Berbunga-bunga di Taman Bunga Nusantara


Ada suatu waktu di mana ketika Lia merasa perlu jalan-jalan, lalu mengajukan idenya untuk bepergian yang agak santai, unyu, cewek banget, tapi masih murah di budget ke saya. Hingga teringatlah saya untuk berjalan-jalan syahdu di antara hamparan bunga. Setelah googling, saya menemukan 2 taman bunga recommended di Indonesia, yang pertama ialah Taman Bunga Nusantara yang berada di Cipanas, kawasan Puncak, Bogor dan satunya lagi Taman Bunga Selecta yang berlokasi di Malang. Saat itu, saya sungguh berharap untuk mengunjungi Taman Bunga Selecta, karena kerapatan bunganya yang sungguh instagrammable. Namun apa daya, kami hanya memiliki budget untuk ke Taman Bunga Nusantara saja yang hanya perlu ditempuh menggunakan bus tujuan Puncak. Dan impian suatu hari ke Taman Bunga Selecta yang ternyata menyimpan kisah sebagai tempat kesukaannya Soekarno untuk beristirahat, saya simpan dalam hati semoga suatu hari bisa mengunjungi.

18 April 2014

Saya berjanji bertemu dengan Lia di Terminal Kampung Rambutan, yang ketika hari masih pagi kami sudah berjumpa dan langsung menaiki bus tujuan Puncak. Saat itu, saya hanya berpatokan dengan perasaan pernah melihat plang nama Taman Bunga Nusantara setiap melewati kawasan Puncak. Setelah membuat berpesan pada kondektur dan sopir bus agar diturunkan di kawasan taman bunga, begitu bus melewati kawasan yang dimaksud segeralah kami dipanggil untuk turun. Saya lupa kawasannya disebut apa, tapi kalau berpesan minta diturunkan di taman bunga, sopir dan kondektur bus-bus Puncak pasti paham kok.

Setelah turun dari bus, kami lalu naik angkot 2 kali, yang nama arahnya pun saya sudah lupa. Wkwk Tapi kalau tanya-tanya orang sekitar, pasti diarahin kok.

gerbang
mari mulai!

Menjelang siang, kami pun sampai di depan gerbang Taman Bunga Nusantara, dan segera membeli karcis masuk yang sepaket dengan fasilitas Garden Tram.

tram-jendela
dari dalam Garden Tram

Naik Garden Tram ini syahdu banget, jalannya pelan, ada speaker yang ngasih tau penjelasan di tiap-tiap spot yang kita lewati. Yang jelas sih karena jalannya pelan, duduknya di pinggir jendela dengan angin sepoi-sepoi yang berhembus menampari wajah dan pemandangan bebungaan di kanan-kiri jalan, bikin hati serasa tenteram dan rasanya lebih cocok kalau ke taman bunga ini bareng pasangan. Meski momen sweet ini hanyalah sebatas angan-angan, karena sepertinya kaum lelaki mana mau diajak bermanis-manis ria di taman bunga. Yha -_-

dsc_0109
tiang-tiang bendera di sepanjang jalan menuju Rumah Kaca

Setelah puas berkeliling naik garden tram, kami kembali menelusuri spot-spot yang tadi dilewati dengan berjalan kaki. Dan tempat yang pertama kami masuki ialah rumah kaca ini, yang mau masuknya mesti bayar lagi.

dsc_0104
green (glass?) house

Di dalamnya sih bebungaan gitu, dan spot favorit saya adalah bangku taman dengan tanaman rambat yang menjalar di atas besi yang menyerupai gapura. Berasa duduk di pelaminan, ehehe.

Ke luar dari ruangan rumah kaca ini, kami lanjut ke spot Rumah Jepang, yang disebut-sebut Lia sebagai spot paling bagus di taman bunga ini. Demi foto ciamik? Okelah kita lanjut~

Kemudian kami menuju Taman Perancis, yang setelah digoogling kemudian hari, ciri utama taman gaya Perancis itu ya ada labirin, semak-semak yang dipangkas membentuk formasi memusat, yang menurut saya lengkaplah sudang dengan background entah gunung atau bukit, kalaupun gunung sih sepertinya Gede-Pangrango, mengingat lokasi Taman Bunga Nusantara ini memang sewilayah dengan TNGP.

Menurutku, Taman Perancis ini top-spotnya Taman Bunga Nusantara. Kalau liat kombinasi hijau-orange semak yang dipangkas, tak dapat disangsikan itulah Taman Bunga Nusantara, ehehe.

Tak jauh dari Taman Perancis, ada Taman Mawar yang sayangnya kerapatan mawarnya tak seperti yang ada di dongeng-dongeng (remember Beauty & The Beast?) huhu, bunga yang disusun menyerupai bentuk Barong, bentuk kelinci, dan hamparan bunga-bunga lainnya yang sungguh membuat hati ini berbunga-bunga kala melihatnya.

sam_2146
Barong yang ngelirik 😮
sam_2067
Lia di ujung mulut kelinci

 

Setelah dari Taman Mawar kami berkeliling hingga menemukan Taman Gaya Bali, yang cukup memberikan atmosfer layaknya suasana di Bali.Minus suasana pantainya tapi 😛

Selanjutnya dekat Taman Gaya Bali ini sih ada Taman Rahasia yang bentuknya labirin dan Menara Pandang, tapi karena hari sudah terlalu sore dan Taman Rahasia yang sedang dalam perawatan, kami skip dan kami menuju Taman Amerika.

dsc_0267
Taman Rahasia yang saat itu masih menjadi rahasia
dsc_0265
Menara Pandang

Sebelum menjejak di Taman Amerika, sampailah kami di spot one of my favourite flowers : Sunflower! Meski ga rapat dan ga padat-padat amat, tapi okelah buat liat gimana Bunga Matahari kalo ngumpul di satu petak.

dsc_0262

 

Di Taman Amerika ini, yang saya paling suka adalah Bungalownyaaaa. Akhirnya yah ngeliat saung gaya Amerika yang biasa di film dipake buat dansa-dansi 😛

sam_2134
cuma kurang partner dansanya aja sih Li, 😛

Di sekitaran Bungalow ini juga banyak kuntum-kuntum bunga, yang seperti biasa saya jadikan objek eksperimen mainin angle biar keliatan kayak di hamparan-hamparan gitu.

sam_2125
Thumbelina versi gede?

Dekat dengan area Taman Amerika ini ada Air Mancur Musikal, yang sesuai namanya ya gerakan pancuran airnya meliuk-liuk mengikuti alunan musik. Sayang sih musiknya yang slow-slow gitu, coba yang rada ngebeat, pasti seru jadinya. wkwk

 

dsc_0094
kolam air mancur

Dari Air Mancur Musikal ini, kami melipir mencari kedai untuk mengisi perut yang mulai bermain musik juga, yang ujungnya membawa kami menuju Kolam Angsa tempat bertengger patung besar berkonde yang ternyata Patung Dewi Kunti 😮 Gatau sih periwayatan dewa-dewi tuh gimana, tapi karena namanya Kunti ini ngeliatnya jadi takut karena kebayangnya Kunti yang hantu. ehehe

dsc_0195
Kunti yang rapi tanpa geraian rambut acak2annya

Lupakan soal gagal paham Patung Dewi Kuntinya yang ngebikin takut, danau ini berisikan angsa-angsa yang dari papan penjelasan sih banyak yang hidup di danau ini, ada macam-macam burung juga.

dsc_0225
sesiapa saja penghuni danau

Tapi yang paling favorit buatku adalah angsa hitamnya, karena jarang dijumpai angsa yang begini di Indonesia. Selain itu, jadi keinget film The Black Swan juga. Kita bisa loh ngasih makan angsa-angsa ini dengan beli pakan di kedai-kedai sekitaran danau, tapi karena saya dan Lia menganggap foto-foto saja sudah cukup berfaedah, maka kami tidak merogoh kantong untuk pemberian pakan penghuni danau tersebut.

 

dsc_0205
dua ekor hewan yang sering dipersonifikasikan bentuk cinta (apeu)

Selesai takjub di pinggiran danau ngeliatin gimana cara angsanya berenang, kami lanjut melangkah lagi dan melewati Taman Air. Uniknya di Taman Air ini ada tumbuhan papirus yang melegenda sebagai media tulis sejak jaman baheula itu, tapi karena hari sudah terlanjur sore dan kaki keburu capek, jadilah hanya melihat-lihat sekadarnya.

dsc_0235
nun di rerimbunan belakang sana ada Papirusnya. gatau yang mana tapi
dsc_0239
rerimbunan di setapak dekat Taman Air

Kemudian kami mengabadikan diri di Hamparan Bunga, Topiari Merak, bentuk Dinosaurus, Jam Raksasa serta membeli oleh-oleh gantungan kunci yang menurut kami unyu dan masih terjangkau sekali harganya dibandingkan dengan patung angsa hitam. huhu

dsc_0077
as u see its name board
sam_2055
merak yang siap mematuk
sam_2042
jam gede

Ke luar dari gerbang taman, hari sudah sore. Untunglah masih ada angkot yang lewat yang bisa mengantar kami pulang, dengan kenang-kenangan foto berdua yang difotokan tukang ojek setempat yang merasa iba melihat kami grasak-grusuk nyoba selfie tapi ga dapet-dapet. wkwk

sam_2157
untunglah ada foto berduanya 😛

Meski sudah telat kebangetan ngepost catper kali ini, tapi masih dimaafkan kok sama Lia, yang ujungnya malah menimbulkan rasa kepengen lagi ke Taman Bunga Nusantara ini. Karena beneran enak sih berjam-jam melintasi taman, ngeliat bebungaan, bikin hati terasa syahdu gitu. Gak heran sosialita dansa-dansi Eropa sana di novel-novel klasik selalu digambarkan punya taman dan agenda jalan-jalan di taman setiap harinya. Selain itu, ternyata masih banyak spot-spot lainnya yang terlewatkan yang setelah googling di kemudian hari kok rasanya sayang sekali kalo belum pernah mengunjungi. 😀

Advertisements

32 thoughts on “Berbunga-bunga di Taman Bunga Nusantara”

      1. alhamdulillah ga lupa akun sih.wkwk masih aktif mantengin timeline blog sama sesekali komen di postingan orang. cuma kurang produktif aja karena isi blog ga bertambah2, huhu

    1. eh Selecta ku juga udah pernah, lebaran taun lalu tapi postingannya belum nongol karena hutang postingannya masih buanyaak.huhu
      kalo mampir2 ke jabar sempatkan ke taman bunga nusantara mas Rifqy, sampe capek keliling2nya di sini. ehehe 😀

    1. masamaa Ci. pan-kapan kalo bertandang ke jabar mampir ke sini yaa. seru keknya ngetrip ke taman bunga sama kamu, ku mau minta dikenalin bunga2an sama biologists nih :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s