Surga Impian di Jalur Candi Cethonya Gunung Lawu


Apa definisi surga impian menurutmu?

Bagi saya, surga yang selalu saya khayalkan dalam setiap perjalanan menjejakkan kaki di alam ialah menemui hamparan padang rumput, dengan oase di tengahnya di mana binatang hendak minum di kubangan airnya.

Imaji sepercik surga itu selalu membayang di dalam kepala, akibat kebanyakan nonton tayangan Natgeo Wild sih keknya, tapi ya begitulah. Impian untuk merasakan oase itulah yang akhirnya menyampaikan saya pada catper-catper pendakian Gunung Lawu via Jalur Candi Cetho, di mana hutannya masih rapat, dan kabar adanya genangan air yang disebut Tapak Menjangan sebagai sumber air yang sering digunakan minum oleh para hewan. Mendengarnya, membuat saya lantas mengazamkan diri “Mesti ke sini!”

Di suatu malam, saya nge-twit yang kemudian segera disambar oleh Pandu. Saat itu, saya mengenal Pandu sebatas kenalan yang dikenal melalui twitter saat ditugaskan mencari anggota tambahan demi sharecost saat trip Gunung Argopuro, namun di perjalanan kami samasekali tak berpapasan karena berselisih start pendakian. Setelah saling menanyakan kabar, Pandu pun mengajak untuk mengadakan trip bareng, sebagai upaya pertemuan kami yang dulu tertunda di Argopuro. Sontak saya langsung menyebutkan Gunung Lawu via Candi Cetho yang kemudian segera diiyakan oleh Pandu. Selanjutnya, kami pun intens bertukar kabar mengenai persiapan tiket kereta, anggota pasukan maupun ittinerary pendakian.

Selanjutnya orang yang berhasil saya ajak ialah Tiya dan Adri, yang tak memerlukan banyak koordinasi karena sudah saling siap tinggal cuss. Hingga nantinya terjadilah peristiwa yang mungkin akan menjadi bahan tertawaan maupun bahan omelan di awal perjalanan ini…

Untuk penunjuk jalan, saya kontaklah Mas Eko, sebagai orang yang pernah saya tanya-tanyai dan ternyata doi pernah lewat jalur Candi Cetho ituu. Karena keberadaan Mas Eko saat itu di Klaten, maka kami akan bertemu di Terminal Tirtonadi, Solo.

Tiket kereta sudah siap, kami akan berangkat dari Stasiun Pasar Senen lalu tiba di Stasiun Solo Jebres.

Para pemain dalam episode kali ini...
Para pemain dalam episode kali ini…

21 Februari 2014

Informasi yang terupdate, Tiya, Adri dan Pandu sudah tiba di stasiun. Saya? Masih di kantor, berupaya bergegas apa daya terlalu lambat. Saya menaiki bus transjak dari Halte Blok M, lalu menuju Halte Harmoni untuk menjangkau Stasiun Pasar Senen. Karena gemas saya belum juga sampai, mereka tak henti mengirimi sms dan menelepon. Ada satu sms yang dikirimi oleh Adri yang hingga saat ini saya ingat :

“Kak, di mana? Jangan sampe kejadian kayak film 5cm nih”

“Lagi ngelewatin Monas. Tenang, trip kalo ada yang bikin deg-degannya yang bikin dikenang Dri”

…dan nyatanya, kejadian berangkat kami itulah yang akan selalu terkenang -_-

Karena bus transjak yang saya naiki masih harus transit untuk menuju Halte Stasiun Pasar Senen, saya akhirnya memutuskan untuk turun di situ lalu mencari ojek. Beruntunglah, saya menjumpai banyak kang ojek yang sudah ready. Awalnya saya menembak Rp 15.000 untuk ongkos, namun segera ditepis sang abang dengan alasan ke Stasiun Gambir saja sudah Rp 20.000, maka ke Stasiun Senen haruslah Rp 25.000. Tanpa berpanjang kalimat lagi, akhirnya saya iyakan lalu segera mengenakan helm.

Berkejaran dengan waktu, akhirnya sampai juga saya di Stasiun Pasar Senen. Dituruninnya cuma di depan jalan raya pula. Susah payah turun dari motor dengan menggembol keril berkapasitas full, saya segera merogoh saku baju untuk menyerahkan ongkos. Oh no, uang cash saya saat itu tidak seberapa. Hanya beberapa ribuan dan kepingan logam. Setelah dikumpulkan, jumlahnya hanya Rp 18.000, tiga ribunya pun berbentuk logam. Setengah menahan gugup, saya mencoba berterus terang kepada sang abang ojek :

“Yah bang, uang saya cuma segini. Gak nyampe 25ribu, ayo masuk ke dalem stasiun bang, ada temen saya, saya bisa pinjem”

“Ga usah neng”

“Ini bang tambahin recehannya”

“Ga usah”

Yah gimanalah, udah nawar di awal, pas bayar kurang uangnya pula -_- Selanjutnya, saya langsung berlari menuju peron, di mana keadaannya sudah hening, tak ada lagi antrean penumpang, dilatari suara klakson kereta menandakan hendak jalan.

Berupaya berlari dengan keril berkapasitas full ternyata susah sodara-sodaraaa. Di kejauhan, saya melihat Tiya, Adri dan Pandu tengah melambaikan tangan. Semuanya berkeril ‘tinggi’. Dalam hati, saya menyangsikan impian bisa switch tas di jalur nanti karena semuanya menggendong keril kapasitas besar. Saat di dekat mereka, semuanya menghamburkan tanya ke mana saja saya, kenapa lama, itu keretanya udah berangkat, udah ga boleh masuk, nanti naik bus aja. Merasa tak mau perjuangan ngojek dan bayar kurang saya sia-sia, saya segera nekat mendekati meja petugas pengecekan. Kemudian terjadilah percakapan berikut :

“Udah ga bisa dek”

(menyodorkan tiket kereta dan KTP dengan ngotot) “Ah udah ini pak!”

“Ya udah kejar kalo dapet”

Kami pun melewati meja pengecekan dengan tiket yang tidak dicek.

..dan kamipun mengejar. Dengan keril besar di punggung semua. Dan jalan ke peron kereta yang kami akan naiki tuh ngelewati terowongan gaes. By mean turun tangga, lalu jalan, lalu naik tangga, semua kami lakukan dengan keril. Saat terengah-engah sehabis berlari pasca turun dari ojek tadi, saya merasa hendak menyerah. Kemudian semuanya saling berpegangan tangan sambil berlari agar pengejaran ini tetap berlangsung. Begitu menaiki tangga terowongan, terlihatlah kereta yang sudah berjalan perlahan. UDAH JALAN YA CATET. Kemudian kamipun berlari lagi, yang kejadiannya malah lebih ngenes dari scene di film 5cm karena di kereta kami itu pintunya sudah tertutup semua. Pandu dan Adri yang terdepan dalam berlari pun mencoba mengetuk pintu kereta, yang mana di dalam gerbong sudah ada yang menggelar koran untuk tidur di bordes. Pintu pun diketuk lalu dibukakan oleh penumpang lain, kami semua susah payah naik dengan sisa-sisa napas yang tersedia, gak naik deh, lompat tepatnya. Lalu semuanya saling menarik ke dalam kereta, berjejalan di depan pintu, terengah-engah, muka memerah, kehabisan napas, dan yang pertama kali bersuara adalah Tiya dengan menanyakan : “Anak siapa sih kamu Leniii, anak siapaaaa?”

Sebuah pertanyaan yang kelak saya kenang dengan tertawa di sisa hidup saya berikutnya.

Setelah napas kami mereda, kami pun beringsut berjalan di antara bangku, dengan tatapan penumpang lainnya dong. Iyalah gimana ga diliatin, kereta udah jalan masih aja ada yang ngejar masuk -_- Akhirnya kami pun menemukan bangku yang sesuai dengan nomor yang tertera di tiket kami, seraya menghempaskan punggung dengan lega, dan semuanya menatap nanar kepada saya.

22 Februari 2014

Subuh menjelang, kami pun tiba di Stasiun Solo Jebres. Kami pun ke luar dari stasiun, dengan suara klakson kereta yang melatari. Percayalah, sejak itu kami agak trauma dengan suara klakson kereta.

Pandu pun mengontak saudaranya yang di Sukoharjo. Karena kami akan bertemu Mas Eko siang hari, maka kami akan singgah di rumah mbahnya Pandu untuk menghabiskan waktu. Kami pun menyusuri jalan untuk mencegat angkot. Tampak pasir hitam memenuhi trotoar, sisa abu vulkanik yang dikeluarkan Gunung Merapi saat erupsi beberapa hari sebelumnya kala itu.

Angkot pun dicegat, lalu kami naik hingga RSUD Sukoharjo. Dari situ, kami mencarter mobil pribadi untuk sampai di rumah mbahnya Pandu. Kanan-kiri jalan dihiasi sawah dengan hutan sesekali menyelingi, serta kabut yang masih menghiasi udara sekeliling. Kami tak banyak melakukan percakapan di dalam mobil kala itu. Saat hari sudah terang, sampailah kami di rumahnya mbah. Setelah bersalaman dengan empunya rumah, kami segera tergeletak di tikar. Tidur.

Agak siang, kami terbangun dan menyantap sarapan yang disediakan, kemudian bersih-bersih diri di kamar mandi. Saya pun menengok jendela, dan di samping rumah terdapat kandang ternak. Kemudian, terdengar suara sapi. SAPI GUYS, SAPI! Ehe, saya memang selalu heboh setiap mendengar suara sapi, seperti saat mendengar suara sapi di pos pendaftaran Gunung Argopuro di Desa Bermi.

Ini ada bunyi sapinya loh
Ini ada bunyi sapinya loh

Perut terisi, nyawa kembali pulih, bekal perjalanan yang kurang pun sudah dibeli, saya mengontak Mas Eko yang ternyata sudah sampai di Terminal Tirtonadi. Karena Mas Eko sering sekali bercanda, saya pun menanggapi biasa saja dan tidak melakukan apa-apa saat sms berisikan “Tolong sediakan ransel, celana panjang dan sarung. Jangan kaget lihat saya jadi pendaki 5cm” muncul di layar hp. Pikir saya ‘Ah, Mas Eko paling bercanda’.

Mendapat kabar Mas Eko sudah sampai di Solo, kami pun berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Kami dicarikan angkot untuk menuju Terminal Tirtonadi.

Sesampainya di terminal, kami lekas mencari keberadaan Mas Eko. Mau tau seperti apa keadaan Mas Eko saat kami jumpai? Begini kira-kira : Mas Eko tampil dengan kaus lengan pendek, celana jeans, jaket dililit di pinggang, sendal jepit, dan 2 buah kardus diikat tali rafia di kanan dan kiri tangannya. Gausah diceritain banyak-banyak deh, kira-kira aja kek gimana mau janjian nanjak gunung malah nemu manusia kek gitu di terminal 😦 Yang dijumpai pun cengengesan seraya bilang : “Ya kan udah kubilang Len, tolong bawain yang disms.” Tapi kan biasanya Mas Eko emang kalo ngomong pun sambil berteka-teki padahal bercanda. Tapi kan, tapi kan… Yaudalah 😦

Sementara saya berdiam diri karena bingung hendak dikemanakan isi 4 kardus tersebut, Pandu, Adri dan Tiya pun segera membongkar semua keril, memindahkan isinya ke keril lainnya yang masih memiliki ruang, dan mengisi entah ada berapa plastik beraneka jenis kue, roti dan mie goreng. Saya? Tak membantu, menonton seraya merekam kegiatan tersebut. Percayalah, di kemudian hari mengingat kejadian ini niscaya menimbulkan sedih di hati 😦 Namun demi keamanan perjalanan, Mas Eko memakai sendal gunung dan ponco milik saya, menggendong keril milik saya juga. Sehingga saya bergantian keril dengan Tiya.

Tiya, sebelum ganti properti
Tiya, sebelum ganti properti

Kami pun mencari bus menuju Candi Cetho, yang mana berarti menuju daerah Karanganyar. Kami pun menaiki bus yang ke arah tersebut, yang kemudian bus berhenti di Terminal Karangpandan yang ternyata mengangkut puluhan siswa-siswi berseragam pramuka pulang sekolah. Sontak bus pun terasa penuh.

Menjelang sore, kami sampai di area menuju Candi Cetho dengan rintik hujan membasahi bumi. Masih berbukit-bukit yang harus dilalui, karena letak Candi Cetho yang persis di kaki Gunung Lawu. Kami menunggu di pangkalan ojek sambil meneduh, seraya menawar ongkos kepada beberapa tukang ojek. Harga pun disepakati, sebesar Rp 15.000 per orang yang kemudian dirasa-rasa terlalu murah untuk medan menanjak curam dan jarak yang lumayan jauh, apalagi jika dibandingkan dengan tarif ojek yang biasa ditemui di kaki gunung lainnya kala hendak memulai pendakian. Setelah hujan mereda, bergiliran kami menaiki motor ojek masing-masing, dengan pemandangan ladang dan perbukitan silih berganti.

Hari benar-benar sore ketika kami tiba di gerbang masuk Candi Cetho. Langit masih gerimis dan dipenuhi kabut, kami membayar karcis masuk lalu memasuki kompleks candi. Saat tengah melihat-lihat dan berfoto, kabut bukannya menghilang malah menebal yang diiringi dengan hujan yang kembali turun. Kami pun berteduh di warung-warung yang telah kosong di sekitar candi. Tak jua mereda, kami pun menyiapkan makanan di bangku dan meja yang tersedia.

Hari mulai gelap, rencana awal untuk berkemah di jalur tak bisa terlaksana. Akhirnya kami memilih salah satu ruangan warung yang kosong untuk menumpang tidur. Dan sampai malam hujan masih saja turun membuat kami kedinginan.

23 Februari 2014

Pagi hari kami terbangun, dan kondisi kompleks candi sepi coy! Setelah memasak sarapan, kami bermaksud repacking. Semua bangku di luar warung basah akibat hujan semalam, semua keril diletakkan terbalik dengan posisi tali punggung menghadap ke atas. Saat itulah Adri berseloroh ke Pandu : “Bang taruh situ aja kerilnya, ga basah.” Dan seingat saya, saat itu lokasi yang dimaksud Adri beneran ga basah. Padahal itu bangku ga ditutup atap lho, masa sepanjang waktu hujan bisa kering gitu aja. Tapi karena masing-masing dari kami sibuk beberes, kami pun tak mempermasalahkannya.

Jalan berikutnya adalah setapak tanah, dan melewati satu air terjun lalu sampailah kami di Candi Kethek. Bentuk bangunannya berbeda dengan Candi Cetho yang mana tersusun dari batuan yang berbentuk bata, kalau Candi Kethek ini tersusun dari batu-batu yang terlihat kealamiannya. Apaansih Len? -_- Ehehe pokoknya gitu deh.

Kemudian kami berjalan kembali, hingga sampailah di Pos 1. Di seberangnya, terlihat perbukitan lain. Dari Pos 1 ini, bawaan sampah kami mulai banyak, tak bisa disisipi di kantung-kantung keril. Akhirnya dibikinlah siasat, pashmina saya dipergunakan layaknya kain gendongan, dengan Tiya menyandangnya bak mbok-mbok jamu. Di mana lagi coba ada ide se-brilian ini? Ngegunung pake properti mbok jamu? 😛

Berjalan lagi, hari mulai hujan hingga hari sudah siang. Di Pos 2, kami memutuskan untuk beristirahat dan makan siang. Masak-masak kami pun di tengah hujan yang membasahi, beruntunglah ada sebentuk gubuk yang bisa dipakai untuk berteduh. Namun Pos 2 ini tak cocok untuk berkemah, maka kami terus melanjutkan perjalanan.

Sore hari, kami sampai di Pos 3 yang terletak di lereng bukit dan menampilkan pemandangan pemukiman di bawah sana. Di sini kami lagi-lagi rehat, dan hanya di sinilah kami bertemu dengan rombongan pendaki lain. Sempat bercerita, mereka naik dan turun lewat jalur Candi Cetho ini karena motornya diparkir di pos pendaftaran bawah, padahal mah kalau bisa lewat jalur lain turunnya. Uh yeah, Candi Cetho memang jalurnya mantap, jalurnya sepi, tanjakan semua, ditambah berseberangan dengan bukit lainnya yang memiliki air terjun, mengakibatkan udara mengangkut air melulu. Hawanya dingin, kabut selalu muncul, dan hujan pastinya. Sempat mereka menawarkan rotinya karena bermaksud meringankan bawaan, kami malah menawarkan balik karena punya kami lebih banyak. Merasa ditolak, mereka kembali meyakinkan kami bahwa mereka tak butuh bekal lagi, namun kami pun bilang “Gapapa mas, kami sekeril isinya roti semua,” seraya menunjukkan isi keril yang memang isinya roti semua -_- Karena sudah percaya, malah jadi kami yang menawarkan roti yang syukurlah mereka terima. Mereka berpamitan, kami pun juga segera merapikan bawaan lanjut berjalan lagi.

Hari mulai gelap, trek masih saja menanjak. Begitu sampai di Pos 4, kami pun memutuskan untuk mendirikan tenda dan bermalam di situ. Karena hanya bawa 1 tenda, maka semua keril kami taruh di gubuk yang berada di Pos 4 agar suasana di dalam tenda lebih lega.

Acara masak-memasak pun dilakukan di Pos 4. Sempat ada kejadian keceplosan, saat memasak telur balado ada separuh telur yang malah dikomentari Adri “Gapapa bang, ntar juga ada yang makan.” Mendengarnya, kami semua langsung saling lirik dan berharap tak ada kejadian yang tak diharapkan. Salah omong cuyy, mana di jalur rombongan kami sendirian –– Selesai acara makan malam, beberapa merapikan keril agar tak kebasahan, Adri dan Tiya beberes di dalam tenda, dan saya berusaha menyalakan api unggun. Awalnya dibully Pandu dan Mas Eko, karena api tak juga menyala. Setelah lama berusaha dan bersikeras bisa sendiri, akhirnya saya dibantu Mas Eko, dan setelah itu api baru mau hidup –– Sebenarnya agak riskan sih main api di gunung, namun keadaan kami saat itu seharian hujan, dan sekeliling kami pun pohon bukan ilalang, jadi agak aman. Ditambah tempat Pos 4 yang berupa cerukan di lereng, jadi terhalang. Setelah merasa badan kembali hangat, api pun dimatikan dengan cermat dan saya masuk tenda. Di tenda pun, saya tak langsung tidur gara-gara jeruk saya ditemukan Mas Eko dan Pandu –– Duh jeruk gueeeeh T_T Akhirnya berbagilah itu jeruk yang tak seberapa banyak, lalu kami berhimpitan mencari posisi tidur. Karena Tiya dan Adri yang sudah tidur duluan dan dibangunkan susah, alhasil saya yang mengalah, saya tidur di bagian kaki mereka semua –– Sempat merasa kesal karena jauh-jauh bawa tenda, yang punya malah tidur di bagian kaki T_T Saat baru mulai terlelap, tiba-tiba dari luar tenda bunyi suara kibasan, macam bunyi yang ditimbulkan kalau matras dikibas gitu. Sontak saya, Pandu dan Mas Eko kembali terduduk dan saling tunjuk untuk ke luar tenda. Awalnya semuanya takut, tapi berhubung Pandu dan Mas Eko yang paling dekat dengan pintu tenda, maka merekalah yang ke luar untuk memastikan keril kami aman. Dan pas dibuka… jeng jeng jeeeng….

Keril kami gada yang berubah samasekali, semua aman, padahal saya sempat khawatir jangan-jangan bunyi tersebut dari keril, karena tumpukan keril tersebut memang ditutupi matras supaya terlindung dari basah. Bahkan setelah dipegang, tumpukan keril pun tak ada yang berubah –– yasudahlah, kami lanjut tidur. Setelah tengah malam, kepala saya yang posisinya di ujung tenda bersinggungan dengan jalur pendakian, merasa ditusuk-tusuk, atau apa ya, pokoknya seperti disentuh sesuatu yang serasa tajam dari permukaan tenda di luar. Karena saya menghindari parno setiap di alam begitu, saya hanya berpikir itu moncong babi hutan, karena babi hutan kan mulutnya ada runcing-runcingnya gitu. Barulah setelah berbulan dan bertahun-tahun berikutnya, saat diingat kembali itu bukan moncong hewan karena tak ada empuk-empuknya, itu lebih mirip jemari karena bentuknya berbatang-batang mirip jemari, dan ada ujung tajamnya seperti kuku yang panjang –

24 Februari 2014

Pagi pun datang, kami memasak pancake seadanya sebagai upaya mempergunakan teflon kecil yang dibawa-bawa dari rumah yang ternyata Adri yang lebih jago masaknya, bisa ngebalik adonan dari teflonnya langsung,wkwk. Selesai sarapan, kami pun melanjutkan perjalanan yang masih saja dengan kabut menggantung di udara.huft

Kami pun melewati jalur yang terus menanjak, tak habis-habis, dengan sedikit pemandangan terbuka karena di sekeliling hanyalah hutan pinus yang rapat. Mendekati wilayah Bulak Peperangan, barulah kami menjumpai sabana ilalang yang masih belum terlihat cantik-cantiknya, malah terkesan mistis karena masih saja kabut pekat menggantung di udara. Kemudian, sampailah kami di Bulak Peperangan, tempat yang sedari dulu hanya bisa saya idam-idamkan dari balik monitor karena menampilkan kesan syahdu tersendiri.

Please welcome, Bulak Peperangan~
Please welcome, Bulak Peperangan~

Dua buah bukit dengan pohon di puncaknya, hamparan sabana ilalang di tengah bukitnya, serta-merta membawa saya pada imaji untuk merekonstruksi bagaimana dulu peperangan yang konon terjadi di sini antara Brawijaya V dengan Raden Patah. Meskipun indah, sangat tidak dianjurkan bermalam di sini apalagi dengan jumlah rombongan yang sedikit karena kalau malam konon sering terdengar suara senjata beradu khas peperangan kerajaan jaman dulu. Bulak Peperangan ini juga disebut sebagai Pos 5, dan ada titik penanda perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di sini, kami membuka keril dan memasak perbekalan untuk makan siang. Cuaca di sini berangsur-angsur membaik, sinar matahari perlahan muncul dan mengahangatkan badan serta jiwa kami yang berhari-hari menghadapi hujan dan kabut melulu.

Setelah ngos-ngosan nanjak di Bulak
Setelah ngos-ngosan nanjak di Bulak

Selesai makan, kami kembali berjalan, menaiki jalur menanjak di tengah Bulak Peperangan menuju Tapak Menjangan, sebuah kubangan air di tengah sabana yang sedari dulu saya idam-idamkan sebagai salah satu “Goals” saya dalam perjalanan mengakrabi alam selama ini. Sebagai tempat penting bagi saya, saya pun berniat untuk memperbanyak foto di sini. Setelah mencicip dan mengambil air di kubangan, kami pun kembali berjalan.

Lama berjalan, kami rehat di bawah pohon sambil meneduh. Kontradiktif sekali, setelah sebelumnya kedinginan hingga memadamkan semangat, kali ini kami kepanasan. Saat itulah, saya yang mencoba melihat-lihat hasil foto di Tapak Menjangan tadi harus menelan bulat-bulat kekecewaan karena foto yang diambilkan Tiya tadi ternyata dalam format video. Merasa sedih, saya menutupi mata yang perlahan basah. Tiya pun setelah saya mengungkapkan kekecewaan, bermaksud untuk menemani sekiranya saya mau kembali ke Tapak Menjangan. Tapi itu udah jauh bro, mana panas menyengat. Ah sudahlah, saya yang masih belum bisa menenangkan diri menolak begitu diajak kembali jalan. Ngambek. Adri, Tiya dan Pandu pun berjalan duluan, sementara Mas Eko yang sudah seperti kakak sendiri, lebih ke arah sudah sering nanjak bareng saya sih, wkwk akhirnya menunggui saya. Bermenit-menit saya habiskan untuk ngambek, akhirnya saya mau kembali jalan dengan tak henti-hentinya Mas Eko berceloteh di sepanjang jalan yang mungkin dimaksudkan untuk menghibur. Di tengah perjalanan, mendekati Pasar Dieng muncullah Pandu menyusul saya dan Mas Eko karena khawatir sudah lama tak muncul-muncul juga. Saat bertemu Pandu, dengan rasa tak bersalah saya malah bilang : “Ngapain nyusul?” wkwk. Ya maap, kan dikirain ga bakal nyusul, memang salah saya juga sih kelamaan ngambeknya. Biar Pandu tak sia-sia menyusul, saya kasihkan jas hujan yang sedari ngambek tadi saya tenteng agar dibawakan. wkwk

Tibalah kami di tempat Tiya dan Adri menunggu, lalu kami beristirahat beberapa lama karena jarak ke tempat Mbok Yem sudah tak begitu jauh. Mendengar musik, leyeh-leyeh sambil mendengarkan lagunya Float-Pulang rasanya sudah begitu lama kami di jalur pendakian Gunung Lawu ini, sambil berkelakar lupa bentuk gayung seperti apa, Adri yang lupa main game gimana, dan pengandaian-pengandaian kegiatan di rumah lainnya. Pokoknya lagu Float yang kami dengar kala itu benar-benar menggambarkan kami juga mulai kangen rumah, huhu.

Selanjutnya kami melewati Pasar Dieng, sebuah area di mana banyak batu-batu bertebaran. Konon kalau melewati daerah ini jika tiba-tiba mendengar suara orang “bade tumbas nopo dek?” (mau beli apa dik?) * maka kita disarankan membuang batu, daun, atau benda apapun yang tersedia di sekeliling. Namun syukurlah kali itu kami tak mengalami kejadian atau suara aneh apapun, malah terdapat beberapa bapak-bapak yang sepertinya pendaki peziarah sedang merapikan dan menumpuk beberapa batu.

Berjalan terus, kami berjalan melewati beberapa bangunan dan di antaranya Hargo Dalem yang hanya melihat dari jauh, lalu sampailah di depan warung Mbok Yem yang sedari di perjalanan Mas Eko sebut-sebut akan melihat ayam terbang. Dan ternyata beneran banyak ayam, wkwk. Jinak-jinak semua, dikasih makanan langsung mendekat padahal sama orang asing lho. Setelah rehat dan melihat-lihat sekitar, kami pun mengangkat bawaan dan menempati tikar-tikar yang sudah disediakan di dalam. Saat itu tak ada pendaki lain seperti kami, hanya ada 2 bapak-bapak tidur di atas tikar yang sepertinya pendaki peziarah.

Kalau boleh, pendakian kami kali itu memang sangat ideal, karena ada sesi curhat dan evaluasi sembari menikmati teh hangat. Kami bercerita, terutama saya sih yang kesel karena ga dapet foto di Tapak Menjangan, karena tujuan utama saya ke Gunung Lawu ini ya kubangan airnya itu, bukan puncaknya. Kemudian Mas Eko yang menceritakan keadaannya dari Klaten, belum sempat ke Jogja untuk mengambil perlengkapan mendakinya makanya tak ubahnya pendaki 5cm yang memang lebih ngenes dibanding film 5cm itu sendiri sih.haha Lalu Tiya yang ternyata sedang haid, yang mungkin menjadi alasan mengapa kami tak habis-habis digempur hujan dan kabut di sepanjang jalan. Selain itu sih keknya karena saya dan Tiya menginjak patung kura-kura di tanah saat di Candi Cetho, yang ternyata pantangan. Ya gimana, kan gatau T_T Kemudian Pandu yang ternyata saat tidur di warung terbangun malam itu dan melihat sesosok hitam tengah duduk bersila di bangku-yang sepertinya bekas duduk sesosok makhluk itu yang menyebabkan ada area kering yang menyebabkan Adri bilang untuk menaruh keril. Kemudian saya, yang kepalanya dirogoh-rogoh saat tidur di Pos 4, yang saya pikir moncong babi hutan -_- Pokoknya semua teknis kami di jalur dibahas semua, supaya esoknya kami lebih tertata dan lebih baik lagi. Kemudian tak lupa, memesan pecel khas Mbok Yem, yang saat itu kami makan sih lauk biasa, mungkin pecelnya sudah habis.huhu

DSCN0033
Give a shot! Pake teh tapi..

Malam di dalam warung ternyata dingin sekali, mengingat lokasi warung memang sudah dekat dengan puncak. Mas Eko meminjam beberapa selimut milik warung. Saat semua mulai terpejam, di tikar sebelah kami terdengar suara grasak-grusuk seperti ada yang berlari. Padahal kan di warung cuma ada kami yang tidur di tikar tengah, Mbok Yem dan staffnya, bapak-bapak yang tidur di tikar sebelah kiri warung, sedangkan tikar sebelah kanan tuh kosooong. -_- Karena kondisi warung begitu gelap, kami pun hanya bangun sebentar lalu kembali melanjutkan tidur.

25 Februari 2014

Pagi datang, Mas Eko segera menginstruksikan kami untuk mengecek bawaan kalau-kalau ada yang hilang akibat suara kerusukan semalam.

DSCN0043
Rashengan di sunrisenya Mbok Yem

Tak ada yang hilang sih, lalu kami menyiapkan bekal muncak, tak sarapan dulu karena jarak puncak yang dekat. Lalu muncaklah kami, yang memakan waktu 15 menit menuju puncak. Di puncak, kami bertemu rombongan pendaki lain yang membangun tenda di sebelah tugu puncak.

Puas berfoto, kami pun turun menuju warung Mbok Yem. Saya, Pandu dan Adri terpisah dengan Tiya dan Mas Eko. Kami sempat nyasar lalu tiba di halaman belakang Hargo Dalem, yang seluruh bangunannya terbuat dari kayu dan beneran serem euy. Duh tau gitu ga mikir pengen ke sini deh pas dari Pasar Dieng kemarin >.< Kemudian berusaha mencari jalan yang benar, akhirnya ketemulah kami di warung Mbok Yem. Anehnya, baik naik maupun turun jarak tempuhnya sama-sama 15 menit.

Tak lama muncullah Tiya dan Mas Eko, lalu kami mulai memasak sarapan sebagai upaya mengisi perut sekaligus mengurangi bawaan. Selesai makan, kami pun bergegas turun tak lupa mengambil air di Sendang Drajat disebut-sebut sebagai air bertuah oleh Mas Eko, yang setelah dicicip rasanya biasa saja. Ehehe

Kami berencana turun mengambil jalur Cemoro Sewu, yang isinya kebanyakan setapak tangga berbatu yang sungguh menyiksa kaki yang mulai gemetaran. Sempat beristirahat makan puding di Pos 2, kami melanjutkan perjalanan turun.

DSC_0387
Mbok jamu dan setapak berbatu

Saat memasuki ladang, begitu banyak rumpun arbei yang memerah dan siap makan. Saya pun sibuk memetik arbei, yang rasanya malah seperti sedang panen arbei. Tiya, Pandu dan Adri yang berjalan lebih dahulu sempat menukarkan beberapa roti dan camilan dengan sebotol air minum kepada orang di ladang. Terus berjalan, kami melampaui ladang dan mendekati area gerbang Cemoro Sewu. Di situ sih saya, Tiya dan Mas Eko biasa-biasa saja, berjalan santai sambil menikmati arbei hasil petikan saya. Berbeda dengan Pandu dan Adri, yang saat melintasi pohon yang di batangnya berikatkan kain, mencium aroma tertentu yang langsung membuat mereka lari tunggang langgang.

Sesampainya di pos pendaftaran Cemoro Sewu, kami sejenak rehat, membersihkan diri, mencari jajanan, dan saya beserta Tiya yang sempat menyeberangi jalan karena tergiur plang nama yang menyebutkan area oleh-oleh stroberi, yang ternyata belum bisa dipanen T_T

Mencegat bus tujuan Terminal Karanganyar, kami pun naik. Di sepanjang bus, saya bercakap-cakap dengan ibu-ibu yang sehabis menjual sayurannya. Karena banyak dibalas dengan bahasa Jawa, saya lebih banyak iya-iya saja. Huft

Kami pun sampai di Terminal Karanganyar, untuk kemudian mencari kembali bus menuju Terminal Tirtonadi. Syukurlah saat itu di sepanjang bus kami tak menjumpai lagi rombongan anak pulang sekolah yang bisa menyesakkan bus. ehehe Saat petang, kami tiba di Terminal Tirtonadi, yang segera Mas Eko memisahkan diri karena hendak menuju Klaten atau Jogja kembali, entahlah. Sedangkan kami, mencari angkot menuju Stasiun Solo Jebres. Sesampainya di sekitaran stasiun, kami membeli cemilan untuk di kereta, sembari menunggu Adri yang kesusahan mencari ATM di sekitaran stasiun. Tak berapa lama, Adri pun datang naik becak dengan senyam-senyum kepada bapak becaknya saat turun.wkwk

Sempat mencoba makanan di sekitaran stasiun, yang di kemudian hari selalu saya cari-cari tiap berkunjung ke Solo ternyata tukangnya tak lagi berjualan T_T Saya pun sempat meminta diajak berfoto berlatarkan Sungai Bengawan Solo yang ada di depan stasiun, namun karena hari sudah malam hasilnya seadanya 😦

Seadanya
Seadanya

Karena tak ingin mengulang kembali memori ketinggalan kereta, kelar makan kami langsung memasuki stasiun yang dulu sih masih ada wc umum yang membolehkan mandi. Saya dan Tiya pun segera bernisiatif duluan mandi, yang sebenarnya dirasa masih kurang lama namun cukup membuat Pandu dan Adri merengut saat kami kembali.wkwk Sedangkan saat gantian kami menjaga keril, Pandu dan Adri mandinya kok cepet?

Yang ditunggu pun datang, akhirnya kami memasuki kereta, tanpa perlu berlari-lari seperti di Stasiun Pasar Senen tempo hari. huft Karena lelah, kami saling terdiam di kereta, hanya sesekali membully Tiya yang entah mengapa hujan di luar jendela malah pipinya basah. Saat ditanya kenapa, Tiya malah menjawab “Gapapa kok,” tapi bilangnya sambil ngusap mata.wkwkwk

Ah begitulah perjalanan kami ke Gunung Lawu, yang jika dipilihkan 1 lagu sebagai soundtracknya, maka lagunya Float yang 3 Hari untuk Selamanya rasa-rasanya cukup pantas mewakilkan berbagai peristiwa yang terjadi di perjalanan kami kala itu.

Advertisements

11 thoughts on “Surga Impian di Jalur Candi Cethonya Gunung Lawu”

    1. memang trip kali ini lumayan cocok buat dijadiin bahan memetwit tiap malem jumat di twitter sih, ehehe
      huhuhu, iyaa. emang berulah banget waktu itu sampe bikin gara2 😀 😀

  1. whowhow dulu naik lawu via cemoro sewu turun di cemoro kandang aja udah sekelibetan beberapa adegan mistis, hujan deras pula 😀
    mau naik lagi via cetho ya itu, kepanjangan…takutnya adegan mistisnya gak cuma sekelibetan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s