Takbiran di Curug Sawer Bersama Rohis 8


SMS terakhir kak Ida malam itu tek henti-hentinya membuat saya tersenyum.

Siapin headlamp ya len, antisipasi kalo gada ojek. Kita trekking.

Ngebayangin malam-malam di pedesaan jalan kece sambil pakai headlamp, tentu membuat jiwa ngebolang saya meletup-letup 😀

Sabtu 29 Juni 2013
Penuh syukur saya meninggalkan ruang ujian matkul B.Mandarin. Alhamdulillah yah ujiannya tentang angka dan jam, jadi masih bisa mengandalkan otak saya yang sudah terlanjur lemah menghadapi hafalan kosakata. malah curhat Masih mengenakan almamater dan ransel yang berisikan buku kuliah, dengan jumawa saya melangkahkan kaki menuju terminal bus Kp.Rambutan. Petualangan dimulai… 😀

terminal Kp. Rambutan. petualangan bermula~
terminal Kp. Rambutan. petualangan bermula~

Senja makin tua saat saya tiba di terminal bus Kp. Rambutan. Sambil duduk mendeprok di bawah plang penanda terminal, saya menunggu kedatangan kak Ida dan Andi. Rencananya malam itu kami akan menuju Villa Tanpa Nama yang berada di kawasan Cisaat Sukabumi, tempat kegiatan Tafakkur Alam SMKN 8 Jakarta yang tahun ini mengusung tema “ Indahnya Tafakur, Naungi Iman untuk Generasi Berkualitas” dan bertagline TAKBIRAN 8 ( Tafakur Alam Bangkitkan Iman Bersama Rohis 8 ). Sebenarnya acara dimulai sejak pagi hari namun karena terhalang beberapa hal maka kami memutuskan untuk menyusul di malam hari.

Tak berapa lama kak Ida hadir, maka berlanjutlah kami memasuki gerbang luar kota, tempat di mana bus-bus antarkota parkir dan Andi menunggu. Siap semua perbekalan, masuklah kami menuju bus Jakarta-Sukabumi.

Setelah mengobrol sana-sini dengan kak Ida, kami pun senyap dengan benak masing-masing. Macet broh, akhirnya kak Ida tertidur dan saya mengalihkan perhatian ke jalanan dari balik jendela.  Dibutuhkan waktu berjam-jam untuk akhirnya saya berteriak hebring ke kak Ida bahwa kami sudah sampai di Cibadak. Tibalah kami di depan polsek Cibadak. Awal perjalanan Andi bertanya pada saya dan kak Ida, mau menumpang ojek atau lanjut jalan kaki karena jarak antara polsek Cibadak menuju Villa Tanpa Nama lumayan jauh. Dengan pertimbangan tingkat petualangan yang lebih tinggi, maka kami memutuskan untuk berjalan kaki saja sambil menikmati suasana pedesaan di malam hari. 😀

Awal melangkah, saya masih senyam-senyum ke kak Ida, trekking malam euy. Tapi makin lama kok lumayan bikin pegal betis? -_- Akhirnya saya dan kak Ida memutuskan akan menumpang truk sayur, melihat beberapa truk berseliweran malam itu. Truk pertama lewat, kami masih sungkan untuk menumpang. Truk kedua, mulai timbul gregetan di hati. Truk ketiga melintas, dengan menampakkan muka malu-maluin sambil mengutarakan maksud dan tujuan kami. Aih ternyata mamang sopirnya baik, dengan ramah mereka mempersilakan kami menumpang. Terpaan angin malam, dinginnya udara dan ramai suara kodok di sepanjang area persawahan yang kami lalui mengantarkan ingatan pada memori naik pick up malam-malam kala hiking bersama di Gunung Cikuray dulu 😀

Tak berapa lama mamang sopir menghentikan laju truk dan mengabarkan sampai di sinilah perjumpaan kami. Yay, beda tujuan rupanya, tak apalah kami lanjut melangkah. Beberapa menit berjalan, sebuah angkot meluncur dengan mulus dari belakang. Tanpa berpikir panjang, kami memutuskan untuk kembali menumpang, tapi kali ini bayar -_- Bagi saya, malam-malam ngangkot di daerah asing dengan bangku penumpang yang berisikan sayur-mayur itu mengasyikkan! \m/ hoho

Jam 2 dinihari kami tiba di halaman depan Villa Tanpa Nama. Setelah bertukar sapa dengan beberapa alumni yang sudah tiba lebih awal, kami disarankan untuk istirahat terlebih dahulu. Dasar makhluk insom, saya malah merencanakan hunting sunrise dengan Erlisa. Sekitar jam 4 pagi kami melangkah menuju area perkebunan di pinggir jalan, ternyata pemandangan yang tersaji lumayan kece! Gemerlap lampu-lampu perkotaan terlihat dengan jelas >.< Namun karena masih terlalu gelap, kami memutuskan untuk kembali lagi ke Villa. Melihat saya dan Erlisa yang sibuk kasak-kusuk, kak Ida rupanya penasaran dengan apa yang kami rencanakan. Begitu tahu kami ingin hunting sunrise, sepertinya jiwa hikers kak Ida meletup-letup dan segera mengiyakan untuk bergabung, hihihi Setelah subuh, kami kembali ke pinggir jalan tadi demi menunggu sang mentari terbit. Dan ternyata baguus. Terlihatlah gunung Gede-Pangrango di kejauhan. Kombinasi bayangan dua gunung yang berderet dan area perkebunan menambah kecenya pemandangan pagi itu, sejenak mengobati kerinduan kami untuk menjejak di gunung 😀

tabuh berbunyi gemparkan alam sunyi~
tabuh berbunyi gemparkan alam sunyi~

Pagi menjelang, acara diawali dengan senam, sarapan lalu penyampaian materi. Menjelang sore, acara berlanjut dengan kegiatan outbound di halaman villa. Ah, sejenak hati saya menjadi pilu, mengingat dulu acara Tafakkur Alam angkatan saya juga diadakan di sini. Teringatlah momen-momen berkesan menjadi panitia konsumsi saat itu, menjadi juru utama kompor di dapur, piknik di taman karena bagian konsumsi diharuskan stand by di villa sementara yang lainnya jalan-jalan sore dan seabreg kenangan lainnya bersama RPS, huhu tisumanatisu

Sementara itu di tempat lain~

Malam menjelang, agenda beralih menjadi talkshow tentang galau dengan kak Nadhia, Erlisa dan Andi sebagai pembicara. Peserta pun antusias karena galau merupakan topik menarik bagi mereka mau pun kami selaku alumni SMKN 8 Jakarta. Yeah, setiap orang pernah dan mungkin saja sering galau, tergantung bagaimana kita mengelolanya. Kelar talkshow, acara berlanjut menjadi pementasan yel-yel dan apresiasi seni dari peserta, panitia mau pun alumni.

apres peserta akhwat
apres peserta akhwat
DSC_0703
apres alumni

Selanjutnya peserta dipersilakan tidur untuk mengistirahatkan diri demi kelancaran kegiatan selanjutnya saat tengah malam. Acara paling inti dari Tafakkur Alam : Safari Malam. Wohooo. \m/

Karena saya datang sudah menyandang status sebagai alumni dan ini adalah pengalaman pertama saya menjaga pos, maka masih banyak kecanggungan yang saya alami selama menjaga pos. Namun untunglah kak Nadhia dan panitia yang bertugas menjaga pos 6. Di pos terakhir ini para peserta ditugaskan untuk mengurutkan kata di potongan kertas dan mengungkapkan hikmah yang bisa dipelajari setelah melewati 5 pos. Tantangan mengurutkan kata pun tak semudah kelihatannya karena menyusun potongan kertas hanya mengandalkan cahaya dari sebatang lilin sambil menerka kalimat apa yang akan terbentuk. Dan tantangan bagi saya yang bertugas antar-jemput kelompok adalah bergelap-gelap menyusuri area persawahan dan satu rumah kosong yang selalu menimbulkan sensasi sendiri kala berjalan sendirian usai mengantar kelompok yang sudah menunaikan misinya. penakut -_-

dalam gelap merangkai makna
dalam gelap merangkai makna

Adzan subuh bergema, menandakan usailah kegiatan safari malam. Setelah salat subuh berjamaah, kegiatan kembali dilanjutkan dengan senam pagi lalu sarapan. Rohani kenyang, jasmani kenyang, tibalah kami di acara yang paling ditunggu-tunggu dalam acara tafakkur alam kali ini. Main air di Curug Sawer! \m/

Puas main air di curug, kami kembali ke villa. Bersih-bersih, penutupan+muhasabah lalu lanjut perjalanan pulang menuju Jakarta.

mari pulang
mari pulang
Advertisements

3 thoughts on “Takbiran di Curug Sawer Bersama Rohis 8”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s