Nanjak Sambil Puasa di Gunung Putri


Berawal dari ketidakhadirannya kak Peye yang rusuh-rusuh ngerencanain trip ke Burangrang tapi dianya sendiri malah ga dateng, akhirnya grup fb Viator Mundi kala itu merencanakan untuk kembali ngetrip demi bisa ngumpul lagi. Sampai akhirnya muncullah ide dari kak Ilham, spesialisnya spot-spot kece tapi masih sepi di Bandung, ehehe. Kak Ilham ini menyebut satu tempat : Gunung Putri. Karena saat itu masih sangat jarang terdengar trip ke gunung ini, maka mengiyakanlah kami untuk ke sana meski bertepatan dengan bulan Ramadhan kala itu namun dijanjikan trek yang bersahabat, setujulah kami semua.

20 Juli 2014

Saya berangkat dari Jakarta bersama Pandu dengan bus tujuan Bandung. Lalu dari Terminal Leuwipanjang mencari angkot ke arah Ledeng, lalu setelahnya mencari angkot ke arah Lembang dan turun di pertigaan Gunung Putri. Dari situ, mencari ojek untuk akhirnya diturunkan di atas perbukitan yang merupakan akses terakhir sebelum masuk kawasan Gunung Putri. Saat itu hari sudah gelap, rencana untuk bukber di atas gunung pun sirnalah sudah, karena kabar terakhir dari teh Ghemi mereka pun sempat tersesat dan muter-muter ke arah Tangkuban Perahu. Di pinggir jalan dekat pemukiman warga, saya bingung untuk menentukan. Di satu sisi udara sangat dingin, keadaan begitu gelap, dan tak ada tanda-tanda sinyal senter dari rombongan Bandung yang katanya sudah sampai di puncak Gunung Putri. Sedangkan kalau mau balik pulang, sudah terlalu malam dan tukang ojek yang mengantar kami tadi pun sudah pergi. Gatau jalan, kami mencoba menenangkan diri dan singgah ke masjid yang kami temui. Beruntunglah, bapak-bapak di masjid tersebut menerangkan arah ke jalan yang biasa digunakan untuk naik Gunung Putri. Dan alhamdulillah, setelah sedari tadi komunikasi terputus-putus dengan rombongan Bandung karena terkendala sinyal dan pulsa, akhirnya masuk telepon dari nomor kak Peye yang mengabarkan akan ada beberapa orang yang turun untuk menjemput kami.

dsc_0035

masjid penenang hati yang lupa namanya apa

Berbekal dari arah yang diberi bapak-bapak di masjid, kami menyusuri jalan setapak menuju kawasan padat pepohonan yang sungguh gelap dan sepi sekali, sehingga mengharuskan kami mulai menyalakan headlamp. Kemudian muncullah a Iqbal dan Salman, yang mengajak kami ke arah jalan yang benar.

Trek Gunung Putri yang kami lewati kala itu berupa tanah berumput, yang meski ga terjal-terjal amat namun tanjakannya mampu membuat ngos-ngosan bagi tubuh-tubuh renta yang jarang latihan fisik, huhu. Hanya beberapa menit, sampailah kami di campground tempat teh Ghemi dan rombongan Bandung lainnya sedang menyiapkan makanan. Kami sampai di tkp hampir tengah malam, dan teman-teman lainnya tengah menyiapkan makanan. Hasil dari tanya-tanya, mereka bukannya menyiapkan makan malam, tapi untuk buka puasa yang dirapel dengan sahur, huhu. Kukira mereka udah buka puasa dari pas muter-muter di Tangkuban Perahu itu, ternyata mereka baru membatalkan puasa aja. Yha~

20140720_100914

para pemain di episode kali ini

Menu kali itu ada mie kenyal tapi enak yang saya lupa namanya apa padahal sempat nanya, juga sambel super pedes tapi enak buatan teh Vivit. Spesial sekali, bukber dirapel sahur, ehehe.

Kelar makan, kami ngobrol-ngobrol sebentar, karena tak lama semua terlelap di lapaknya masing-masing. Lelah.

21 Juli 2014

Pagi datang, kami masih leyeh-leyeh karena tak banyak agenda di pendakian kali ini. Hanya sekadar bertemu dan ngetrip bareng. Agak siang, barulah kami semua packing lalu berfoto dan bergegas pulang. Sejauh dari pantauan kali itu, Gunung Putri ini asik banget buat short trip. Medannya bersahabat, saking bersahabatnya kami waktu itu naik pas puasa ga terkuras-terkuras amat energinya, rute tempuhnya tak terlalu panjang, dan pemandangannya asik banget. Langit cerah, pemandangan dataran tinggi Lembang serta udara dingin sepoi-sepoi meski tak begitu tinggi lokasinya.

dsc_0040

beberes

dsc_0049

campground kami

dsc_0056

pemandangan Lembang

20140720_100903

background dataran tinggi Lembang

dsc_0054

lapak di sebelah campground kami : reminds me with Puncak Arcanya Argopuro

20140720_101205

berfoto di tugu puncak

20140720_101144

dengan susunan yang sedikit berbeda. ehehe

Selesai berfoto, kami bergegas turun dengan jalur yang berbeda. Kali ini kami melewati kebun sayur, dengan jarak tempuh yang lebih jauh dan memutar. Jalan kaki dari turun perbukitan menuju jalan raya lumayan jauh, karena hari menjelang siang ke sore saat kami tiba di pinggir jalan dan mencari angkot ke arah kostannya kak Peye.

dsc_0069

difoto karena inilah penampakan pohon alpukat

dsc_0062

mendadak pengen ngebecandain “hati-hati ditikung” huhu

dsc_0067

ceritanya ala-ala foto fisheye

dsc_0072

angkotnya penuh sm bawaan

Di kostannya kak Peye, kami menumpang bersih-bersih, gegoleran sambil liat foto, nonton video, sampai di mana hari terasa sore lalu saya dan Pandu pamit pulang ke Jakarta dengan sebelumnya diantar dengan berboncengan motor sampai ke tempat bus oleh kak Peye dan teh Listi.

p.s. : daku mencoba mengabadikan trip yang ini, apa daya dokumentasinya dikit dan ceritanya pun pendek sekali karena memang literally cuma numpang bobok di Gunung Putri semalem. huhuhu.

Advertisements

5 thoughts on “Nanjak Sambil Puasa di Gunung Putri

  1. Pingback: Niat yang Menjadi Nyata di Gunung Guntur – Leniaini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s