Gunung Merbabu , It’s not About The Highest Peak But Friendship


Suatu ketika di Argopuro

“Eh ini tempat makannya siapa? Mas Andreas ya?”

“Iya Len, kamu bawa aja. Buatmu aja.”

“Jangan, oiya bulan depan Leni mau ke Merbabu, bisa sekalian ketemuan sambil balikin ya? Sama Mas Eko juga.”

“Wah iya kalau gitu.”

para tersangka utama di catper kali ini
para tersangka utama di catper kali ini

Stasiun Pasar Senen, 30 Agustus 2013

Saya memulai segala kerempongan ini dari kantor. Uyeah, ngegembol carrier full dari kantor, lalu naik transjak sampai  Harmoni, skip skip sampailah di Stasiun Pasar Senen. Agak ketar-ketir mengingat rencana naik kereta malam tapi rombongan terpisah. Datang sendiri-sendiri. Ada yang dari kantor, dari rumah lalu barengan dengan Zaki di Pejaten, entah ada yang darimana lagi berasal. Hingga jam 8 lewat rombongan belum terkumpul semua. Hingga akhirnya datanglah sosok-sosok yang paling saya dambakan sepanjang sore itu ; Sarah, Tiya, Erlisa, Nisa, Firman. Sebenarnya masih ada banyak personil Palaten ( Pecinta Alam Pejaten ) dan komunitas Wara-wiri Ora Urus yang tak dapat saya sebutkan satu-persatu namun tidak mengurangi rasa cinta dan hormat saya.

Setelah reuni singkat akibat terlalu lama tak bertemu, akhirnya kami melanjutkan masa-masa menanti datangnya jodoh kereta dengan memakan bekal makanan, nongkrong-nongkrong cakep di Indomaret, numpang salat di musolah, bagi-bagi tiket, dan kegiatan-kegiatan berfaedah lainnya yang dapat dilakukan di sebuah stasiun kereta api. Sekitar jam 11 malam, barulah kereta datang.

Bawaan hidup sudah terparkir dengan rapi, maka berangkatlah kami menuju Stasiun Semarang Poncol. Di dalam kereta kami mencoba mengusir kejenuhan dengan bermain kartu. Saya sedari bermingu-minggu lalu sudah sotoy mengajak main kartu di kereta agar seperti di film 5CM, ternyata hanya bisa menonton karena diajari ga bisa-bisa paham. Sebagai gantinya, malah Tiya, Firman dan Adri yang asyik memainkan kartu. Di situ, saya berperan sebagai tim peramai suasana -_-

main kartu

Capek haha-hihi, maka kami menunggu datangnya pagi dengan tertidur dalam satu gerbong yang entah mengapa penuh dengan rombongan kami sendiri.

Pagi tiba, dilewatkan dengan punggung pegal dan lelap tak seberapa khas bepergian jarak jauh dengan kereta. Hingga sampailah kami di Stasiun Semarang Poncol.. Horeee \m/

31 Agustus 2013

Kelar merapikan beban hidup yang kini tersampir dengan manis di punggung, kami melangkah ke luar stasiun. Tujuan berikutnya adalah Basecamp Wekas. Kami berangkat ke sana menumpang truk besar yang biasanya digunakan untuk mengangkut hewan-hewan ternak. Entahlah antara TKI selundupan atau hewan qurban yang siap didistribusikan. Tapi meski berdesakan, hiburan paling menyegarkan jiwa adalah saat kawan-kawan yang duduk di atas kepala truk harus tiba-tiba merunduk saat ada dahan pohon yang menjulur ke jalanan.

siap didistribusikan

Basecamp-Pos 1

Hari menjelang siang, sampailah kami di Basecamp Wekas atau yang biasa disebut Pos TPR. Kelar menumpang bersih-bersih, saya senyam-senyum karena melewati dapur basecamp yang masih menggunakan kompor kayu. Yup, pawon, mengingatkan saya akan kebiasaan almarhumah nenek kala lebaran menjerang ketupat di kompor kayu.

pos TPR
pos TPR

Selesai mengisi perut, maka dimulailah re-packing. Hingga saat saya menjulurkan kepala di halaman, muncullah sesosok laki-laki berjaket motor berwarna merah sedang melambai-lambai ke arah saya. Mas Eko! Sesuai kesepakatan 2 minggu yang lalu mestinya ia datang bersama Mas Andreas, namun karena berhalangan akhirnya Mas Eko berkendara motor sendirian dari Klaten.

Rencana awal kami dan Mas Eko hanya akan bertemu sambil dadah-dadah di puncak Merbabu. Namun rencana tinggallah rencana, pada akhirnya Mas Eko menggiring kelompok saya yang terdiri dari saya, Sarah, Tiya, Erlisa, Nisa dan Firman layaknya kakak pembina pramuka yang tengah mengawasi adik-adik penggalangnya.wkwkwk

Perjalanan dimulai dengan menapaki setapak berbatu, melintasi perkebunan warga, hingga sampailah di Pos 1. Yang membuat kami agak sedikit tercengang adalah Pos 1 itu berbentuk sebuah bangunan makam! pasang muka kaget

Pos 1
Pos 1

 

Perjalanan lalu mulai menyusuri dataran menanjak. Jalan, foto-foto, jalan lagi, istirahat, jalan, istirahat sambil bercanda, hingga akhirnya kami berhenti yang lama karena capek.wkwk

Mas Eko yang sudah jalan duluan, akhirnya balik menghampiri kelompok saya. Karena di antara kelompok kami saya yang menggunakan carrier, lainnya daypack maka Mas Eko mengambil alih fungsi penggendongan Deuttie (?) hingga Pos 2, setelah mengiming-imingi sebotol Nutrisari tentunya.wkwk Sedangkan saya mengambil alih tas Erlisa mengingat keadaannya yang mulai kepayahan. Di situ saya kadang merasa sedih mulai menggerutu karena ternyata tasnya Erlisa ringan sekalii, yang ternyata isinya hanya baju pribadi sedangkan botol minumnya sudah ia titipkan ke carrier abang-abang Palaten lainnya. Puas membully tas sekolah-nya Erlisa, kami melanjutkan perjalanan.

Pos 2

Sampailah kami di Pos 2 saat hari sudah sore. Grabag-grubug khas melepas lelah di pos 2, rencana awal yang tadinya hendak mendirikan tenda di dekat jalur berubah menjadi agak menjorok ke bayang-bayang bukit. Tenda sudah terpasang, masaklah kami. Sebenarnya ada kejadian kurang mengenakkan di bagian ini, kami yang sejatinya ikut pendakian missal malah tidak dapat jatah makan. Entahlah, mungkin pembagian tugas antarpanitia belum maksimal. Untunglah di perutnya Deuttie tersimpan logistic pribadi yang awalnya saya siapkan untuk kejadian-kejadian tak terduga. Puas ngedumel hehehe untunglah dapat lungsuran sekaleng sarden dari tendanya Adri. Rasa lapar tersalurkan, bersiaplah kami untuk segera tidur. Sementara di tenda kami riuh dengan bully Nisa-Firman yang mana di antara kami kompak bergiliran ngebully. Tiya tidur, Sarah bangun. Sarah tidur, gantian Erlisa ngebully. Saat haha-hihi tak berkesudahan itulah, hujan turun dengan derasnya. Beuh, langsung kalang kabut karena tenda kami rembes. Di saat itulah, suara emas Mas Eko di tenda sebelah menawarkan flysheet nganggur. Maka saya, Erlisa dan Firman berusaha sebisanya untuk melapisi tenda. Kelar urusan pelapisan, kami mencoba untuk tidur menyiapkan tenaga untuk muncak subuh nanti.

1 September 2013

Kantuk masih menggelayut manja di pelupuk mata. Apa daya, dengan segala ketergesa-gesaan jam 3 dinihari kami harus bersiap kembali melangkahkan kaki. Di antara segala belenggu ngantuk itulah, saya menugaskan Tiya dan Sarah untuk packing ke daypack barang-barang yang sekiranya akan diperlukan di trek nanti. Kompor, gelas, air minum, beberapa minuman sachet dan cemilan siap dipanggul Mas Eko.

Hari masih gelap, kami terus berjalan. Nissa yang tak biasa jalan malam, mengeluhkan kedinginan. Penawaran sarung tangan ditolaknya. Akhirnya dengan meyakinkan fisik akan tetap fit, kami terus melangkahkan kaki. Ketika langit mulai terang dan suara adzan menggema, kami bersiap untuk menunaikan salat. Saat itulah, Firman yang seharunya berdiri di belakang Mas Eko malah berdiri di sebelah saya. Mungkin besok-besok dia minat pakai mukena tepok jidat Setelah bully sejenak, akhirnya kami berfokus untuk benar-benar mendirikan salat.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Nissa masih mengeluhkan dingin. Dibujuk minum minuman hangat tak mau, dipaksa minum tolakangin menolak dengan alasan tak biasa dan tak suka rasanya,ditawari sarung tangan kehangatan ditolak, istirahat sejenak juga tak mau. Suasana mulai memanas karena kami semua khawatir keadaan fisiknya Nissa. Putus asa karena segala upaya yang kami kerahkan tak berhasil, begitu Zaki lewat saya segera memanggilnya “Zak ini si Nissa ikut Zaki aja, susah diatur dia.” Akhirnya Nissa bergabung dengan rombongan Zaki dan abang-abang Palaten lainnya. Berlalulah Nissa, kami memutuskan berhenti untuk sarapan seadanya. Energen dan secabik roti cukuplah, sambil diiringi cerita dari Mas Eko :

“Sayang sih ya Nissa itu perempuan. Kalo laki-laki, sudah kutampar. Dulu temenku begitu, gamau diatur. Akhirnya rame-rame kami tampar, gelonggongin obat. Hasilnya ya nangis, tapi abis itu dia tidur. Besoknya dia bangun duluan langsung nyiapin sarapan buat tim.”

“Di gunung itu ya kita sama-sama ga ada basic kedokteran. Kalo ada apa-apa diobatin sebisanya. Kalo diatur susah ya mending paksa, kalo tetep gamau tinggal. Bukannya kejam atau sadis, tapi kalo nanti ada apa-apa yang repot se-tim juga.”

Kami menyeruput energen seadanya sambil menunduk, karena di rombongan kami inilah Mas Eko yang lebih senior dan yang mengayomi kami.

Barang-barang kembali dirapikan, kami kembali berjalan. Akhirnya : SAMPAI DI PERSIMPANGAN PEMANCAAAR, hohoo

Di sinilah, di kali kelima mengakrabi udara dingin dan tanah basah, saya menemukan apa yang selama ini dicari. AWAAAAN ❤ ❤

Yap, saya bukan tipe orang yang menyukai gurat oranye milik sunrise atau sunset. Saya lebih menyukai gumpalan awan yang bergulung berlatarkan birunya langit bebas.

Jembatan Setan
Jembatan Setan

Dari situ kami berfoto sejenak, lalu melanjutkan langkah melewati Jembatan Setan. Fyi, bentuknya bukan jembatan sesuai namanya, melainkan punggungan yang mesti dilewati menuju persimpangan antara Puncak Sarif dan Puncak Kenteng Songo.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Plang Nama

Berjalan terus, sampailah kami di Puncak Kenteng Songo. Puas mengabadikan momen, kami beringsut menuju Puncak Triangulasi, yakni puncak tertinggi. Selanjutnya kami memutuskan untuk kembali turun ke Pos 2 melalui jalur yang sama, jalur Wekas mengingat matahari semakin meninggi sedangkan persediaan air tipis samasekali.

 

Perjalanan turun dipenuhi drama kehausan. Sampai akhirnya di dekat kami salat subuh tadi, saya, Erlisa, Tiya dan Sarah memutuskan untuk berhenti sejenak di bawah bayangan pohon guna mencari kesejukan. Snickers milik Tiya-lah penyelamat tenggorokan kerontang dan perut lapar kami. Nasib muncak jangankan sarapan, minum air seteguk saja tak sempat, sarapan di jalur pun seadanya.huhu

Merasa agak segar karena angin sepoi-sepoi, kami berjalan kembali. Pedih rasanya mengingat perjalanan turun disertai menahan haus yang bersangatan lebay 😛

Di saat itulah, Mas Eko yang turun duluan ternyata menunggu di tengah jalur mendekati Pos 2 sambil teriak “Aiiir.. airrr..” ternyata ada retakan pipa yang bisa digunakan untuk mengambil air. Setelah urusan dahaga terselesaikan, kami melanjutkan perjalanan menuju tenda.

Di tenda, kami dihadapkan pada kenyataan bahwa semua harus turun sore ini dikarenakan ada salah satu peserta yang diharuskan segera balik ke Jakarta untuk bekerja. Dimulailah kembali acara ngedumel antara kalo-mau-buru-buru-ya-turun-aja-sendiri, kalo-sekarang-turun-nanti-malem-turun-di-mana-kan-tiket-kereta-masih-2-hari-lagi, ngecamp-di-sini-aja-kali-biar-ga-ke-luar-uang-penginapan. Apa daya, kami memang diharuskan turun hari itu juga. Akhirnya sebagai bentuk kekesalan, rombongan kami turun ngebut, ngetrek di jalan.haha

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah pergumulan dengan tanah dan kerikil, sampailah kami sebagai rombongan paling pertama di basecamp. Segera berebut wc. Mulai sore, Mas Eko pamit pulang duluan karena harus kembali pulang motoran ke Klaten. Tinggallah kami seperti adik-adik pramuka yang ditinggal kakak pembinanya.wkwk  Hingga magrib semua rombongan sudah tiba di basecamp, kami diangkut menggunakan truk besar lagi untuk menuju Jogja. Di truk sudah tak ada lagi canda tawa seperti hari kemarin, mengingat lelah, kesal dan kecewa berkumpul jadi satu.

Tengah malam kami tiba di Jogja, di samping stasiun Lempuyangan. Berjalan ke arah Malioboro untuk mencari penginapan. Sementara rombongan cowok memutuskan tidur menggelandang di emperan toko, kami perempuan terus berjalan mencari penginapan murah. Karena hostel ataupun penginapan rumahan penuh semua, akhirnya kami tidur di hotel. Agak mahal memang, tapi tak apalah selama biaya ditanggung panitia ketawa emak-emak

Bersih-bersih dengan bagian tubuh yang merata terbakar sinar matahari, tengah malam saya, Erlisa, Tiya dan Sarah memutuskan untuk sejenak berjalan-jalan malam di Malioboro sembari cari makan. Nissa? Ada di kamar sebelah bersama panitia, sejak sore tadi dikabarkan demam. hela nafas elus dada

jajan malam
jajan malam

Karena sudah menjelang dinihari, maka tak banyak yang tersisa di Malioboro selain penjual makanan. Puas makan, kami kembali berjalan menuju hotel.

sepi
sepi

2 September 2013

Pagi ini kami lewatkan dengan sarapan murah meriah di jalan depan gang hotel. Kami diberi waktu hingga siang hari sebelum kereta berangkat. Sejenak jalan-jalan kembali menyusuri Malioboro guna mencari oleh-oleh. Menjelang siang, kami kembali berkumpul untuk berjalan bersama menuju Stasiun Lempuyangan. Tak lupa menunaikan keinginan Tiya untuk berfoto bersama Muamar yang sejak awal tak henti dibicarakan Tiya di sepanjang jalur. INGATKAH KAMU TII? ketawa jahat 😛 😛 😛

Di Stasiun Lempuyangan itulah, kami bertemu dengan beberapa kakak kelas kami semasa bersekolah di SMK Negeri 8 Jakarta. Ada kak Tria, kak Sarah, kak Tandri, kak Aji dan kak Rino. Rupanya mereka habis wisata kota di Jogja. Sejenak kami terharu (saya aja sih) karena reuni di tempat yang jauh dari sekolah, sama-sama dalam rangka sehabis backpackeran pulak.

Kereta tiba, kami masuk ke gerbong. Di perjalanan tak banyak hal yang kami lakukan mengingat tenaga sudah habis terkuras. Ngebully pun dilakukan sekadarnya saja apasih Len

gada tenaga, foto aja goyang :P
gada tenaga, foto aja goyang 😛

Yang kami tahu, meski tak sampai ke puncak-puncak Merbabu lainnya seperti Pemancar dan Sarif, perjalanan kali ini bukan tentang puncak tertinggi. Melainkan tentang persahabatan. keinget ujan-ujanan di luar tenda benerin flysheet ngebully+ngakak tiada henti di tenda beberapa kejadian tak mengenakkan yang penuh hikmah lainnya

Advertisements

12 thoughts on “Gunung Merbabu , It’s not About The Highest Peak But Friendship”

  1. Untuk saya yang sekalipun belum pernah mendaki, agaknya cerita pendakian, apa pun itu, tampak sangat spektakuler di mata saya. Keren sekali Mbak, bisa mendaki, memeluk awan, mencium birunya langit, meraja di puncak dunia :)).

    Katanya, ajaklah seseorang ke pendakian, maka ia akan memunculkan wujud aslinya. Agaknya itu benar, ya. Keaslian manusia itulah yang membuat pendakian selalu penuh dengan cerita, yang bagi pembaca di bawah sini jadi refleksi dan pelajaran untuk pesan-pesan yang dapat ditimba :hehe.

      1. Kata teman-teman saya yang sudah sering mendaki juga begitu: pendakian memunculkan sifat asli :hehe.

  2. Merbabu adalah gunung pertama di Jawa yang saya daki. Banyak kenangan tersimpan di jalur Selo dan Wekas, bersama teman-teman yang sekarang entah di mana.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s