Membumi Bukan Melangit di 0 MDPL Garut


Di bagian itu, Kugy dan Keenan akhirnya berkesempatan untuk merendam kaki mereka dalam air laut, di atas pasir pecahan kerang berwarna krim kekuningan. Ratusan anak ombak berkilau perak ditimpa sinar bulan. Karang-karang kecil bermunculan, tampak mengilap disepuh buih ombak. Selain mereka berdua, tak ada lagi orang di sana.

Oke, dua penggal paragraph di atas sudah cukup melukiskan buku apa yang sedang saya kulik. Teracuni dengan kisah cinta mereka yang super unyu menurut saya, membuat saya mengkhatamkan semua hal berbau Perahu Kertas karya Dee Lestari itu. Mulai dari novel, film, soundtrack, bahkan lagu instrumental backsound filmnya pun saya koleksi. Hingga akhirnya, sebagai agen neptunus yang baik di pergantian tahun pun saya ikut-ikutan ngetrip ke pantai sebagai bagian dari agenda mengunjungi markas. Saking korban filmnya, Rancabuaya pun dimasukkan dalam agenda saya di penghujung tahun 2013 lalu.
Menjelang Akhir Desember 2013,

Setelah browsing sana-sini, ternyata akses menuju pantai Rancabuaya demikian susahnya. Angkutan elf hanya ada di jam-jam tertentu. Karena terlalu mahal rasanya untuk menyewa mobil pribadi, terlintas ide untuk menyewa pick up mengingat dulu saat nanjak gunung Cikuray transportnya pun pakai pick up. Saat itu yang mengurus link pick up adalah kak Adi, maka bersegeralah saya mengontaknya apakah bisa carter pick up untuk ke pantai di selatan Garut itu. Si mamang pick up setelah dihubungi menjawab iyes, maka dimulailah pengumpulan ‘pasukan’ demi memuaskan hasrat saya sebagai korban film Perahu Kertas itu~~~ ditimpuk

Anggota pertama sudah pasti kak Adi, karena dialah yang memegang kontak pick up di Garut. Lalu selanjutnya diajaklah Erlisa. Karena saya kangen dengan personil di Cikuray, maka diajaklah pula Nisa, yang ternyata mengajak sahabat setetangga rumahnya bernama Vina. Terakhir karena dirasa personil berjakunnya masih kurang, diajaklah Ryo yang saya kenal saat mata separuh sepet akibat insiden kekurangan bus pulang di terminal Guntur usai mendaki gunung Guntur bulan lalu. Ditimbang-timbang (apasih Len) ternyata sedikit sekalii pasukan kali ini. Akhirnya di h-1 dengan jumawa saya mengirim sms ke Erlisa yang berbunyi :

 “Er, ini dikit banget orangnya. Ajak temen Er lagi, siapa kek.”

Fatmawati, 31 Desember 2013

Yang tahun baru masih kerja masih kerja mana suaranyaaaa?
Iyes, setelah anggota rombongan terkumpul pun, di hari-h pagi harinya saya masih bekerja dengan penuh cinta di kantor kesayangan dilempar ordner Karena izin cuti hanya didapat tengah hari kerja, maka janjian pun dilakukan saat siang. Hingga jam 12 siang, kerjaan saya ternyata belum rampung jua. Sejenak kasihan dengan Erlisa yang sudah ngungsi di masjid sekitar kantor sedari jam 11, dengan agak maksa akhirnya saya mengemis izin pada rekan seruangan kala itu. Dan seperti biasa, bukan Leni namanya kalau diajak janjian ga ngaret -_-

Tergesa meninggalkan kantor mengingat Nisa, Vina, kak Adi dan Ryo sudah ngumpul duluan di terminal Lebak Bulus, akhirnya sampailah saya di halte transjak untuk bertemu dengan temannya Erlisa yang nantinya pasti akan menjadi teman saya dan teman kita semua. Setelah rempong teleponan sana-sini, akhirnya kami bertemu dengan sesosok berjilbab yang memakai ransel muncul dari kerumunan angkot yang ngetem. Perempuan itu bernama Dentia. Puas kenalan, kami beringsut menuju musolah terminal tempat di mana kawan-kawan lainnya sudah jamuran menunggu sedari berjam-jam lalu.

Setelah pertemuan ketujuh belah pihak terjadi, segera kami cegat bus tujuan Garut.

para pelaku utama kali ini
para pelaku utama kali ini

Waktu berlalu, macet makin meraja di jalanan yang kami lalui karena sebagian besar orang tumpah ruah merayakan pergantian tahun. Saya? Merayakan sih engga, tapi berhubung ada waktu libur yang bisa dimaanfaatkan untuk ngetrip, ya saya capcus :3

Menjelang malam, barulah bus tiba di terminal Guntur. Menunggu sebentar, sampai akhirnya kami bertemu dengan sepasang mamang beserta pick upnya yang sudah siap mengantar kami. Setelah belanja-belinji keperluan yang dirasa masih kurang, berangkatlah kami menuju pantai Rancabuaya. \m/

nantinya kita naik ini lhooo
nantinya kita naik ini lhooo

Perjalanan memakan waktu yang lamaaaaaaaa sekali. Entah di daerah mana, kami melewati jalan beraspal yang kanan-kirinya hutan dan tak ada penerangan sama sekali. Kuat dugaan kala itu kami berada di daerah Pamengpeuk. Akang sopir di tengah perjalanan sempat menanyakan di antara lelaki rombongan kami adakah yang merokok, karena tidak ada, sebatang rokok dinyalakan lalu dibuang di tengah jalan. Semacam tanda permisi mungkin, mengingat jalan kala itu sepi dan lumayan menimbulkan suasana menyeramkan. Hampir tengah malam, kami berhenti sebentar di sebuah masjid untuk beristirahat sejenak dan melaksanakan salat. Kelar urusan, perjalanan dilanjut lagi.

Selama perjalanan yang alaihim gambreng lamanya, segala jenis percakapan kami bahas. Mulai dari perkenalan, nostalgia, ramah-tamah, hingga akhirnya satu-persatu personil mulai lelah dan tak ada yang bersuara lagi. Tinggallah saya dan Vina yang terlanjur asyik ngobrol, saat mengetahui Vina berasal dari Padang dan hebohnya saya menanyakan serba-serbi suntiang dan bentang alam Sumatera.

Hingga jam menunjukkan hampir tengah malam, barulah sampai kami di kawasan pantai Rancabuaya. Keadaan saat itu sangat tidak mengenakkan. Euphoria pergantian tahun membuat pantai ramai penuh bunyi petasan, jalanan padat pengunjung, hingga insiden geng motor yang personilnya saling berkelahi karena pengaruh alcohol.hih Frustasi, akhirnya kami sejenak mencoba mendekati laut, berharap bisa sejenak merasai damainya pasir pantai. Dan ternyataaah, karang semuah -_- Mencari lapak untuk mendirikan tenda pun tak berhasil, karena di antara kegelapan banyak pengunjung yang tidur begitu saja di sepanjang garis pantai. Kondisi yang hingar binger suaran knalpot motor juga menambah kemustahilan kami bisa tidur enak malam itu di pantai. Tak ada hal yang bisa dilakukan, saya, Vina dan Nisa mendekati hamparan karang, berharap bisa menemukan hal menarik untuk dicermati *tsaelah*

Di antara sela karang, kami menemukan bintang laut yang warnanya serupa dengan wujud karang. Tingkah kekanak-kanakan kami muncul, saat Vina iseng mencongkel paksa bintang laut ke luar air Nisa malah teriak-teriak merasa takut + kasihan. Sedangkan saya, makin Nisa histeris makin semangatlah saya mengompori Vina untuk segera memunculkan bintang laut. Yaa 11:12 lah dengan tingkah bocah perempuan setingkat SD yang riweuh berantem saat main masakan. Kira-kira seperti itu -_-‘

 

 

1 Januari 2014

Puas eksplorasi bintang laut, kami bergegas mencari kawan lainnya yang ternyata malah asyik menonton kembang api di langit malam. Usut punya usut, ternyata balai-balai di pinggir pantai disewakan seharga Rp 100.000 untuk bermalam. Mengingat keadaan yang riuh, akhirnya kami memutuskan untuk mencari lapak nendadi tempat lain. Terkumpul pasukan, naiklah kami ke atas pick up.

Pick up terus berjalan di rute yang ada, melewati semak ilalang yang panjang, hingga akhirnya tembus ke jalan raya yang kami tak tahu di mana. Selang tak berapa lama, di sebelah kanan jalan ada pantai terbuka yang cocok mendirikan tenda. Agak dekat dengan aspal jalanan ada rerumputan yang tumbuh, kami berjalan agak ke tengah menghindari kemungkinan ular yang bisa muncul dari semak-semak. Bongkar bawaan, maka mulailah kami mendirikan tenda.

Tenda terpasang, maka acara selanjutnya ialah masak-masak mengingat terakhir kali kami makan saat di terminal Lebak Bulus. Masakan terhidang, kak Adi menyisihkan sebagian makanan untuk akang sopir. Setelah makan bersama, seharusnya kami masuk ke tenda masing-masing. Dasar Ryo yang ternyata Alfam**t berjalan, terpal beberapa meter itu malah kami gunakan untuk tidur beratapkan langit, berlindung sleeping bag saja. Sedangkan akang sopir, memilih tidur di kursi kemudi pick up.

DSCN2116

Menit demi menit berlalu, saya tak juga terpejam. Karena dirasa sayang membawa tenda berat-berat dari Jakarta malah tak terpakai, saya memilih merebahkan diri di dalam. Tak berapa lama Vina menyusul saya ke dalam tenda, yang rupanya insom juga. Di dalam tenda klub rumpi kembali digelar. Mulai dari identitas, hobi yang ternyata sama-sama pembaca buku, hingga impian-impian hidup. Hingga menjelang subuh, mata masih belum dapat terpejam. Sampai akhirnya gonggongan anjing yang sepertinya dating dari lading-ladang di perbukitan tak henti menggonggongi kami. Mungkin heran, ada orang asing tak seperti biasanya. Beberapa menit gonggongan belum berhenti, hingga akhirnya kawanan yang bisa terlelap satu-persatu terbangun. Sembari mereka mengumpulkan nyawa, saya dan Vina yang merasa segar dan tak samasekali merasa lemas akibat tak tidur barang semenitpun malah beranjak menuju dekat garis pantai, menunggu sunrise sambil memainkan pasir pantai yang hitam.

Langit tertutup awan, gagal mendapatkan sunrise, saya kembali menuju tenda untuk menyiapkan sarapan. Beruntung semua personil sudah bangun. Segera Erlisa dan Ryo bertugas mengambil air. Ah ya satu lagi yang terlewat, campground kami kali itu strategis sekali. Di pinggir jalan, sedang di sebelah kanan merupakan muara sungai dan ada jembatan besi yang melintang di atasnya. Jadi untuk persediaan air tawar, kami dengan leluasa menuju pertemuan air sungai menuju pantai.

1501933_10202273796553603_131525640_n
campground kami

Menu sarapan pagi itu adalah pancake. Setelah mengulang insiden bocah-perempuan-yang-kali-ini-riweuh-main-masakan, sisa pencake yang tak terlahap kami simpan untuk bekal perjalanan. Selesai packing, kami penasaran main air. Ombak pantai kali itu cukup kencang. Beberapa orang seumuran kami juga bermunculan untuk main air. Karena masih malu-malu, kami hanya foto-foto di sekitaran karang di sebelah kiri.

Selesai bernarsis, perjalanan kembali dilanjutkan. Beberapa titik jalanan beraspal bagus, sebagian lainnya bergelombang yang mengakibatkan beberapa kali terantuk di atas pick up. Nisa dengan inisiatif mengajarkan berdiri kuda-kuda dari ilmu taekwondonya, agar kami tak cepat lelah menahan badan yang terguncang. Namun di balik mulai letoynya lutut, pemandangan di kanan-kiri jalan sungguh menyejukkan hati. Hamparan sawah dan di kejauhan terlihat garis pantai yang sungguh menentramkan hati.

Pick up berhenti, di sebuah pantai yang bernama Cicalobak. Dikelola secara sukarela oleh warga sekitar sepertinya, karena tak banyak fasilitas yang ada. Pasirnya masih hitam seperti di tempat camp kami tadi malam, berkarang, dan di pinggirnya banyak pohon pandan yang berduri tajam. Ditelusuri hingga ke ujung, kami tetap tak menemukan spot pantai berpasir kuning yang bagus seperti di film Perahu Kertas. Akhirnya kami berfoto-foto berlatar ombak yang menerpa karang cukup keras.  Hingga akhirnya sebuah insiden terjadi… Camdig Vina yang dipakai Nisa untuk memfoto saya ikut terhempas jatuh karena kaget ada ombak tinggi. Basah kameranya! wogh Panik, kami memutuskan untuk menghentikan foto-foto yaiyalah Dasar malu-malu kucing, bukannya segera kembali ke pick up, di sela karang yang lumayan aman saya dan Nisa malah main-main air lagi -_- Awalnya takut, lama-kelamaan malah susah berhenti.hih

Setelah baju basah semua terkena hempasan ombak, kami kembali ke pick up. Awalnya dikira langsung pulang, ternyata engga loh horeee \m/ Setelah perjalanan beberap menit, sampailah kami di pantai Santolo, spot yang tidak kami rencanakan sama sekali malah diantarkan oleh akang sopir yang baik hati dan doyan curhat ke kak Adi itu, hihihi

Kondisi pantai saat itu ramai namun kami tak mengindahkan melihat pasir yang berwarna putih kekuningan. Cerah broo, setelah 3 pantai isinya karang dan pasir hitam semua. Airnya juga biru, tak seperti pantai-pantai sebelumnya yang kami lalui.

 

Sudah menjadi rumus paten main air di pantai, awalnya malu-malu lama-lama malu-maluin. Iyap, awalnya di pinggir, lalu makin lama makin ke tengah, ikut caranya Nisa yang main-lompati-ombak-yang-datang, hingga mencoba gaya mengapung paling enak saat ombak datang. Ohya, kak Adi dan Ryo malah tak turun main air, mereka sudah berpuas diri menonton dan sibuk eksplorasi memfotokan kami dari kejauhan. Selain itu, karena kalau mereka ikutan nyebur ya kameranya gada yang njagain gitu :v

Setelah mata kami masing-masing mulai memerah, barulah kami menyerah dan merasa bosan hingga memutuskan untuk menyudahi bermain air :v

Berjalan ke luar pantai, semua toilet umum penuh. Putus asa mencari, kami merasa lapar dan akhirnya menyantap tahu bulat dan menyeduh mie di atas pick up. Sementara baju kami masih basah, perjalanan kembali dilanjutkan demi menghemat waktu.

Selang beberapa lama, kami singgah di masjid pinggir jalan untuk mandi dan berganti pakaian. Ah masjid memang penyelamat kita semuaaa ❤ ❤ ❤

Perjalanan pulang kembali dilanjutkan. Di jalan, hanya tersisa lelah yang hinggap di tubuh kami, tak ada keceriaan seperti kemarin. Beberapa kami tertidur meski beberapa kali terantuk pick up saat melewati jalan yang bergelombang. Hingga mendekati daerah perkotaan, jalanan mulai macet dan Dentia mulai merasa mabuk perjalanan. Kak adi yang sejatinya menjadi tempat akang sopir curhat dan berkeluh kesah :v dengan sigap bertukar posisi dan bergabung dengan saya, Nisa, Vina dan Ryo di belakang. Sedangkan Erlisa menemani Dentia di bangku depan.

Di saat itulah kekonyolan mulai muncul sebagai bentuk penghiburan yang gak kelar-kelar. Mulai dari ajang mirip selebriti di mana kak Adi sebagai Vidi Aldiano, Ryo yang mirip Judika tapi versi betawinya, menggoda teteh-teteh yang lewat di jalan, hingga kejadian mengejutkan kak Adi yang dengan sengaja bergenggaman tangan dengan Ryo sementara kami para hawa tercengang karena selama ini kak Adi kalem dan berwibawa layaknya caleg yang sedang dalam masa kampanye :v INGATKAH KALIAAN AKAN KEJADIAN INI? :v:v :v

mirip vidi & judika kan? :v
mirip vidi & judika kan? :v

Kekonyolan demi kekonyolan berlalu, nostalgia lama yang berulang ketika kami memandang Cikuray yang muncul di kejauhan, yang membangkitkan memori pendakian bersama kami yang telah lalu, hingga drama Nisa-Ryo yang layaknya Judika-Duma yang saling bersahutan lagu :v

Barulah menjelang magrib kami tiba di terminal Guntur, mengantarkan salam perpisahan kepada akang sopir yang telah sabar dan menemani kami selama perjalanan.

dadah mamang sopir~
dadah akang sopir~

Bus tujuan Jakarta kami naiki, mengakhiri trip kami kali ini. Bersiap untuk pulang, entah kapan lagi menyambangi markas Neptunus, memancarkan radar ala-ala film Perahu Kertas dan harapan-harapan konyol korban film lainnya :’)

tersangka utama yang membuat cerita perjalanan ini tertunda dipost sekian lama. tabok aja tabok
tersangka utama yang membuat cerita perjalanan ini tertunda dipost sekian lama. tabok aja tabok

aku pergi mendatangimu ke markas Nus, sengaja jauh-jauh dari Jakarta karena aku tahu aku butuh ruang untuk sekadar menghela nafas dan berbaring di tanah yang asing. memasrahkan diri bahwa aku sedang berada pada ketiadaan. kamu tahu Nus, aku menginsyafi bahwa hidup terkadang seperti ombak di lautan. awalnya aku takut mendekat karena belum terbiasa dengan aliranmu yang meninggi dan membesar. lalu rasa penasaran yang mendorongku untuk menari bersama aliran air. aku pasrah Nus, seperti ombak yang menghempas apa pun, sejauh apa pun telah pergi, ia pasti datang dan kembali ke daratan. dan baiknya begitu saja memaklumi urusan hati. hingga waktu yang akan menjawab hingga kapan entah ini akan terus dipertanyakan.

-Leni, Januari 2014

p.s. : photos are credited by kak Adi, Ryo & Vina

Advertisements

8 thoughts on “Membumi Bukan Melangit di 0 MDPL Garut”

  1. Asyik sekali bisa bersama teman-teman bertualang ke tempat yang baru, saya jadi kepengin dong sekali-sekali diajak :haha *sok akrab banget, maapkeun :hihi*.
    Eh tapi betul banget ya, ceritanya banyak memang kalau jalan ramai-ramai, meskipun waktu yang dihabiskan sejatinya tidak (terlalu) banyak, tapi cerita dan maknanya bisa jadi pelajaran buat, let’s say, setengah tahun ke depan :hihi. Apalagi itu karena dimulai dengan “perjuangan mencari setting cerita”, sesuatu yang juga paling demen saya lakukan (oke, sudah ada satu perjalanan saya khusus untuk mencari setting :hihi).

    Ditunggu cerita seru perjalanan lainnya ya Mbak :)).

    1. ahahaha, ayoo kak. saya juga selalu minat diajak ngebolang bareng kakak tiap liat postingan di blognya kakak, pengen gitu jalan2 sekalian dikulik sejarahnya,ehehe. btw kakak di jkt kan ya, minat ke taman museum prasasti ga? yg ada plakat soe hok gienya tuh. kapan2 yuk diagendakan sekalian kopdar, ehehe

      ehehe iya karena dilandasi motif tertentu jadinya ada keterlibatan batin antara trip dan selama ngejalaninnya 😀

  2. Senang rasanya ya pergi ke suatu tempat yang terinspirasi dari film/novel, berasa jadi pemeran tokoh dalam cerita dengan cerita yang sedikit berbeda. Saya jadi kangen camping di pantai Malang nih, lama sekali 😀

  3. YA ampun, ini buku lebay favoritku. Selalu berasa jadi Kugy tiap inget masa-masa baca ini.. 😀
    Sampai sekarang belum berhasil juga ke Rancabuaya.

  4. Wah saya baca serasa saya ikut sendiri dalam perjalanan itu…
    Sangat menyenangkan ya..
    Camping bersama teman-teman…
    Jadi teringat saat bujang dulu…
    Hiks..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s