Kertas Waktu


Cikuray, 2.818mdpl

Pagi masih terlalu dini untuk datang menyapa dunia. Hanya seberkas warna orange yang muncul di langit bagian timur. Embun masih setia menempel di permukaan flysheet, sambil sesekali satu-dua bulirnya jatuh menerpa tanah. Udara masih terlalu dingin, aku merapatkan jaket polar sambil membetulkan letak topi kupluk yang menempel di kepala.

“Kamu tahu? 26 Mei 6 tahun yang lalu, masih dengan jaket polar yang ini, tepat beberapa langkah di depan tenda kita ini aku melakukan salat subuh sambil duduk karena terlalu banyak pendaki yang menunggu sunrise.”

Lawan bicaraku masih saja sibuk mengatur nyala api dari trangia.

“ Dan ketika salat selesai kutunaikan, segerombolan orang di sebelah kiriku berteriak-teriak heboh. Menyemangati salah seorang kawannya yang tampak malu-malu berfoto sambil menempelkan sehelai kertas bertuliskan angka tahun yang ia impikan untuk lulus kuliah. Saat itu, aku hanya mampu menengok tanpa peduli apa yang terjadi. Bagiku, yang terpenting adalah bagaimana mengusir hawa dingin yang tiap detiknya membuat tanganku makin kebas.”

“Kamu mau apa? Teh Rosella kan?” tanyanya sambil menerbitkan seulas senyum.

“Ah iya. Gulanya banyak ya.”

Lalu suasana hening untuk beberapa menit. Aku mulai kehabisan bahan cerita untuk nostalgia.

“Ini pegang teh bagianmu. Sudah jadi. Dan tentang tempat ini, aku tak mengingat terlalu banyak hal. Satu yang kuingat, perempuan dengan rok hitam yang mulai kotor karena lumpur yang menatapku beberapa detik sebelum akhirnya bergegas turun dari pos 6 saat aku sedang membetulkan letak tali ransel yang terasa memerihkan bahu. Aku tak kenal siapa dia namun saat kau memfollowku di twitter, aku kenal orangnya. Itu kamu,” ucapnya lalu menyesap perlahan teh tawar kesukaannya.

“Ternyata butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa mendaki bersamamu. Entah semesta yang belum merestui kita atau kamu yang terlalu enggan untuk mendaki dengan perempuan lelet sepertiku.”

“Haha, bukaan. Aku cuma sok jual mahal saja.”

Huh, alasan macam apa itu.

“Jangan ngambek deh. Yuk ah bentar lagi mataharinya terbit. Lagi bagus-bagusnya buat difoto,” ucapnya seraya menggamit tanganku, melangkah ke luar dari teras tenda.

“Mau ngapa-? In??” mendadak mulutku tergagap merangkai tanya saat dia mengeluarkan selembar kertas bertuliskan..

“Selamat ulangtahun pernikahan sayaaang!” ucapnya sambil memamerkan kertas bertuliskan inisial nama kami dan beberapa baris kalimat puitis. “Dan butuh bertahun-tahun untuk bisa menapaki alam bebas bersamamu. Tadi bercanda kok, aku sengaja selalu menolak ajakanmu karena aku ingin merasakan kecanggungan yang sama saat melihatmu di pos 6 beberapa tahun yang lalu. Yah semacam menjaga jarak, supaya aku kelak bisa menikmati kecanggungan saat menggendong carrier di depanmu. Aaakh, lupa bawa tripod kan. Bentar, Dek, minta tolong fotoin kami ya?” ujarnya kepada pendaki dari tenda sebelah yang sedang membetulkan tali sepatunya. “ Sini kamu, kalau dulu meringkuk karena kedinginan, kali ini harus pasang senyum. Sudah kurangkul, seharusnya sedingin ini tak terlalu terasa. Pasang radar neptunus yaa, tapi jangan lupa kertasnya dipegang.”

orange

Yang kutahu, hangat bukan berasal dari perlindungan jaket polarku. Tapi dari rangkulan tangan yang pemiliknya sedang menatap penuh antusias ke lensa kamera di depan sana.

 

Advertisements

9 Replies to “Kertas Waktu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s