Geng Uno di Pendakian Gunung Sumbing


Semua dimulai dengan event Europe on Screen 2014, di mana kami saling bertemu untuk mendiskusikan kesiapan kami berangkat menuju Wonosobo, yang diskusinya kebanyakan ngebully ulah mas Eko yang tempo hari ngegunung bawa 4 kardus camilan. Setelah fixed semua pembagian tugas bawaan, berjanjilah kami untuk berkumpul kembali di Basecamp Gunung Sumbing di Desa Garung, karena mas Eko akan berangkat dari Klaten sementara saya, Lia, Ade dan Pandu akan berangkat dari Jakarta.

fullteam
fullteam

Jumat, 23 Mei 2014

Saya, Lia, Ade dan Pandu sudah bersiap di pangkalan bus Sinar Jaya Pasar Minggu. Saat tengah menunggu harap-harap cemas kenapa busnya belum dateng-dateng juga itu, saya melihat sosok yang rasanya saya kenal. Dan ternyata dia adalah : Firda! Teman semasa SMK dahulu yang rencananya mau ke Wonosobo juga, tapi dia ke Dieng-nya. Beklah, setelah reuni singkat, tak berapa lama muncullah bus yang kami tunggu. Kamipun segera meluncur menuju Wonosobo.

dsc_0450
buat kenang-kenangan~

Sabtu, 24 Mei 2014

Pagi-pagi kami telah sampai di Terminal Wonosobo yang kami habiskan dengan bersungut-sungut ria karena WCnya buat wudhu aja bayar -_- Setelah menunaikan subuh dan berkemas, kami lanjut mencari angkot menuju Desa Garung, tempat kami akan bertemu dengan mas Eko. Sementara Firda berlainan kendaraan, kami pun segera berlalu dari Terminal Wonosobo.

dsc_0452
dari dalam angkot

Menjelang siang, sampailah kami di depan gang menuju Basecamp Pendakian Gunung Sumbing. Segera pemandangan gunung di depan mata seolah menyambut kami yang sudah tak sabar menyesap petualangan baru.

dsc_0465
disambut dari kejauhan

Ternyata pun mas Eko sudah sampai di basecamp lebih dahulu dibanding kami. Kami pun segera melaksanakan registrasi simaksi yang dilanjut dengan mengisi perut. Meski tak ada janjian kostum, entah mengapa kostum kami hari ini semuanya merah-merah, kecuali Pandu yang kekeuh pakai flanel biru.

dsc_0471
sarapan dulu, abaikan logo kausnya mas Eko
sam_0019
ceciwiknya merah semua 😮

Selesai repacking dan mengatur bawaan, kami meminta tolong anggota rombongan lain untuk memfotokan kami di depan plang nama basecamp.

sam_0020
depan basecamp
dsc_0472
tanda retribusi

Maka dimulailah perjalanan~

Kami merencanakan mengambil Jalur Baru, meski katanya Jalur Baru ini setapak berbatu semua, jarak tempuhnya yang lebih panjang, serta tanjakannya yang lebih sadis. Atas pertimbangan “ah setapak berbatu..” maka kami pilih jalur baru, meski di antara kami belum ada yang pernah melewati jalur tersebut, sedangkan mas Eko yang sudah pernah ke ke Gunung Sumbing pun selama ini lewatnya jalur lama.

dsc_0473

Awal medan yang kami lewati ialah ladang tembakau dengan setapak berbatu atau yang biasa disebut makadam, yang lumayan membuat pengkor kaki karena keras euy! Tengah hari kami memutuskan break sejenak di sela-sela ladang untuk “buka nesting” yang literally nesting dan memasak mie bulgogi yang sejauh ini sampai hari ini postingan ini dipublikasikan, selalu membuat ingatan Lia dan Ade melayang ke trip Sumbing ini.

sam_0029
Lia feels like a queen : give command
sam_0030
para pengikutnya pun memasakkan lunch untuk Lia 😛
sam_0032
Ade yang manyun karena lapar :p
sam_0031
mie bulgogi yang sekarang susah ditemui di supermarket

Selepas makan, kami berjalan kembali. Medan yang kami temui mulai berganti jadi setapak tanah, yang rasanya sih masih lumayan nyesek juga tanjakannya. Meskipun pedih, hati ini serasa diobati dengan pemandangan Gunung Sindoro yang terlihat jelas di seberang sana.

dsc_0480
trek tanah
sam_0033
lapak sebelah yang memanggil-manggil~

Sempat kami berhenti saat saya melihat seekor cacing di tanah yang rasa-rasanya berbeda dari cacing kebanyakan. Pas dilihat memang bener beda sih, ada bentuk seperti martil-nya di kepalanya. Yah mirip-mirip kayak bentuk ikan pari martil gitu deh.

dsc_0483
is there any biologist can help me?

Di sini, Lia bertanya bagaimana kalau diperjalanan nanti hujan turun. Maka serempak dijawab dengan pakai jas hujan, yang kemudian Lia malah jumawa sendiri karena telah membawa jaket tebal yang katanya waterproof. Katanya… Padahal mah pas dicepretin air ya tetap nembus, tapi biar Lia senang ya kami iyakan kepercayaannya pada jaket putih emeshnya yang rasanya atuhlaaah bawa jaket putih buat ngegunung -_-‘

Pos 1 Bosweisen

Di Pos 1 ini terdapat lapak cukup untuk menampung beberapa tenda. Di sini kami rehat sejenak sembari mengumpulkan energi.

dsc_0489
Pos 1 Bosweisen
sam_0041
ceciwik berfoto

Kemudian kami menjumpai sungai yang aliran airnya dikit dan kering, yang setelah saya tanyakan mengapa bisa kering begini padahal sayang kalau ngegunung begini susah air, dijawab mas Eko dengan ladang-ladang tembakau yang kami jumpai di sepanjang perjalanan inilah jawabannya. Sungai menjadi kering, miskin air karena tanah yang sedianya menyimpan air tak lagi berfungsi karena ditanami tembakau yang akarnya pastilah tak seberapa bisa ‘menggenggam’ air.

Kami pun terdiam, dengan kenyataan yang simalakama itu. Di sini kami mengambil air sebagai tambahan perbekalan. Yaa meski airnya sedikit dan kotor, tapi tak apalah masih bisa dimanfaatkan.

dsc_0503
sedikit yang berharga
dsc_0498
Lia yang tengah ditatar~

Di sungai ini kami sempatkan untuk berwudhu dan menjamak salat yang tertunda.

dsc_0510
mumpung masih bisa merasakan wudhu pake air~

Selanjutnya kami terus melangkah, hingga hari menjelang sore lalu berganti malam, kami tak juga sampai di tempat yang sekiranya cukup memungkinkan untuk mendirikan tenda. Sempat di saat-saat magrib itulah, Pandu yang mulai menampakkan gelagat panik dan menyuruh lonceng kecil yang kami gantungkan di ransel untuk dilepas semua. Saat gelap-gelap malam begitu, kami bertemu dengan pendaki lain yang mengatakan Pos 2 tak jauh lagi dari tempat kami. Namun saat berada di tkp dan melihat kondisi Pos 2 yang meski lapang dan cukup lega untuk mendirikan tenda, kami memilih untuk kembali berjalan meski badan sudah letih semua dan keadaan gelap yang kian menyusutkan semangat kami. Sampai akhirnya, kami menemukan spot yang disebut “memoriam” karena memang ada tugu memoriam. Setelah menanyakan ke Pandu apakah tempatnya memungkinkan sebab ada plakat batu yang rasanya cukup horor dan dijawab aman, bergegaslah kami merapikan bawaan dan membangun tenda untuk bermalam. Makanan pun dimasak, lepas kenyang kami tidur untuk mengistirahatkan badan dan memulihkan semangat.

Minggu, 25 Mei 2014

Pagi pun menjelang, dengan bunyi cuitan burung yang hinggap di dahan-dahan pohon di atas tenda kami berdiri. Saat pagi itulah, kami bisa melihat dengan jelas keadaan sekitar, termasuk kondisi plakat memoriam dan pesan bijak yang tertancap di pohon.

sam_0090
pemandangan di pintu tenda
dsc_0518
plakat pengingat
dsc_0519
“Alam pasti memberi jika kita mau berbagi”

Meski hari telah berganti, kami tak lantas buru-buru merapikan tas dan bergegas. Kami melewatkan pagi dengan leyeh-leyeh, diskusi ini-itu, sampai bully-bully bawa nama kampus. heheu. Suatu hal yang kami tarik sebagai esensi mendaki gunung, sebab kalau di kota mana bisa kita membicarakan hal-hal secara bebas dengan kritis? Suatu alasan yang rasanya sih dipergunakan Soe Hok Gie dalam mendaki gunung. Mas Eko sih yang bilang begitu~ Tak lupa, beberapa ronde main kartu uno, sebagai “sajen” yang diminta mas Eko jauh sesudah pertemuan kami di Erasmus Huis. Lia, Ade, Pandu dan mas Eko aja sih yang main, saya mah enggak, karena diajari beberapa kali pun tetap tak paham-paham juga. huhu

sam_0082
teh rosella dan kopi yang berdampingan
dsc_0517
tenda kami

Menjelang siang dan suasana tenda mulai terasa pengap karena matahari mulai meninggi, kami pun memutuskan untuk bubar dan kembali melanjutkan perjalanan. Tujuan kami hari itu adalah mencapai Pasar Setan.

Dan jalan menuju Pasar Setan inilah, sungguh membuat lutut menjadi goyah. Dimulai dari trek tanah yang menanjak dan super licin, hingga kabut yang tak jua menghilang.

sam_0107
miringnya begini
sam_0099
nanjaknya begini
sam_0110
dan kabutnya begini

Menjelang sore, kami sampai juga di Pasar Setan yang berupa punggungan terbuka yang sungguh tak dapat dibayangkan angin macam apa yang kelak menghajar tenda kami di malam hari. Karena lapaknya cukup luas, saya pun membangun tenda kapasitas 2 orang yang sedari kemarin tak bisa dibuka karena keterbatasan lahan. Hitung-hitung tes drive tenda baru~~ Meski saat postingan ini dipublikasikan sih tendanya sudah berpindah tangan dari saya, wkwk

Setelah tenda berdiri, kami pun menyiapkan makan malam dengan Lia sebagai juru cuci nesting. wkwk Pokoknya di trip ini sebisa mungkin kami melibatkan Lia di segala aspek, sebagai bentuk penataran karena ini pertama kalinya Lia ikut naik gunung, yang hari ini pun diakui Lia bahwa permintaannya ke taman bunga sebelumnya adalah upayanya agar bisa diajak mendaki gunung oleh saya. -_-

sam_0115-copy
Ade dan Lia dengan nesting yang tengah dibersihkannya

Dan sore itu, saat tengah menyiapkan makanan, tiba-tiba Ade berseru setelah membuka hp. Sebuah sms masuk mengabarkan ujian oral bahasa Rusia akan berlangsung lusa, tak ada ujian susulan, dan yang jadi native-nya orang Rusia asli. Melihat urgensi yang begitu mendesaknya, maka diputuskanlah perjalanan kami hanya sampai Pasar Setan ini, tak muncak, karena rencana besok turun lalu pulang ke Jakarta untuk mengejar ujian maha pentingnya Ade. Karena perubahan rencana inilah, maka semua perbekalan makan kami buka, dan menu makan malam ini istimewa karena semua logistik hanya akan disisakan untuk perjalanan turun saja.

sam_0131
Ngadon pancake, dengan lock & lock saya yang jadi korban adukan garpunya Pandu yang ga kira-kira T_T
sam_0162
memberi topping pada pancake~
sam_0142
lapak dapur kami dengan rendang ayam dan mie goreng

Kenyang makan dan beberapa ronde uno, kami pun bersegera tidur. Dan saat itulah, apa yang menjadi penyebab spot ini dinamakan Pasar Setan terkuak semua. Kondisi saat itu hanya beberapa tenda yang berdiri miliki rombongan pendaki lain, dan sejak hari masih sore pun tak banyak aktivitas yang dilakukan. Tapi menjelang tidur, suara yang terdengar ramai sekali, mirip hiruk-pikuk kalau pendaki lagi kongkow gitu : suara orang ngobrol, sayup-sayup playlist musik, sesekali bunyi tertawa perempuan sewajarnya saat ngobrol, bahkan terdengar derap langkah kaki seolah pendaki lain tengah melintas di samping tenda kami, bahkan terdengar debam bunyi frame tenda dijatuhkan tanda seseorang hendak mendirikan tenda. Makin malam, suara-suara tersebut tak henti-hentinya, hingga sayapun lelah terjaga.

Senin, 27 Mei 2014

Begitu terbangun, saya langsung membuka tenda untuk melihat tetangga tenda sebelah yang semalam saya dengar tengah berepot-repot membangun tenda. Hasilnya : tak ada tenda satupun di sekitar tenda kami! Kalau suara orang berjalan okelah mungkin itu pendaki lain yang tengah melintas, tapi kalau suara frame tenda dibanting dan hiruk-pikuk suara seperti mendirikan tenda? pffft.

Pagi hari, kami sarapan dengan sisa logistik lalu melanjutkan perjalanan turun. Sejenak, kami memandang ke jalur arah puncak, menyampaikan salam pada tanah tinggi yang belum sempat kami kunjungi, lalu berfoto di sekitar plang nama Pasar Setan untuk terakhir kalinya sebagai kenang-kenangan sebelum pulang.

sam_0182
tenda kami
sam_0184
Sindoro di seberang yang terpampang jelas
sam_0195
Lia dan jaketnya yang katanya waterproof tapi ah~ sudahlah~
sam_0213
such a clear sky
sam_0219
ceritanya briefing sebelum turun

sam_0222

sam_0225
di plang nama Pasar Setan
sam_0227
cuss turun

Berbekal pengalaman sedihnya naik lewat Jalur Baru, maka saat turun ini kami memilih untuk mengambil Jalur Lama, yang memang rasanya sih ga securam  dan sepanjang dibandingkan saat kami naik kemarin.

sam_0231
masih sekitaran Pasar Setan tapi ngambil Jalur Lama

Di saat masih sekitaran area Pasar Setan inilah, kami berpapasan dengan rombongan pendaki lain yang sepertinya tengah melakukan diksar atau ekspedisi, semacamnya itulah karena bisa dilihat dari keseragaman outfit yang mana pakai sepatu gunung, keril besar, topi rimba, beda sekali dengan kami yang di antaranya pakai tote bag, huhuhu.

sam_0235
berpapasan

Karena aspek keharusan menuntaskan ekspedisi inilah, salah satu di antara rombongan tersebut yang teriak-teriak meringis kesakitan di sepanjang jalan yang rupanya sudah lelah tapi masih harus melanjutkan perjalanan. Prihatin, tapi apa daya kami hanya menonton pendaki tersebut yang ogah-ogahan naik bahkan di saat sudah sakit begitu masih saja menggendong keril di pundaknya.

Lepas intermezzo dadakan, kami melanjutkan perjalanan turun, dan mulai memasuki ciri khas Jalur Lama, yakni trek tanah merah di sepanjang jalan. Yah syukurlah, dibanding tanah lempung licin yang kami tapaki saat naik, huhu.

sam_0239
Pos 2 Jalur Baru

Perjalanan turun kami lakukan agak tergesa-gesa, karena mengejar bus menuju Jakarta. Hanya sesekali beristirahat untuk sekadar mengisi perut, lalu kembali melangkah.

sam_0240
trek tanah merah
dsc_0553
Ade dgn keril kap.100 & Mas Eko dgn tote bag  serta jari ngetrillnya. huhu
sam_0241
lumayan, tak selicin tanah lempung

Tengah hari, saat kami melewati campground luas yang juga merupakan Pos 1 Jalur Lama, kami memutuskan untuk membuka kompor dan menyeduh mie untuk mengganjal perut. Pos 1 ini rupanya sangat cocok untuk mendirikan tenda, karena lapaknya luaaaaaassss banget. Selain luas, bentuk campgroundnya ditata bertingkat, jadi bisa memuat banyak tenda.

sam_0251
Pos 1
sam_0245
campground Jalur Baru
sam_0249
luas kan?
sam_0250
rehat

Selesai makan, kami lanjut jalan lagi dan menjumpai setapak berbatu dan memasuki wilayah ladang tembakau. Turun gunung sambil nahan beban di makadam tuh sakitnya di engkel kakii nunjuk kaki

Berpayah-payah ria, kami menempuh jalur berbatu tersebut. Hingga dirasa sudah dekat dengan pemukiman, Ade dan Pandu yang masih tersisa tenaga memutuskan untuk berlari menuju basecamp, untuk kemudian Pandu kembali lagi dengan motornya Mas Eko guna menjemput kami-kami yang kakinya oglek ini.

dsc_0566
memasuki pemukiman

Tak berapa lama, eh lama juga deh kayaknya, Pandu muncul dan saya mendapat giliran pertama nangkring di jok motor sembari memangku kerilnya mas Eko sementara dirinya dan Lia melanjutkan perjalanan sambil menunggu giliran berikutnya. Fiuh, terberkatilah setapak berbatu ini yang meski sakit di kaki namun memudahkan motor untuk melaju di atasnya. Penuh syukur, saya sampai di bangunan basecamp dan menunggu rombongan yang tersisa.

Kemudian tak lama Pandu muncul lagi dengan kondisi jok motor yang kosong. Padahal Lia dan mas Eko kan kakinya oglek semua, jalan pun tertatih-tatih kok malah pada nolak naik motor? Hmmmm… wkwkwkwk. Yah gimanalah, sampai hari ini postingan ini dipost, peristiwa menolaknya Lia dan mas Eko diajak naik motor ini sungguh bully-able.

dsc_0565
sesaat sebelum saya naik motor, 2 orang yg nolak naik motor. wkwk

Menjelang petang, kami semua lengkap dan berkumpul di dalam basecamp. Setelah beres urusan mandi dan makan, kami eh mereka minus saya kembali melanjutkan beberapa putaran permainan uno. Kami tak jadi mengejar bus ke terminal karena ditelepon pun sudah tak ada bus ke Jakarta sore itu T_T.

sam_0257
inside basecamp

..sampai akhirnya muncul celetukan yang dibarengi membanting kartu : “Kalo tau gini mah mending kita muncak tadi, ngapain malah main uno di basecamp.” Huhu yah gimana, nasi sudah menjadi bubur, baiknya taburi saja kerupuk, kecap dan suwiran ayam saja.

sam_0255
“nguno” everywhere~

Selasa, 28 Mei 2014

Pagi menjelang, kami bergegas repacking untuk melanjutkan perjalanan pulang yang sempat tertunda. Dengan urutan yang sama, kami kembali mencari angkot untuk menuju Terminal Wonosobo.

sam_0258
di depan gang masuk desa

Sementara itu, mas Eko motoran entah menuju Klaten atau Jogja, berpisah dengan kami rombongan Jakarta ini.

sam_0261
nahan-keril-mode : on

Sesampainya di terminal, segeralah kami mengontak agen bus yang pastinya masih ada bus laah orang masih pagi. huhu.

sam_0263
nungguin bus

Cukup lama menunggu karena bus datang di siang hari, maka terangkutlah kami menuju Jakarta. Perjalanan pulang dengan mie goreng bulgogi dan permainan uno yang mengendap di dasar kepala tiap kali mengingat perjalanan pendakian yang satu ini.

Advertisements

12 Replies to “Geng Uno di Pendakian Gunung Sumbing”

  1. Wah perjalanannya keren..
    Tapi kayaknya tas nya berat banget yak. Wkwkwkw
    Btw. Lagi2 posting yang sedikit terlambat yak…
    Telat 2 tahunan gitu wkwkwkw

    1. dulu memang masa2 masih mau ngegembol full perlengkapan, sekarang mah bawa keperluan pribadi aja udah banyak ngeluhnya, hehehe

      memang ini telat sangaaat, huhu. kan rentang 2013-2016 blm nulis2, jadilah sekarang kejar setoran ngelunasin hutang tulisan. 😥 😥

  2. ya Allah.. you remember every-detail-things, Len.. aku aja lupa soal cacing dan jaket itu wkwkwk xD
    tapi Mie Bulgoginya, atuhlah aku mau lagiii :'((((((((((( tapi hanya nikmat saat di gunung, daaaaaaan.. pasti ga senikmat pas di Sumbing 😥
    dan.. terkutuklah hp yang mengirim pesan perusak plan ituh! wkwkwk -_-

    kangen nanjak!!

    1. ga semua, kecuali nasi goreng yg dimaki2 sm pandu dan mas eko krn pedes padahal susah air ituu, wkwk

      hooh, mungkin krn makannya di alam kali ya jadi rasanya wah, di rumah mah makan biasa aja. wkwkwk, kuinget itu hp flip, masih ada ga De hpnya? 😛
      ku juga kangen ngegunung, dah lama ga ngegembol lagi 😦

      1. hahaa.. itu aku ga bisa lupa len.. Mie Bulgogi, Nasgor terenak se-Sumbing, daaaaaaan sms sialan itu! wkwkwk..
        udh ilang Len.. durhaka dia, habis ngerjain kita, beberapa bulan kemudian dia melarikan diri wkwkw -_-

        ngegembel di Sumatera yuk Cyin~ hahah xD

      2. wkwkwk, memang sesuatu yak. palagi bentar2 nguno, kek orang bener :v

        walah, ckck
        eh ayooo? beneran nih? ntr kalo dpt tiket ramah di kantong ke sumatera, dirimu mesti mau jadi guide ato sekadar nemenin yak? *nada maksa* 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s