Petualangan Bahasa di Europe on Screen 2013


Apa yang terjadi jika seorang anak sudah terlampau lama tak bertemu dengan kakak sepupu yang menjadi teman mainnya di setiap kunjungan ke rumah nenek?

Kangen dong pastinya. Beruntunglah semesta mempersaudarakan saya dengan Nunung, impian sama, hobi mirip-mirip, tingkat keeroran ga beda jauh, sama-sama pecinta gratisan pula. Didorong rasa sayang untuk melewatkan event nonton film gratisan ini, maka kami bersepakat untuk bertemu sambil melepas rasa kangen. Jadi sebenarnya ini event tahun lalu, daripada beneran lupa dan pengalamannya cuma dinikmati sendiri,  ya mending ditulis di sini. Hehe

EOS

Europe on Screen itu apa sih?

Jadi itu tuh Festival Film Eropa di Indonesia yang sekarang jadi agenda tetap tahunan dalam kalender kebudayaan Uni Eropa. Biasanya diadakan menjelang akhir tahun, namun mulai tahun 2013 festival ini diadakan pada bulan Mei sebagai bentuk dalam perayaan Hari Eropa ( 9 Mei ). Pemutaran film dilaksanakan di Bandung, Denpasar, Makassar, Surabaya, Medan, Yogyakarta dan Jakarta. Di Jakarta film diputar di beberapa lembaga kebudayaan negara Uni Eropa, di antaranya : Erasmus Huis ( Belanda ), Goethe Haus ( Jerman ), IFI Jakarta/ CCF ( Perancis), Instituto Italiano Di Cultura/IIC ( Italia ) dan di Sae Institute Jakarta serta Tugu kunstring Paleis. Tahun 2013 kemarin ada 72 film dari 30 negara Eropa yang diputar dengan pengelompokan film : XTRA, DISCOVERY, DOCU, CHILDREN dan RETRO/FOCUS. Berikut penjelasan dari buku panduan yang dibagikan secara cuma-cuma:

segala ada buku panduan lho~
segala ada buku panduan lho~

XTRA : if you are looking for films with an extra ‘flavour’, be sure to taste the films in this section. You can finda a mainstream box office film, an Oscar or Cannes nominee, a film featuring famous actors or by an award-winning director, or a period film with high production value.
DISCOVERY : the films featured in ‘Discovery’ are equally good films, but with lesser known actors or directors. Still the films tell a story about each country’s issues and will touch its audience in its own unique way.
DOCU : making documentaries is an old tradition in Europe. These excellent films either handle intriguing topics or follow interesting personalities. They prove that documentaries can be as entertaining as fiction films.
CHILDREN : Europe has a long tradition of making films for children. We chose 4 animation films made by European production companies.
RETRO/FOCUS : di buku panduan tak banyak penjelasan mengenai klasifikasi yang satu ini, tapi setelah saya amati film-film yang ditampilkan di klasifikasi ini lebih banyak berdasarkan reputasi sang sutradara dalam dunia perfilman Eropa.

Di festival kali ini saya menonton hanya 3 film karena keterbatasan waktu, hiks. Dan saya menonton 3 film tersebut di Erasmus Huis Kuningan karena jarak yang paling dekat dengan rumah. Film yang saya tonton adalah :

penampakan tiketnya
penampakan tiketnya

Chico & Rita
Berbahasa Spanyol, film animasi ini mengisahkan tentang romansa yang terjadi antara Chico seorang pianis dengan penyanyi bernama Rita. Mereka bertemu di sebuah klub malam. Awalnya kisah mereka berjalan manis meskipun ada scene yang membuat saya harus menunduk selama beberapa menit. Kebiasaan film luar negeri, film animasi pun dicantumkan bagian vulgarnya. Hiks. Setelah keadaan ‘mereda’ Nunung berkata “Udahan Len,” sambil bertutur di film-film yang ditontonnya di IIC malah lebih banyak adegannya T_T Namanya juga cerita cinta, ga seru dong kalau mulus-mulus aja. Nah Chico dan Rita ini akhirnya berpisah karena munculnya pihak ketiga, campur tangan pihak yang ingin menghancurkan kariernya Chico. Setelah melewati berliku-liku cobaan, takdir mempertemukan mereka 50tahun kemudian. Kesan kehidupan di Spanyol tergambar jelas di film ini, mulai dari kebiasaan menonton orkestra, seluk-beluk kehidupan seorang penyanyi hingga kebiasaan menghabiskan waktu di klub malam.

CHICO AND RITA

Paris Express

Berbahasa Perancis, menonton film ini menjadi spesial karena diputar secara ‘Open Air Screening’. Yap, kami menontonnya di halamaan Erasmus Huis, mirip-mirip kalau lagi nonton layar tancap lah. Meski pun subtitle bahasa Inggrisnya payah, kami masih bisa menangkap jelas maksud film ini karena ekspresi pemainnya yang bagus didukung dengan latar tempat yang mendukung. Film ini bercerita tentang Sam seorang petugas kiriman kilat yang dihadapkan pada konflik pencurian lukisan mahal karya seniman klasik terkenal-Rembrandt. Keseruan muncul karena film ini begenre action-comedy, kedudulan muncul saat tokoh Sam ternyata menukar lukisan yang diperebutkan dengan lukisan anjing yang diam-diam ia tukar. Banyak pula keseruan lainnya yang ternyata saya sudah lupa tapi ingatnya pokoknya film ini kece-lah. -_- Oia, satu hal yang saya kagumi di film ini adalah begitu masyarakat di sana sangat menghargai karya seni, terlihat dengan adanya dengan perayaan hari lahir Rembrandt.

PARIS EXPRESS

The Storm

Pemutaran film ini termasuk ‘Open Air Screening’ di mana saya menonton bersama Fury-kawan seperjuangan semasa SMK (halah).  Dan unyu-nya adalah sebelum film diputar penonton diberi lotion anti serangga sebagai antisipasi serangan nyamuk, wellprepared sekalii >.<

Berbahasa Belanda, film ini berkisah tentang perjuangan seorang ibu mencari anaknya di tengah bencana badai besar yang membanjiri Belanda. Konflik terjadi saat anak yang dicari-cari ternyata direbut oleh perempuan di tempat pengungsian yang terganggu kejiwaannya akibat bayinya telah meninggal. Takdir mempertemukan sang ibu dengan anaknya belasan tahun kemudian, setelah si anak tumbuh besar. Dari film ini dapat dipetik hikmah bahwa betapa pun berat jalan yang harus ditempuh, seorang ibu akan mati-matian mempertahankan anaknya, meski takdir kemudian berkata lain. Dan yang saya kagumi adalah pranata sosial yang terjadi di Belanda kala itu, di mana sang ibu ternyata hamil di luar nikah dan penduduk desa mengucilkannya. Tapi itu sih dulu, saat film berlatar tahun 1953. Entah sekarang pranata yang berlaku macam apa. -_-

DE STORM

Menonton EoS bagi saya adalah semacam menambah kekayaan bahasa yang masuk ke telinga saya. Jarang-jarang dong nonton film berbahasa selain bahasa Inggris dan Indonesia. Termasuk menambah kemampuan reading saya karena subtitle yang disajikan semuanya berbahasa Inggris. Film-film Eropa menurut saya lebih sarat makna karena meski tak banyak menggunakan teknologi visual yang digunakan seperti halnya film-film buatan Hollywood, film Eropa unggul karena alur cerita yang kuat serta tampilnya pemandangan cantik-cantik khas Benua Biru. Dan yang terpenting, gratisannya itulho \m/

Target saya tahun 2014 ini, semoga bisa lebih banyak film yang saya tonton. Europe on Screen 2014, saya siaap -.-9

info lebih lanjut bisa dilihat di : europeonscreen.org

beberapa gambar dipinjam dari FBnya Europe on Screen

Advertisements

12 thoughts on “Petualangan Bahasa di Europe on Screen 2013”

  1. Wuihihi… temen saya malah ngira Chico & Rita itu film buat anak-anak karena film kartun XD. Iya euy, film Eropa banyak yang vulgar (menurut hitungan adat timur). Pernah nonton festival film Perancis yang ya ampuunn… adegan nude-nya banyak banget, sampe risih sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s