Seribu Kunang-kunang di Gunung Burangrang


Semua berawal dari ajakan di grup facebook Viator Mundi, grup yang berasal dari kami yang bertemu sewaktu naik Gunung Guntur di bulan Oktober 2013 lalu. Karena dirasa perlu dibuatkan wadah untuk bersilaturahim, maka diputuskan untuk membuat grup facebook yang namanya Viator Mundi sebagai upaya bagi kami untuk terus menziarahi dan mengeksplorasi bumi.

Setelah fixed tanggal bagi kami untuk berangkat, diputuskanlah Gunung Burangrang di Bandung melalui jalur sekolah polisi atau sering disebut Pos Komando, yang dahulu belum banyak dikenal menjadi tujuan mendaki, atau dalam kata lain mencari antimainstream lah.

Rombongan Bandung siap berangkat, saya pun bergegas mencari barengan dari Jakarta. Dari kawan akrab, hadir Erlisa, Sarah, dan Dida temennya Sarah menyanggupi untuk ikut. Karena saya tak yakin kalau hanya perempuan, saya mencari teman laki-laki yang sekiranya mampu menjadi pawang bagi kami selama di perjalanan bus. Setelah beberapa kawan yang ditanyai tak bisa menyanggupi, saya mencoba Dika yang dahulu sempat menjadi tetangga sebelah tenda sewaktu mengunjungi Gunung Cikuray. Dan… respon pertama yang dilontarkan oleh Dika sewaktu diajak waktu itu adalah : “Kurang menarik Len.” Suatu kalimat yang sampai hari ini saat tulisan ini diposting, menjadi bahan bullyan dan nyinyiran karena nyatanya rasa-rasanya Dika sangat mensyukuri keikutsertaannya ke Gunung Burangrang kali itu. Huuuuu penonton bersorak

Jumat, 29 November 2013

Kami berkumpul di Terminal Kampung Rambutan, lalu naik Bus Primajasa tujuan Bandung. Menjelang tengah malam, bus sampai di daerah Cileunyi, lalu kami minta turun di situ karena sesuai arahan teh Ghemi lebih baik turun di situ. anaknya nurut Lalu mencari angkot menuju daerah kostannya teh Ghemi, beruntunglah di jam segitu larutnya masih ada angkot yang mau beroperasi. Kami minta turun di depan UIN Bandung, lalu menunggu teh Ghemi menjemput. Setelah beberapa saat menunggu, datanglah teh Ghemi dengan seseorang yang kelak kami ketahui bernama teh Ilma, seseorang yang menjadi penyebab bahan bullyan saya kepada Dika karena dulu pernah menolak diajak ikut ke trip ini. Huuuu sorakin lagi Setelah bertemu, teh Ghemi mengajak kami menuju markas PMI Bandung-kalau ga salah ingat, untuk menitipkan Dika. Kelar urusan penitipan manusia, kami menuju kostan teh Ghemi. Sementara Sarah, Dida dan Erlisa tidur nyenyak menyiapkan tenaga untuk esok paginya, saya, teh Ghemi dan teh Ilma malah mengadakan sesi curhat segala macam bahasan, sampai pada bahasan hal-hal menyeramkan yang ditemui kala mendaki gunung padahal besoknya kami mau naik gunung -_- Dan kami terus mengobrol sampai subuh, barulah ketika adzan berkumandang kami berhenti untuk salat lalu tidur. Agak kurang terpuji sebenarnya, harusnya anteng menyiapkan tenaga, tapi mau bagaimana lagi kalau ngumpul sesama perempuan rasanya kurang afdhal tanpa rerumpi. 😛

Sabtu, 30 November 2013

Pagi sekitaran jam 7, kami bangun lalu merapikan diri dan packing ulang untuk menyesuaikan barang bawaan. Setelah siap, kami menuju markas PMI yang semalam kami datangi untuk menjemput Dika. Kemudian kami mampir sebentar ke warung sekitaran kostannya teh Ghemi untuk membeli sayuran. Di pagi itu pula, saya melihat Gunung Manglayang yang sejak dulu disebut-sebut teh Ghemi dapat terlihat dari kostannya. Dan beneran keliatan lho 😮 Ku merasa takjub karena rasanya asik aja gitu tiap pagi dapet pemandangan gunung di kejauhan.

Setelah itu, kami mampir sebentar di minimarket untuk membeli beberapa keperluan, kemudian menuju halte TransBandung terdekat untuk mencapai Terminal Leuwipanjang. Sempat berdesak-desakan dengan penumpang lain karena kami membawa gembolan besar, akhirnya sampailah kami di Terminal Leuwipanjang, lalu mencari Damri untuk menuju Terminal Ledeng. Perjalanan lumayan lama karena seingat saya, sempat tidur nyenyak di Damri.

Menjelang siang, kami sampai di Terminal Ledeng. Di sana telah menunggu teh Ridha yang dulu saya kenal sewaktu ke Gunung Guntur, Kak Riza yang nyasar di blog saya pada postingan tentang Gunung Cikuray, dan beberapa kawan rombongan Bandung lainnya yang akan saya perkenalkan melalui foto di bawah ini :

Full Team

Kami melakukan registrasi pendakian di gerbang masuk ini, dulu dipungut Rp 10.000 untuk tiap orangnya. Selagi menyelesaikan urusan regis, sebagian di antaranya mengisi perbekalan air di keran wc karena selepas ini takkan lagi kami temui sumber air di sepanjang jalur pendakian. Setelah berfoto bersama, kami memulai pendakian.

Di awal jalur, kami melewati jajaran pohon pinus, hutan yang di beberapa titik tanahnya menanjak, hingga kanan-kiri semak rimbun yang kemudian mengantarkan kami pada pemandangan paling khas yang kami cari di Gunung Burangrang ini : Situ Lembang.

Selepas break di spot yang mengantarkan mata kami pada pemandangan Situ Lembang dari kejauhan, posisi  tim menjadi terpisah. Sebagai jamaah akhiriyah, saya, Erlisa, Sarah, Dida, dan kak Riza mengekor di belakang, lalu ketika hari menjelang ashar kami memutuskan break karena kami memang sedari awal pendakian belum ngemil-ngemil cantik, ditambah sudah melewati jam makan siang. Sembari saya dan kak Riza jamaahan salat, tiga jamaah akhiriyah lainnya menyiapkan makanan. Uh yeah, 3 orang di antara grup saya sedang tidak melaksanakan salat, yang mana di detik-detik ke depannya entah berpengaruh atau tidak pada kejadian selanjutnya.

Selesai mengurus perut, kami melanjutkan perjalanan dengan posisi kak Riza paling belakang sebagai sweeper. Kami terus berjalan, hingga langit mulai gelap dan pasukan di depan kian tak terjangkau keadaannya. Ketika hari benar-benar gelap, kami mulai panik karena sekian lama berjalan rasanya jalan tak habis-habis panjangnya, yang di kemudian hari saya pikir mungkin ada kaitannya dengan beberapa orang di tim kami yang sedang haid. Memang agak tricky, tapi begitulah keadaannya mendaki gunung bagi perempuan. Ada yang lurus-lurus saja tanpa hambatan. Selain panik, keadaan kami juga mulai lemah karena menyedikitkan istirahat demi mengejar grup yang di depan, juga keadaan kak Riza selaku laki-laki satu-satunya di tim kami beberapa kali mulai kehilangan fokus dan terpeleset jatuh. Khawatir situasi makin parah, kami memutuskan rehat sembari membetulkan semangat. Sebungkus biskuit dibuka, kemudian mendiskusikan kalau di depan ketemu lapak lumayan lebar untuk membangun tenda, kami akan bermalam di situ. Di saat itulah, saat kami sedang loyo-loyonya, hadir sekumpulan kunang-kunang di sela pepohonan di antara kami. Banyak sekali, seakan memberikan setitik harapan untuk kami terus bersemangat melangkah meski suasan hutan gelap dan kami tak tahu pasti apa yang akan kami lalui di jalur depan kami. Seingat saya, agak susah untuk menemui kunang-kunang saat ini, karena waktu saya ke Gunung Argopuro yang benar-benar terpencil pun, tak saya temui kunang-kunang. Entah mengapa, pertemuan dengan kunang-kunang yang segitu banyaknya kala itu membekas sekali di kepala sampai saat ini.

Setelah dirasa tenaga mulai pulih, saya pun membagi bawaan dengan Sarah dan Erlisa. Fram tenda di Erlisa, Nesting di Sarah. Iya, dulu keril di punggung saya itu isinya lengkap bak bawaan seorang soloist, nesting pula! Yang mana kalau sekarang disuruh bawa nesting, akan saya lempar jauh-jauh karena beratnya yang tak tertahankan #PerempuanLemah 😛 Kami pun melangkahkan kaki, putus asa lagi, karena tim di depan makin tak terjangkau, lapak untuk mendirikan tenda pun tak ketemu. Beruntunglah jalur saat itu lurus terus, tanpa percabangan dan di kiri-kanan pepohonan rapat, karena andai banyak percabangan jalan, saya tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada kami saat itu. Jalan, jalan terus, jalan lagi, jalan tak berkesudahan, sampai kami menemui spot menanjak, di saat itulah kami menemukan lagi tanda-tanda kehidupan. Serius, kami sedemikian lelah, sampai untuk saling berceloteh di jalur pun tak mampu saking panik ga ketemu-ketemu rombongan lain. Di tanjakan itulah, terlihat kerlip sinar headlamp maupun senter, yang ternyata kak Budi dan Dika tengah menunggu kami datang. Setelah membagi bawaan karena tenaga benar-benar terkuras, kami berusaha menaiki spot menanjak tersebut, yang ternyata merupakan penghubung menuju campground.

Jamaah akhiriyah mulai bisa bersuara setelah bertemu dengan kawan-kawan yang sudah lebih dulu tiba dan mulai memasak untuk makan malam. Kami yang terlambat sampai ini mulai membangun tenda, merapikan bawaan, untuk kemudian bergabung bersama yang lainnya untuk makan malam.

Mamam Malam

Mamam Malam

Selesai makan malam, saya tak lantas kembali ke tenda bersama Erlisa, Sarah dan Dida. Saya malah lanjut berkumpul dengan kawan-kawan lainnya, mengobrolkan banyak hal, mulai dari bertukar pengalaman saat mendaki gunung, curcol, debat Cimahi itu masuk teritori Bandung atau bukan, sampai main perang senter dengan tetangga tenda sebelah yang mana sorotan lampu senternya kak Budi itu sorotannya panjang (apasih, intinya kek gitu deh -_-) kalau susah ngebayangin mungkin seperti pedang-pedangannya Star Wars tapi ini pake sinar senter, gitu. Ehehe. Obrolan berlanjut hingga ke jauh malam, kemudian kami sudahi saat udara mulai dingin dan kabut mulai merayapi area sekeliling campground. Masuk tenda, saya mendapati Sarah, Erlisa dan Dida sudah terlelap.

Minggu, 1 Desember 2013

Pagi menjelang, kami langsung menuju tugu puncak dan mengesampingkan sarapan karena jaraknya yang letaknya tak jauh dari lokasi tenda kami. Berjalan tak lama, kami sampai di bangunan semen yang menandakan kaki kami tengah menjejak dataran setinggi 2050 mdpl.

Puas berfoto, kami kembali menuju tenda. Saya berkumpul dengan tim konsumsi yang tengah menyiapkan sarapan, karena saya cinta main masak-masakan \m/ Diiringi candaan, memasak makanan pun selesai lalu seluruh rombongan berkumpul untuk santap pagi.

Kelar sarapan, saya melangkah menuju tenda yang ternyata bawaan saya sebagian besar sudah dipacking-kan oleh Sarah selagi saya memasak tadi, uwuwuwu Sarah ini memang partner-nanjak-able :3

Selesai merapikan bawaan, kami menyempatkan dengan rombongan tenda sebelah yang di malam harinya kami ajak main perang-perangan cahaya senter.ehe

Perjalanan turun pun dilakukan, tak banyak hambatan karena berjalan lebih cepat dan sesekali kami berhenti untuk beristirahat. Namun anggapan saya saat itu salah, karena ternyata saat memasuki hutan pinus, saya, teh Ghemi, Dika, kak Budi, dan kak Riza yang awalnya menyintas jalan karena cari jalur yang enak dilewati malah terpisah dengan kawan-kawan lain -_-

Kami malah melintasi ladang, yang di satu titik tertentu diomeli pemburu karena keberadaan kami mengganggunya yang sedang mengintai hewan buruannya dari atas pohon -_-

Kami terus berjalan, setelah melewati ladang penduduk, kami berada di sebuah masjid untuk rehat sejenak sembari memikirkan jalan yang benar (?)

Pemandangannya lumayan, masjid tersebut terletak di atas dataran tinggi sehingga menampilkan pemandangan perbukitan lainnya.

Terus berjalan mengikuti jalanan aspal, kami malah menjumpai semacam lapangan berkuda, yang tentunya sayang jika dilewatkan tanpa berfoto ria.

Kami pun berjalan lagi, dan menemukan rerumputan pinggir jalan yang sungguh menggoda mata. Tak lupa, berfoto lagi. Pokoknya meskipun kami tengah terpisah dan tak tahu jalan pulang, kami malah menjalaninya dengan bahagia karena banyak menemukan spot foto yang bagus-bagus.

Terus mengikuti aspal, kami sampai di sebuah pos satpam kemudian bertanya manakah jalan yang benar (?) Ternyata kami cukup menuju jalan raya, yang mana ketika menjumpai warung kami malah berjajan ria menunggu kawan-kawan lainnya melintas. Saya lupa, pokoknya saat itu ada yang teleponan dengan rombongan lainnya yang telah lebih dulu tiba di post pendaftaran tempat kami regis kemarin. Sekian menit menunggu, angkot carteran yang ditumpangi kawan-kawan akhirnya datang, dan setibanya kami masuk ke angkot, malah rerumpi tentang kami yang nyasar tapi nemu spot foto banyak.ehe

Berupaya Menemukan Jalan yang Benar

Berupaya Menemukan Jalan yang Benar

Angkot pun tiba di Terminal Ledeng, kemudian di situlah kami berpencar untuk menuju jalan pulang masing-masing. Saya, Erlisa, Sarah, Dida, teh Ghemi, teh Ilma, dan Dika mencari bus menuju Terminal Leuwi Panjang. Menjelang sore, kami tiba di Terminal Leuwipanjang dan menyempatkan berfoto untuk terakhir kalinya dalam trip kali ini. Teh Ghemi dan teh Ilma pulang menuju Cibiru, Dika mencari bus MGI menuju Depok, tinggallah saya, Sarah dan Erlisa menaiki bus Primajasa menuju Kampung Rambutan.

Nemu foto tiap personil yang entah difoto pake kameranya siapa. Kayaknya sih kameranya kak Riza, soalnya foto dia sendiri yang gada candidnya. Kusertakan sebagai penutup serta sebagai kenang-kenangan ya :3

P.S. : all photos are credited by : Dika, kak Budi, dan kak Riza.

Advertisements

15 thoughts on “Seribu Kunang-kunang di Gunung Burangrang

  1. wah mantap nih Burangrang gunung yang pertama saya daki haha. Beruntung ya ga ditahan sama tentara di pos tentara gerbang angin

      • iya biasanya kalau kurang beruntung kita gaboleh naik karena bertepatan jadwal latihan mereka, atau mereka suka iseng nahan kita beberapa jam di pos baru boleh naik

      • walah, gitu toh. memang riskan sih, dulu pun sebelum ke Burangrang, ada selentingan kalau ke Burangrang suka ada peluru nyasar kalau lagi pada latihan.

    • ahahah, iyaa. perlengkapan utk si kecil memang harus banyak ya. tapi seru ih kalo main-main ke alam bareng anak kecil, lebih semangat dan antusias mereka dibanding yg udah pada tua-tua 😀

  2. wah, gunung Burangrang… Gunung Purba ya, jarang yang kesini, sempat ada teman kesini cerita mirip Gn. Gede katanya. Dan memang kalau sudah ke gunung yang jauh dari kota pasti ketemu serangga yang sudah jarang bisa kita lihat macam kunang-kunang ini.. ajaib lihatnya

    • mirip gede, di bagian tanjakan yang mau ke campgroundnya itu. iyaa, pengalaman ke beberapa gunung lainnya pun jarang bisa nemuin kunang-kunang 😀

  3. Pingback: Nanjak Sambil Puasa di Gunung Putri – Leniaini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s