp formal layaknya di gunung-gunung lainnya. Banyak spanduk penanda lokasi basecamp, atau sekadar anjuran untuk membawa turun kembali sampah. Padahal dulu mah ga ada bedanya sama rumah-rumah lainnya, kalau ga nanya ya ga bakalan tahu itu tempat daftar dan lapor. Si situlah, kami bertemu dengan teh Ghemi bersama a Doni dan a Iqbal, Β tengah menunggu kami. Soal pendaftaran, data diri kami ini sudah dilaporkan, tinggal cuss saja menuju gunung Guntur. Dikabarkan, beberapa anggota rombongan lainnya telah lebih dulu berangkat, jadi kami ini yang paling di belakang.

Sepanjang perjalanan di truk, saya tak henti-hentinya mengobrol dengan Sarah. Menertawai kondisi truk yang oleh akibat jalanan berkontur jelek yang sekiranya membawa ibu-ibu hamil, pastilah sudah keguguran. huhuhu. Juga soal keheranannya Sarah, pengandaian manakala kami pulang dan menempuh rute yang sama akankah kami akan bernasib seperti kaum laki-laki kebanyakan yang kerap menumpang truk kalau mau ke Gunung Guntur ini duduk di belakang bahkan duduk di atas pasir yang diangkut? Oh yeah, kita bakal duduk di belakang dan menduduki pasir Sar….

Menjelang sore, setelah perut teraduk-teraduk akhirnya kami tiba di batas terakhir truk mampu menampung kami. Nasib naik Gunung Guntur yang kala itu masih dikeruki pasirnya ya ga punya titik pendakian yang sama. Sekarang naik dari mana, besok-besok karena lahannya digali ya naik lewat tempat yang beda. Seingat saya, dulu di 2013 saya naik mengikuti jalur sungai. Kali ini tidak, langsung nanjak ke atas dengan medan berkerikil yang sungguh khas Gunung Guntur banget. Sempat mencoba berkomunikasi dengan rombongan lainnya, ternyata jarak kami terlalu jauh. Kami memulai tepat di sisi tengah Gunung Guntur, sedangkan mereka dari sisi sebelah kanan. Kami pun menargetkan akan ngecamp setibanya di Puncak 1.

Starting Point – Puncak 1

…tapi rencana tinggallah rencana. Dari sore berganti senja, lalu petang, lalu maghrib sayup-sayup terdengar memenuhi udara, hingga langit sama sekali tak menerangi jalan kami, kami tetap masih di jalur berkemiringan mengesalkan dengan medan kerikil lembek yang kalau diinjak lama-lama hanya membuat dua kemungkinan : kalau ga merosot lagi ke bawah, ya gegulingan karena kerikil bulat-bulat yang menantang kaki kami untuk kepleset, huhu.

dsc_0021
meleng dikit gelinding

Dan saat langit samasekali gelap itulah, seiring dengan semangat kami yang mulai meredup karena tak ada lagi yang menyinari. Headlamp dipasang, saya melirik jam tangan dan mencatat di kepala bahwa pukul 7 malam adalah batas di mana bumi tak lagi mendapat sinar. Lewat dari itu, di manapun manusia membutuhkan alat penerangan.

Terus berjalan, hingga entah jam berapa kami tetap mendapati trek mengesalkan ini. Ingatan samar-samar tanah landai yang menandakan letak Puncak 1 makin jauh dari kenyataan di mata. Rombongan lain pun, sama dropnya seperti kami. Hanya berjalan dalam diam, kalau masih ada tenaga ya jalan sambil mengirim sinyal headlamp atau saling berteriak mengabarkan posisi. Sampai akhirnya saya, Sarah, teh Ghemi dan Pandu berhenti di spot sedikit datar hanya untuk meletakkan kompor : masak mie! Pokoknya sedih lah kalau diinget-inget mah, duduk pun miring, yang rata cuma seuprit space buat naruh kompor. Di saat itulah, saat tengah menyiapkan mie, Sarah yang tengah merapikan bawaannya tak sengaja menjatuhkan raincoat yang ia pinjam dari teman kampusnya. Dicari tetap ga ketemu, karena memang mustahil mencari barang di trek segini miring dan gelap.

Kelar mengisi perut, kami lanjut naik sampai akhirnya situasi benar-benar genting. Masing-masing mulai berpencar karena mencari pijakan yang enak ditapaki. Sempat teh Ghemi yang sudah mulai kelelahan, berjalan sendirian dan ketika dipanggil tak jua menyahut. Asli panik! Mungkin karena segitu lelahnya, bahkan untuk teriak menjawab panggilan sudah tak berselera. Begitu mendapat lapak lumayan, kami segera mengatur bawaan, bergantian menggendong keril.

Terus, terus, terus berjalan sambil merutuki trek yang sedemikian mengesalkan, menjelang tengah malam sampailah kami di Puncak 1. Dibantu dengan rombongan lain yang sudah lebih dahulu sampai yang terus mengirimkan tanda dari headlamp atau sekadar meneriaki kami bahwa Puncak 1 sudah dekat.

Puncak 1

Kamipun sedikit lega karena setidaknya tubuh ini sejenak terbebas dari trek yang menggempur seluruh jiwa raga, huhu. Setibanya di Puncak 1, kami leyeh-leyeh sebentar lalu mencari rombongan kami yang sudah lebih dahulu sampai. Setelah tenda terpasang, makan malam pun disiapkan. Tak banyak agenda, kami semua langsung menuju sleeping bag masing-masing.

Di saat itulah, saat semua mata hendak terpejam, terdengar bunyi kemrusuk di belakang tenda. Dibarengi dengan sesekali suara mendecap. Usut punya usut, apa yang kami takutkan selama ini ternyata terjadi…

….ada babi hutan T_T T_T *kraayyyy*

Segala cara kami lakukan, mulai dari membuat suara bising hingga menyoroti dengan sinar senter meskipun kami juga takut tenda kami ditubruk, huhu. Makanya kami berusaha mengusirnya dari dalam tenda. Setelah beberapa lama, berhentilah itu suara. Pas dilongok ke luar memang sudah tak ada sosoknya, tapi memang sampah bekas kami masak nasi goreng sudah amburadul. Pelajaran, kalau ngegunung nyimpen sampahnya yang rapi kalau perlu dijauhkan dari tenda sekalian. Usai hingar-bingar tersebut, kami kembali beristirahat.

31 Agustus 2014

Pagi pun menjelang, kami masak-masak lalu sarapan. Saya, Sarah dan Pandu sih ga ngoyo muncak, bisa ngecamp dari semalam aja udah bagus. huhu.

Agak siang, kami packing lalu beringsut turun. Setelah sebelumnya menyempatkan untuk berfoto bersama dulu. So here all of us…

full
full team
wp_20140831_10_51_04_pro
ini sih saya yang fotoin

Dan turunlah kami.. menembus belukar yang lumayan tinggi dan medan pasir berkerikil yang sama. Berhubung perjalanan turun ini agak santai dan masih disinari mentari, maka sempat diabadikanlah penampakan trek Gunung Guntur yang super mengesalkan hati ini, huhuhu..

wp_20140831_11_11_18_pro
turun langsung ke bawah

Berbagai macam gaya dilakukan dalam perjalanan turun ini baik oleh kami ataupun rombongan lain. Di antaranya ada yang..

wp_20140831_11_38_12_pro
jalan mundur sambil pegangan semak
wp_20140831_11_11_03_pro
pegangan pake tali. difoto dari jauh sih, jadi ga terlalu jelas.

Atau yang…

wp_20140831_11_01_35_pro
sambil dituntun sama pasangannya

Lumayan lama perjalanan turun ini, karena kemiringan tanah yang ekstrim sehingga bikin dengkul gemeteran tiap turun. Sempat kami beberapa kali break, karena miring semua ya duduknya mesti hati-hati khawatir gelinding.

wp_20140831_11_04_26_pro
kalau duduk ga seimbang bisa gelinding dgn mulus
wp_20140831_11_24_39_pro-2
partner nanjaknya akoh paling uwuwuw :3
wp_20140831_11_25_00_pro
wanita-wanita rimba. huhu

Menjelang sore, barulah kami sampai di bawah. Ga bawah banget sih, kami mampir dulu ke sungai untuk buka kompor dan makan-makan. Di situlah saya makin menyadari Gunung Guntur ini berubah banyak, di mana sekarang dekat tempat ambil air itulah berdiri lapak jualan sederhana beratapkan flysheet yang menjual makanan, minuman serta souvenir Gunung Guntur. Time flies~

Selesai makan, kami lanjut turun dan tiba di area penggalian pasir saat sore. Pedih, kami kesorean, susah dapat truk, malah ga ada. Sampai akhirnya meneguhkan hati untuk tabah meski kaki letoy, badan capek, kami terus melintasi gundukan batu dan pasir, mencoba mendapatkan tumpangan.

Di saat mulai putus asa itulah, berulang kali a Doni mengingatkan kami untuk tetap percaya harapan itu ada *tsah*. Selalu diucapkan : “kalo rejeki mah ga ke manaa, nanti juga dapet truk kalo rejeki mah.” Begitu terus, meski kami menyangsikan dengan hari yang sudah sore, tempat penggalian juga sepi, badan yang letoy. Bahkan sempat tersusun rencana kalau badan sudah tak mampu lagi berjalan, mungkin kami akan nenda di area penggalian pasir ini, karena untuk melangkahkan kakipun rasanya hayati sudah tak mampu. Hingga akhirnya, saat tengah letoy-letoynya, terdengarlah raungan truk yang entah berasal dari arah mana. Saya yang sedari tadi berjalan beriringan dengan Sarah, segera berteriak.

“Saar, ada mobil Saaar. Ayo cepetan…” sontak kami pun berlari semampu kami, meski kaki sudah begitu pengkor akibat turun menuruni trek berkerikil dengan ngesot. Entah diletup api semangat dari mana, tubuh-tubuh yang terlalu lemah itu kembali bugar mengejar suara truk pickup sembari menerjang tumpukan batu bekas galian pasir…

Padahal itu tadi badan udah pada letoy, bisa-bisanya masih pada bisa lari demi ngejar truk. Mungkin inilah yang disebut ‘the power of kepepet’, huhuhu.

Dan, seperti yang dikhawatirkan Sarah saat kemarin duduk di samping sopir, kali ini kami beramai-ramai memanjat dinding bak truk dan duduk di atas pasir.

wp_20140831_17_30_30_pro
Sarah (kerudung hitam) tengah merenungi semesta yang menjawab semua tanyanya kemarin πŸ˜›

Karena kami menumpang saat truk perjalanan pulang, maka kami pun barengan dengan akang-akang para penggali pasir. Di situlah, teteh-teteh rombongan kami yang notabene bisa berbincang dengan bahasa Sunda, bercanda dengan akang-akang tersebut. Mulai dari tanya jawab kami dari mana, hingga berbalas lagu dangdut atas aksi modus si akang tersebut. Yang saya inget sih, entah teh siapaa gitu nyanyi reff lagu ‘Berondong Tua’, hahaha.

Di perjalanan kami pun bertemu dengan rombongan pendaki lain yang bernasib sama, kehabisan truk untuk menumpang lalu berjalan kaki semampunya. Beberapa ikut kami, beberapa lainnya menolak karena menganggap rumah-rumah penduduk sudah dekat.

Menjelang maghrib, kami sampai di ujung gang menuju jalan raya. Kami pun mencari masjid di sekitar pinggir jalan untuk menumpang bersih-bersih, salat lalu beristirahat sejenak sambil merapikan bawaan. Yang dicari pun ketemu, setelah bersih-bersih beres kami pun berpencar menuju tempat pulang masing-masing.

Di dalam bus dalam perjalanan pulang itulah, saya merenungi tentang niat mendaki. Kalau diniatkan untuk latihan fisik, ujungnya bakal beneran dilatih sama gunungnya. Buktinya ya Gunung Guntur ini πŸ˜₯ πŸ˜₯

Advertisements

22 thoughts on “Niat yang Menjadi Nyata di Gunung Guntur

      1. Enggak papa, dulu saya follow tumblr nya mbak juga, dan sudah lama itu tak tinggal, gak nyangka nongol disini lagi. Btw, tulisannya masih tentang pendakian. Baguuuuuuus mbak. Bisa fokus.

      2. walah, sebelumnya kita ketemu di tumblr toh, ehehe. iyaa, saya memang khususkan kalau blog wordpress ini buat nyimpen memori2 perjalanan. kalau tumblr, kadang buat ngeluapin uneg2 aja πŸ˜€ πŸ˜€

  1. Ketawa muluk selama baca wkwkwkwk. Makin urunglah niat buat ngdaki nih gunung. Bye ajalah ~

  2. Ah, seruuu itu jalan2 & foto-fotonya, cuma aku ga kebayang aja udah cape pulang turun gunung trus kehabisan truk buat menumpang dan jalan kaki semampunya, hadeuuh aku belum kuat mental, bisa2 aku kena osteophorosis πŸ˜‘πŸ˜‘

  3. Serem. Khawatir ngegelundung kalo saya mah. Gak ada pohon buat pegangan yah. *pegangan tangan temen

    1. puncak 1 doang, atau puncak bayangan lah orang2 bilang mah. hahah iyaa, sesuatu banget deh guntur itu. miring dan kerikilnya super nyebelin πŸ˜€

  4. Saya sudah baca banyak cerita-cerita pendakian Gunung Guntur, termasuk ini, saya mendapati kesimpulan yang sama tentang gunung ini, walau saya belum pernah mendakinya: Gunung Guntur cocok bagi pendaki yang pengen menambah batas kesabaran πŸ˜€

    Selalu ada cerita-cerita, baik pra maupun pasca pendakian, di gunung yang kerikilnya sepertinya pengen diambilin saja buat bekal lempar jumrah biar gak ngeselin ini yaaaa hahaha. πŸ™‚

    1. kalo mau digambarkan, Guntur ini ibarat mas Rifqy jalan di atas tumpukan kerikil berkemiringan ekstrim. medan gunung2 lain yang berpasir mungkin nyebelin, tapi lebih nyebelin ya Guntur ini. miring ekstrim, tapi nginjek kerikil rasanya kek nginjek kelereng, bikin sewaktu-waktu bisa gelinding. andaikan bawa adonan semen, tinggal siram jalurnya langsung jadi cor-an mas, hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s