Mie Rebus Memorable di Curug Cibereum


Saya sempat menghadapi writer’s block, tapi ga gitu juga sih, saya masih bisa menuliskan catatan perjalanan ini meski memakan waktu hampir 3 tahun, hanya saja saya bingung hendak memberi judul apa, hingga kemudian ketika saya bertanya pada Lia Hastien tentang trip ini serta merta ia mengungkapkan rasa mie rebus yang disantap kala break waktu itu terasa enak.

Sebenarnya awalnya saya hendak memberi judul ‘Piknik Cantik’, tapi apa daya waktu itu tripnya ga cantik-cantik amat, tidurnya numpang di masjid, transportnya carter angkot, makannya di pinggir jalan, satu-satunya yang membikin cantik karena tanpa sadar warna jilbab kami kali itu tanpa disadari senada meski samasekali ga pernah janjian. Ya sudahlah, mari kita mulai. \m/

Semua berawal dari requestnya Ika kala itu, yang meminta kesempatan diajak ngebolang. Karena ini merupakan permulaan, saya pikir harus cari destinasi yang tak terlalu jauh dari Jakarta. Selain cari hemat, agak susah kalau mencari tempat-tempat yang jauh yang mengharuskan kami mengajukan cuti kerja. Selain itu, pertimbangan tempat yang tetap bernuansa alam namun tak membutuhkan persiapan peralatan yang terlalu banyak. Akhirnya diputuskanlah Curug Cibereum yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, yang tempatnya dekat, alam banget, view gunungnya masih bisa didapat. Setelahnya, saya mengajak Lia yang sebenarnya juga diajak Ika, lalu 2 orang tambahan yang diajak Ika yang belakangan kami ketahui bernama Irma dan Mayta. Setelah urusan rombongan siap, dijanjikanlah kami akan bertemu di Terminal Kampung Rambutan.

Sabtu, 15 Februari 2014

Sore itu saya lebih dahulu bertemu dengan Lia, lalu segera mengontak Ika yang sudah bersama Irma dan Mayta di antara jejeran bus. Setelah berkenalan, kami lalu menyempatkan diri untuk membeli nasi padang sebagai bekal selama perjalanan di bus. Kelar urusan bekal, kami menuju area yang sering disebut gerbang luar kota, di mana saat memasuki pintu masuknya kami ditarik retribusi sebesar Rp 2.000 per orang. Awalnya teman-teman hanya diam sambil mengangsurkan uang, lalu setelah berjalan agak jauhan barulah saya ceritakan kalau retribusi di terminal itu wajar, sebagai bentuk pungutan penerimaan daerah, bukan premanisme kok. Mendengarnya, teman-teman merasa lega. Lalu kami mencari bus tujuan Puncak, yang segera kami dapati tengah ngetem. Karena bus masih lama berangkat, saya memutuskan untuk membuka bungkusan nasi padang, hal ini dikarenakan saya tipe orang yang ga bisa lama-lama mendiamkan nasi padang menganggur. Gitu.  Agak malam, bus baru berangkat menuju kawasan Puncak.

Camera 360
Para Pelaku

Selama di dalam bus, tak banyak hal berarti yang kami lalui. Hanya duduk termenung, sesekali mengobrol, lalu tidur untuk menghapus rasa bosan. Menjelang tengah malam, kami mulai berada di kawasan Puncak, kemudian memutuskan turun di depan Masjid At-Ta’awun untuk menghabiskan malam. Ala-ala backpacker gitu, jadi kami menginap di masjid demi menghemat biaya.

Camera 360
Ta’Awun Malam Itu

Sesampainya di masjid, yang pertama kali kami lakukan adalah mencari lapak duduk untuk teman-teman memakan bekal. Sayang disayang, nasi padang yang lainnya terasa tak enak kala disuap, mungkin sudah mulai basi. Makanya, jangan pernah ngediemin nasi padang 😛

biar gelap yang penting inget kebersamaannya. huhu
biar gelap yang penting inget kebersamaannya. huhu

Selesai makan, kami menuju lantai atas, tempat jamaah perempuan berada. Selesai salat, kami memutuskan untuk segera tidur, menghemat tenaga untuk perjalanan esok hari. Awalnya kami merasa kikuk untuk tidur di dalam masjid, karena ga biasa itulho. Namun setelah melihat ke sekeliling, ternyata banyak yang tidur di masjid! Bahkan beberapa dari mereka prepare sleeping bag. Setengah manyun dan setengah menahan dingin, kami berupaya untuk terlelap. Karena tak jua tertidur, kami memutuskan untuk kembali turun dan mencari jajanan di luar. Akibat ulah kami yang bolak-balik itulah, kami diberi muka masam oleh sang penjaga penitipan sendal. :v

DSC_0100
Kelap-kelip Lampu Pedagang

Sesampainya kembali di jejeran pedagang, saya memesan bakso, sementara yang lainnya mencari jajanan kesukaannya. Dasar perempuan, baru juga mulai trip, melihat ada pernak-pernik yang bagus langsunglah dibeli. Setengah puas dan sisanya agak menyesal karena yang dibeli tuh tas ukuran sedang, padahal besok mau ngetrek di jalur, rempong kan kalau bawa oleh-oleh 😛

Setelah dirasa puas, akhirnya kami naik kembali menuju lantai atas untuk bersegera tidur, dengan gantian tugas nitip sendal biar ga dikenali penjaganya tentunya 😛

Minggu, 16 Februari 2014

Pagi menjelang, kami ikut jamaah salat subuh dengan curi-curi kesempatan menyikat gigi dan mencuci muka saat berwudhu. Setelah salat, kami berkeliling ruangan masjid untuk melihat-lihat. Lalu rehat sebentar, untuk menunggu matahari pagi muncul. Setelah yang ditunggu muncul dan memancarkan sinarnya, kami beranjak dari masjid untuk mencari sarapan.

 

Kami sarapan di warung pinggir jalan sekitar kawasan masjid, hingga dijumpailah satu warung yang sudah buka. Kami menyantap nasi goreng sederhana kala itu dengan suguhan pemandangan perkebunan teh yang menyembul di jendela ruangan. Setelah makan, kami mencari transport untuk membawa kami menuju kawasan taman nasional. Melihat kami bergerombol di pinggir jalan sambil kasak-kusuk, seorang sopir angkot yang tadinya saya lihat tengah menyantap bubur ayam menghampiri kami. Beliau menawarkan tumpangan, karena angkotnya masih kosong, sedangkan hari masih teramat pagi dan aktivitas belum banyak berjalan. Setelah memastikan sang sopir akan benar-benar membawa kami sampai ke halaman kantor taman nasional, kami segera memasuki angkot. Dengan harga Rp 10.000 per orang, kami rasa cukuplah yaa untuk mengangkut kami. Mengingat rasanya bakal agak susah juga mencari angkot lain di hari sepagi itu.

 

Beberapa lama kami di dalam angkot, hingga jalan yang dilewati angkot mulai menanjak yang menandakan sebentar lagi kami akan tiba di kantor taman nasional. Lalu sampailah kami di kantor taman nasional, sembari mengajak teman-teman untuk masuk dan mengenal kawasan Taman Nasional Gede-Pangrango, dengan melihat-lihat beberapa poster yang berisikan informasi jalur, habitat hewan, serta hal-hal menarik lainnya yang dahulu tak pernah saya tahu saat mendaki Gunung Gede karena langsung menuju pos pengecekan begitu saja, tak mengintip isi kantor taman nasional itu apa. Semacam mini museum begitulah.

Selesai melihat-lihat dan berfoto, kami menuju pos pendaftaran menuju Curug Cibereum, atau pos pendaftaran bagi para pendaki yang ingin menuju Puncak Gunung Gede maupun Puncak Pangrango. Ya, Curug Cibereum ini terletak di jalur awal pendakian gunung tersebut, via jalur Cibodas tentunya.

 

Setelah membayar karcis masuk, kami memulai perjalanan. Di awal jalur, setapak berbatu dan pepohonan di kanan-kiri menghiasi perjalanan. Setelah agak lama berjalan, sampailah kami di Telaga Biru. Dinamakan begitu konon karena warna airnya biru, meski yang kami jumpai kala itu sih warnanya hijau.

DSC_0137
Telaga Biru

Setelah berfoto, kami melanjutkan perjalanan, yang kemudian mengantarkan kami di area bernama Rawa Gayonggong, di mana semacam jembatan yang melintasi rawa dan semak belukar.

DSC_0246.JPG
Sampingnya Semak Belukar

Yang menarik adalaaaah.. belakangnya view gunung~ Lupa sih yang terpampang nyata di mata itu perwujudan Gunung Gede atau Pangrangonya, kalau kalian yang baca tahu mungkin bisa bisikin yang benarnya apa di kolom komen 😀

Terus berjalan, kami melewati plang nama persimpangan jalur menuju Puncak Gede atau Pangrango dan jalur menuju Curug Cibereum. Jalur menuju Curug Cibereum ini berupa jembatan seperti yang di Rawa Gayonggong tadi itu.

Terus berjalan, sampailah kami di Curug Cibereum. Hembusan angin yang berisikan percikan air menyentuh wajah, memberi kesegaran setelah sekian lama menjejak melintasi jalur. Kami pun segera mengabadikan momen.

DSC_0176.JPG
Ada 2 Air Terjun

Puas berfoto, kami beranjak mencari tempat untuk membuka bekal. Karena sekeliling air terjun masih saja penuh dengan pengunjung, kami berjalan menjauhi curug, mendekati jalur pulang. Akhirnya kami menemukan spot asik untuk membuka nesting dan memasak bekal, dengan aliran air di samping tempat kami berteduh.

Selanjutnya, kami berpiknik dengan menu makan mie rebus yang menurut Lia katanya sih enyak banget. Enaknya pake huruf ‘y’. Entah faktor air rebusannya langsung dari aliran sungai, atau memang karena lagi laper aja.

Selama berpiknik itulah, kami banyak diledeki pengunjung lain. Sebagian karena antimainstream gelar perabotan seperti main masak-masakan, karena kami semua perempuan, atau juga karena ngemodus pengen diajak nimbrung karena aroma mie rebus yang memenuhi udara di sekitar jalan setapak. Ehehe

Selesai makan kami melanjutkan perjalanan, di mana di tengah jalur Irma sempat merasa ingin ke belakang sedangkan di jalur mah gada arah belakang. plakk Akhirnya, Irma diberikan briefing mengenai cara asik dan cermat buang air di semak-semak. Heheu. Ciee pengalaman pertamanya Irma 😛

Kembali melanjutkan perjalanan, kami kembali berhenti di Rawa Gayonggong untuk berfoto bersama. Dan setelah melihat hasil fotonya, barulah kami tersadar, warna kerudung kami senada meski tak janjian untuk kompakan begitu. :3

Berjalan kembali menelusuri jalur yang sama, lalu kami mencari angkot untuk menuju persimpangan Cibodas, untuk kemudian mencari bus tujuan Jakarta. Sore harinya, kami telah sampai kembali di Terminal Kampung Rambutan dengan keadaan badan setengah meriang karena bus yang ugal-ugalan serta hawa dingin yang membuat badan terasa masuk angin. Selepas itu, kami berepencar untuk pulang ke rumah masing-masing.

P.S. : Maafkan dengan foto-foto yang terlalu banyak. Mau gimana lagi, namanya juga trip perempuan semua. Inipun belum semuanya ditampilkan 😛

 

Advertisements

11 Replies to “Mie Rebus Memorable di Curug Cibereum”

    1. karena eh karena, itu trip bertahun2 lalu dan sudah lupa nama orang2 dari rombongan lain.huhuhu
      setujuuu, cibereum memang rekomen banget buat piknik alam gitu. ga bosen2 jadinya. ehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s