Pendakian Gunung Argopuro ; What A Long and Winding Road


Satu momen di Gunung Cikuray, saat beristirahat di pos 3.

“ Iya, Argopuro tuh, Leuser-nya Jawa.”

“Leuser? Maksudnya kak?”

“Iya, trek terpanjang di pulau Jawa.”

Maka sepulang trip itu, saya pulang dengan pemahaman untuk lebih membuka mata tentang gunung-gunung di Indonesia.

Hingga akhirnya, kesempatan itu muncul, datang dari sebuah updatean kak Anggi di FB. Yap, kalau Cikuray dulu karena twitter, kali ini lewat FB. Generasi jaman sekarang banget saya -_-

Stasiun Senen, Jakarta, 10 Agustus 2013

Tergesa, saya menggendong carrier berkapasitas full. Hampir seminggu di gunung bro, masih untung saya ga bawa kulkas -_- Di stasiun sudah ada bang Asep dan bang Age yang menunggu. Awalnya perbincangan dilakukan sekadarnya karena ini pertemuan pertama saya dengan mereka. Tapi seiring berlalunya waktu, kami mulai akrab. Kereta mulai berangkat, saya mulai resah karena satu orang lagi belum muncul. Tepat di menit-menit terakhir, muncullah mba Endang yang kedatangannya membuat saya bisa kembali bernafas lega. Rombongan Jakarta sudah lengkap, dengan langkah jumawa saya memasuki gerbong kereta. Dalam beberapa jam ke depan, inilah tempat saya merentang waktu, menambah jarak beberapa kilometer dengan keberadaan mama di rumah.

Stasiun Pasar Turi, Surabaya, 11 Agustus 2013

Beberapa jam sebelumnya, saya tak tenang memejamkan mata. Antusias, inilah perjalanan terjauh saya selama ini. ( dan saya harap akan terus bertambah jauh ) Pendakian kali ini saya namakan ‘Long and Winding Road’ karena selain trek terpanjang se-Jawa dengan hembusan anginnya yang lumayan membuat nyali ciut, juga karena sepanjang perjalanan saya masuk angin. pffft –– Surabaya, penuh senyum saya menghirup udaranya. Di stasiun ini kami menunggu kedatangan bang Ides. Setelah semuanya berkumpul, agenda selanjutnya ialah mencari sarapan. Dengan berat ( hati ) carrier, saya ikut melangkahkan kaki ke luar stasiun. Belum kelar bang Ides menenggak tehnya, sebuah telepon masuk mengabarkan kak Anggi sudah menjemput kami di depan stasiun. Ternyata jemputan kami pagi itu adalah sebuah elf, sayapun hampir tak kuasa menahan diri untuk tidak berflash-mob Bonamana #ifyouknowwhatimean –

Sta. Pasar Turi
Sta. Pasar Turi – masih kece

Bawaan sudah tersusun rapi di ruang belakang, kamipun siap melanjutkan perjalanan. Tujuan utama adalah ke kampus seorang kenalan kak Anggi, yang nantinya menjadi penunjuk jalan selama pendakian Gunung Argopuro. Tak berapa lama, bertemulah kami dengan mas Ucup dan mas Bob yang membawa kami ke kampusnya yang bernama Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta ( STKW ). Dasar nasib keluyuran di masa libur lebaran, tempat makan masih banyak tutup, hingga akhirnya sarapan dilaksanakan sambil memasak mie menggunakan nesting di pelataran kampus STKW. Namanya kampus seni, maka tak heran di setiap sudut terhampar benda-benda seni, macam patung dan lukisan. Sebuah hal unik yang baru saya temui. Beda dengan kampus ekonomi yang tak ada hiburan, setiap masuk langsung keinget tugas siklus yang belum kelar-kelar. malah curhat

tempat berteduh
tempat berteduh *taken by kak Anggi

Kelar sarapan, kelar terpukau lihat lukisan dan patung, kami berangkat menuju stasiun Gubeng. Menjemput bang Nazrul, mba Ratna dan Ariel. Tak berapa lama, semua pasukan lengkap, maka resmilah kami melanjutkan perjalanan menuju wilayah Baderan, tempat di mana basecamp berada dan pos awal melakukan pendakian. Sepanjang perjalanan menuju Baderan itulah, saya serasa ditampar oleh fakta bahwa Indonesia terlalu cantik dengan segala keindahan yang dimilikinya. Terlalu muluk rasanya jika saya menggebu-gebu memimpikan berkelana menjelajah dunia, jika suatu hari ditanya apa bagusnya Indonesia saja saya tak mampu menjawab. Masih terekam jelas di benak saya ketika melewati daerah Besuki, ketika pemandangan yang tersaji membuat saya berwah-ria. Senja itu, di sisi kanan terhampar daerah perbukitan yang masih rapat dengan pepohonan, tanda belum banyak terjamah oleh pembangunan pemukiman manusia. Dan di sisi kiri terlihat panorama pantai, yang memunculkan ruang khayal bagi saya untuk segera berlalu, melepas alas kaki lalu berlarian di sepanjang tepi pantai. Membiarkan butiran pasir menggelitik telapak kaki seraya menuliskan beberapa huruf dan angka hasil UAS dan IP semester kemarin. Pffft -_- Karena liburan baru saja dimulai dan saya tak ingin menggalau, cepat-cepat saya kembali ke dunia nyata.

siap berangkat
siap berangkat *taken by kak Anggi

Kami tiba di basecamp Baderan malam hari. Saat merapikan bawaan, tiba-tiba bang Asep berteriak histeris, yang saya kira lanjutan flashmob Bonamana karena seharian naik elf. dibahas

logistik untuk seminggu
logistik untuk seminggu *taken by Ariel

Dan ternyata bukan, bang Asep histeris karena bertemu dengan mas Fian, orang yang tadinya ga ikut pendakian, ternyata ikut dan bertemu di basecamp. Tak sendiri, mas Fian ternyata hadir bersama mas Andreas, maka lengkaplah kami 14 orang dalam pendakian ini. Setelah observasi singkat, ternyata saya anggota paling kecil dan paling unyu di pendakian ini >.< Dan malam itu, ternyata semesta berbaik hati telah mempertemukan saya dengan tempat tidur paling beradab di bumi. Yak, malam itu saya masih berkesempatan tidur di kasur basecamp, hoho.

12 Agustus 2013

formasi lengkap
formasi lengkap

Pagi menjelang, mengantarkan asa agar pendakian berjalan lancar. Setelah sarapan di warung terdekat, perjalanan diawali dengan melintasi perbukitan dan ladang tembakau warga. Di sepanjang jalan saya kembali dibuat galau, siluet Gunung Raung di kejauhanlah penyebabnya. Ya, suatu hari nanti. Tujuan pertama kami adalah pos mata air 1, tempat pertama kami akan mendirikan tenda. Dan Argopuro itu memang subhanalllah PHPnya. Naik-turun bukit, belum ketemu ujungnya.

Setelah berjalan sekian lama, naik-turun dan melipir perbukitan, saat hari hampir malam sampailah kami di pos mata air 1. Jalur yang kami lalui berupa hutan dan semak belukar. Di tengah jalan, kami melewati  dua pohon yang batangnya bersatu sehingga membentuk huruf v. Berdasarkan kearifan lokal yang kami peroleh, itulah pintu gerbang menuju dunianya Dewi Rengganis. Kelar mendirikan tenda, acara masak-memasakpun dimulai. Kenyang perut, saya tetap di luar tenda. Mencoba menikmati kebersamaan yang ada.

13 Agustus 2013

Pagi tiba, waktunya kembali beraktivitas. Setelah sarapan dan packing, kami kembali melangkahkan kaki menuju pos Cikasur. Kami sempat beristirahat di pos mata air 2. Sementara yang lain memasak, saya ikut bang Ides ambil air di mata air yang letaknya tak jauh dari plang penanda pos. Dan sepanjang pengamatan saya di pos mata air 1, mata air di pos 2 tak jauh beda keadaannya. Untuk mencapainya harus melewati trek menurun yang lumayan menukik dan sukses membuat saya ngos-ngosan saat kembali naik. Dan di pos 2 inilah saya mulai bertemu jancukan, tanaman sejenis jelatang yang akan menimbulkan sensasi menyengat kala menyentuhnya.

Sebelum tiba di Cikasur, kami melewati sabana kecil dan sabana besar yang aduhai cantiknyaa >.< Sejenak saya serasa dibawa menuju dunia yang berbeda karena pemandangan yang tersaji berupa padang ilalang yang tak habis-habis sejauh mata memandang. Kombinasi ilalang yang menghampar sampai jauh, langit cerah dan pegal akibat menggendong Deuttie membuat saya ingin berlama-lama merebahkan diri. Sayang, waktu istirahat tak terlalu lama karena kami harus melanjutkan langkah menuju Cikasur.

Hari sudah petang, saat kami masih melewati sabana yang tak habis-habis. Saat sedikit lagi tiba di Cikasur, beberapa abang melihat sekelebat semacam selendang merah yang terbang di antara pepohonan. Bukannya parno, dalam hati saya malah merasa terintimadasi karena di carrier bawa pashmina merah -_- hehe

Akhirnya kami tiba di Cikasur yang ternyata telah ramai oleh tenda pendaki lain. Malam itu menu makan malam kami berupa mie rebus, ayam goreng dan lalapan spesial berupa selada air. Yap, Cikasur terkenal dengan selada airnya maka tak heran kalau di sepanjang trek ladang tembakau – Cikasur banyak penduduk lokal hilir-mudik mengendarai motor mengangkut buntalan segede gaban, tak lain adalah mereka mengangkut selada air yang dipanen di sungai Cikasur. Ternyata selada airnya lumayan pahit di lidah kalau dimakan mentah.

14 Agustus 2013

Keesokan paginya aktivitas memasak sarapan kami terhenti oleh teriakan pendaki lain yang mengatakan ada merak di sekitar camp. Dasar kami manusia-manusia norak, bukannya mendekat diam-diam malah berbondong-bondong  heboh  yang menyebabkan meraknya malah pergi. Hopeless ga mungkin bisa lihat merak kalau gaduh begitu, untunglah ada mas Andreas yang tetap ikut mengejar. Hasilnya, mas Andreas lihat 4 ekor merak dan saya harus berpuas diri mendengar suara merak dari kejauhan. T_T poor me

Usai sarapan saya ikut ambil air ke sungai Cikasur. Seperti biasa treknya menurun curam dan begitu tiba di pinggir sungai saya kembali disuguhkan pemandangan aliran sungai yang menghijau karena permukaannya ditumbuhi selada air. Ya, selada air yang melimpah meskipun selalu dipanen penduduk dan dijadikan santapan setiap pendaki. Di saat terkagum-kagum sambil mengambil selada air untuk persediaan makan itulah, kaki saya terperosok ke air. Lengkap masih mengenakan sepatu. T_T ini merupakan hal krusial karena turut mempengaruhi keadaan saya di trek selanjutnya.

Usai termehek-mehek menyadari keadaan sepatu yang basah, saya kembali ke tenda dengan itikad baik untuk segera memakai sendal gunung. Jam menunjukkan hari hampir siang namun kabut belum juga pergi. Demi efisiensi waktu, kami melanjutkan perjalanan dengan cuaca berkabut. Tujuan kami selanjutnya ialah pos Cisentor. Perjalanan diwarnai dengan pemandangan sabana yang tak kunjung habis. Lepas sabana, kami melipir bukit yang dindingnya bebatuan kokoh dan pinggirnya jurang. Jalan menurun, sampailah kami di aliran sungai yang menandakan kami sudah tiba di pos Cisentor.

Keadaan sungai di pos Cisentor dibandingkan dengan sungai Kolbu di Cikasur amatlah berbeda. Di Cisentor  airnya tak terlalu jernih, tak terlalu dingin dan hanya sedikit sekali selada air yang tumbuh.

15 Agustus 2013

Subuh menjelang, tidur saya tak lagi tenang karena homesick, teringat mama di rumah *uwuwuwu :3 Agenda hari ini adalah muncak, maka ketika matahari belum sepenuhnya muncul menerangi bumi, kami sudah bersiap melangkah dengan kostum anti dingin dan anti angin. Mba Ratna, Mas Fian dan Ariel tak ikut muncak, jadi total ada 11 orang yang muncak. Karena hari masih gelap, benak saya tak habis-habisnya dipenuhi kekhawatiran. Ditambah dengan suara hembusan angin dan kabut yang mengiringi di sepanjang perjalanan. Melangkah sedikit, saya parno dengan bayangan-bayangan di sekeliling, suhu yang dingin, kaus dan jaket rangkap yang saya kenakan ternyata belum cukup. Ketika hari mulai beranjak pagi, kami tiba di pos Rawa Embik. Dan di pos ini, meski matahari perlahan mulai menampakkan diri saya masih saja tetap merasa kedinginan parah. Beristirahat sejenak sambil menunaikan salat subuh, kemudian perjalanan kembali dilanjutkan. Selepas Rawa Embik, kami memasuki hutan Edelweiss. Yap, hutan, karena kalau disebut padang Edelweiss rasanya kurang cocok mengingat begitu banyak dan rapat Edelweiss di sekeliling kami. Terus, dan teruuus berjalan akhirnya mengantarkan kami di Savana Lonceng. Di sinilah persimpangan jalan antara Puncak Rengganis dan Puncak Argopuro. Beristirahat sambil melepas lelah, para abang dan kakak mulai mengeluarkan nesting, menyiapkan sarapan. Di sini mental saya benar-benar diuji. Mulai jenuh karena kedinginan hebat yang melanda, ditambah saya hanya pakai sendal gunung dan kaus kaki yang berefek tak melindungi kaki dengan sempurna dari embun yang menempel di rerumputan, saya malah mencari spot yang disinari cahaya matahari, mencoba menghangatkan diri yang akhirnya saya ketiduran -_- Entah berapa lama tertidur sambil menekuk lutut, saya dibangunkan, tanda sarapan sudah siap. Malas-malasan saya sarapan, karena dingin di badan belum hilang sepenuhnya. Beruntunglah para abang dan kakak yang menyemangati saya untuk terus berjalan meskipun mereka juga pasti kedinginan, hingga akhirnya…

Nyampe di puncak Rengganis!

Memasuki area puncak Rengganis, mulai tercium aroma belerang. Setelah berfoto ria, kami melanjutkan perjalanan ke lapak sebelah yang tidak lain dan tidak bukan adalah puncak Argopuro dan puncak Arca 😀

Perjalanan menuju puncak Argopuro juga tak beda jauh dengan perjalanan menuju puncak Rengganis. Trek menanjak dengan batu-batu besar di sekelilingnya. Area puncak Argopuro lumayan teduh, sehingga saya lebih memilih untuk merebahkan diri sembari beristirahat, sedangkan beberapa abang dan kakak lanjut melangkah menuju puncak Arca yang letaknya tak jauh dari puncak Argopuro.

Kelar berfoto ria di puncak Argopuro, kami kembali melangkah menuju pos Cisentor.

16 Agustus 2013

Pagi yang kesekian kalinya yang saya lewati di Pegunungan Hyang dan entah sudah ke berapa kalinya saya terbangun dengan memimpikan keluarga maupun teman yang berada di Jakarta. homesick bro Setelah menunaikan ritual harian mencari spot terbaik :p sayapun bergegas packing karena seharian ini agenda kami adalah berjalan menuju destinasi terakhir dalam rangkaian pendakian kali ini, yakni menuju danau Taman Hidup. Selepas dari pos Cisentor, kami kembali melewati sabana ilalang yang tak habis-habis, beristirahat di pos Aeng Kenek, lalu melewati 7 bukit penyesalan yang sebenarnya gak bikin nyesel-nyesel amat sih kalau dikenang haha lalu trek berlanjut dengan melewati area hutan dengan trek landai yang lumayan menghibur setelah dengkul digempur habis-habisan di 7 bukit penyesalan. Hingga akhirnya…

Nyampe di Danau Taman Hidup

???????????????????????????????
danau Taman Hidup senja itu~

Di sini saya agak lebay karena ada sedikit proyek pribadi di danau Taman Hidup ini. Senja mulai tua ketika saya tiba di depan permukaan airnya yang tenang. Setelah selebrasi sedikit dengan kak Anggi dan menuntaskan proyek pribadi, saya kembali bergabung dengan para abang dan kakak yang sudah menunggu di campground di mana tenda telah didirikan.

proyek pribadi :D
proyek pribadi 😀 *taken by mba Endang

Saya selalu antusias mengambil air, maka menjelang maghrib saya bersama mas Eko meniti dermaga demi mengambil air danau Taman Hidup. Awal mendekat ke permukaan airnya, saya ragu karena airnya keruh dan muncul beberapa kumbang air –– Namun mas Eko menanggapi dengan santai seraya berkata : “ Udaah ambil aja, ini rahasia kita berdua.” Dan sepanjang malam setiap saya ingin minum, saya selalu melirik mas Eko sambil pasang tampang ragu –

Malam harinya kami terganjal sedikit masalah logistik. Estimasi yang tadinya hanya 5 hari membuat logistik ternyata kurang cukup. Mulai resah, kak Anggi dan mas Bob mulai memodusi para porter yang ngecamp tepat di depan Taman Hidup. Mas Andreaspun tak kehilangan akal, dia memasang lilin di depan tenda, menunggu sedikit peruntungan yang membuat kami ramai membully takut-takut sang tuan rumah-babi hutan marah 😀 Dasar semesta mendukung, persoalan losgistik terselesaikan setelah kami resmi ‘merampok’ mas Andreas dan mas Fian yang memang dari awal tak masuk perhitungan sumbangan logistik kelompok. Kak Anggi dan mas Bob ternyata kembali dengan membawa 2 ekor ikan yang besarnya tak seberapa, tak lebih dari seukuran jari. Karena tak tega memasaknya, akhirnya ikan tersebut hanya kami taruh di nesting seraya mengumpulkan niat untuk mengembalikannya kembali ke danau esok pagi.

beruntung nasibmu Kan..
beruntung nasibmu Kan.. *taken by bang Nazrul

17 Agustus 2013

Pagi kali ini saya lewatkan dengan batuk-batuk, efek minum air danau tadi malam –– Setelah mencari yang hangat-hangat ( minuman hangat maksudnya ) saya, kak Anggi, mba Endang dan mas Andreas melangkahkan kaki menuju danau. Hunting sunrise yeaaay. Beruntunglah meski badan saya berbobot badan beruang, saya masih bisa melangkahkan kaki meniti dermaga hohoho Tak lupa standby di ujung dermaga seraya mengulurkan tangan untuk kak Anggi dan mba Endang. Saat itulah, saya melihat sosok berjilbab dari rombongan lain yang sedang berusaha sekuat tenaga menyeimbangkan diri meniti kayu dermaga. *ini lebay len –-* Karena saya pikir kasihan kalau harus dibantu laki-laki, maka saya berinisiatif untuk mengulurkan tangan membantunya. Dan dari uluran tangan itulah, saya berkenalan dengannya. Yap, tambah temen deeh 😀

Puas foto-foto, kami mengembalikan diri (?) menuju tenda. Sarapan terakhir kami di pendakian gunung Argopuro hiks Dan ternyata, logistik yang tadi malam kami khawatirkan kurang, ternyata berlebih. Maka berlimpahlah sarapan pagi. Berhubung hari itu bertepatan dengan tanggal 17 Agustus, kamipun iseng membentuk nasi goreng menjadi tumpeng. Tak ada upacara bendera, tumpengan pun jadiii 😀

tumpeng nasi goreng
tumpeng nasi goreng *taken by bang Nazrul

Kelar makan, kami mulai packing, target sore sudah tiba di basecamp Bermi. Saat packing itulah bang Nazrul iseng memutar lagu Nugie-Pelukis Malam yang sukses membuat suasana terasa sendu. Semingguan bareng-bareng, di hutan pula, sukses membuat kami lebih akrab satu sama lain, terlebih bagi saya yang notabene anak tunggal. Perjumpaan di pendakian kali ini memunculkan kesan tersendiri, semacam hadirnya figur kakak yang saya tidak pernah punya. Hiks tisu mana tisu Mba Ratna, Ariel, mas Andreas, mas Eko dan mas Fian berangkat turun lebih dulu karena mereka mengejar bus lebih awal. Lalu tersisalah saya, kak Anggi, mba Endang, bang Asep, bang Age, bang Nazrul, mas Bob dan mas Ucup. Perjalanan turun kami melewati area hutan dengan trek yang lumayan menggempur dengkul. Dan yang lebih menyiksa adalah persediaan air yang tersedia hanya air yang diambil di danau Taman Hidup. Sayapun harus menahan haus ketimbang menderita batuk akibat meminum air danau yang kotor.

mau pulang
mau pulang

Trek agak melandai ketika kami memasuki area hutan damar. Beristirahat sebentar, lalu perjalanan dilanjt hingga akhirnya kami ke luar dari area hutan damar dan menjumpai sebuah pondok yang nampaknya dibangun khusus untuk menjadi tempat ngaso sejenak bagi para pendaki sotoy 😛 Hari mulai sore, hingga akhirnya kami menemukan… air! Yap, ada saluran irigasi yang airnya lebih manusiawi  dibanding air danau Taman Hidup -_- Puas minum, kami melewati perkebunan warga hingga akhirnya tibalah kami di pemukiman warga. Kembali menemukan peradaban yeaay \m/

Di basecamp rupanya sudah tiba juga rombongannya Ida. Setelah menaruh beban hidup ( baca : carrier ) kamipun beranjak menuju warung bakso terdekat.

Kelar memanjakan perut, kamipun bergegas memanjakan badan, memandikan diri dari daki-daki yang menempel. Secara semingguan ga mandi, entah parasit macam apa yang sudah hinggap di badan -_- Dan saat saya melangkahkan kaki menuju toilet yang terletak di bagian belakang basecamp, pandangan saya tertuju pada dua makhluk gembul yang sedang duduk manis, menggoyangkan geraham dengan asyiknya tanpa mengindahkan saya yang tengah terpukau. ADA SAPI! *tepok jidat* Entah karena kelamaan di Jakarta atau apa, sore itu saya menjadi orang paling bahagia karena melihat langsung sapi di kandangnya langsung. #leninorak Dari beberapa informasi di internet, daerah Bermi memang penghasil susu, jadi wajar lah ya ada kandang sapi.

Setelah memove-onkan diri dari para mahkluk gembul tersebut, saya beserta para abang dan kakak melanjutkan perjalanan menuju Surabaya, menginap semalam di STKW, naik elf lagi! flashmob

Sepanjang perjalanan bukannya tidur, kami malah karaoke-ria, sambil tak henti-hentinya ngebully bang Nazrul dengan lagu andalannya Rio Febrian-Aku Bertahan. Lalu sayapun hening ketika playlistnya berubah menjadi lagu-lagu tahun 90an -_- Puas nyanyi-nyanyi, kami memutuskan untuk berhenti sejenak mencari tempat karaoke  makan.

Berkat rekomendasi sang sopir, kami berhenti di Waroeng Kencur yang berada di kawasan Probolinggo. Sontak kamipun pucat begitu melihat suasana restoran yang terlalu mewah untuk kawanan pendaki macam kami. Bahkan beberapa abang berkomentar : “Bilangin Anggi Len, kita makan di tempat backpacker aja.” Tapi nasi sudah menjadi bubur, kak Anggi sudah kadung memesan tempat duduk. Setelah melihat daftar menu, muka kami menjadi berwarna kembali. Harganya cukup bersahabat ternyata pemirsaaah, hehe 😀 Recommended lah.

Kamipun tiba di STKW menjelang tengah malam, lalu mengistirahatkan diri, mengumpulkan tenaga untuk perjalanan pulang esok harinya.

18 Agustus 2013

Pagi ini kami sarapan dengan nasi krauw yang disediakan oleh kakak-kakak mahasiswa STKW. Nasi dengan suwiran ayam khas Gresik ini menurut saya cocok sekali untuk sarapan. Usai makan, kami beranjak pulang, tak lupa mencicip lontong balap dan rujak cingur mumpung masih di Surabaya.

Di setiap perjumpaan, selalu ada perpisahan. Hari menjelang sore ketika kami tiba di Stasiun Pasar Turi. Setelah mba Endang pulang lebih dulu pagi tadi, kini giliran saya, kak Anggi dan bang Asep yang melangkahkan kaki meninggalkan Surabaya. Bang Ides dan bang Nazrul tinggal di Surabaya lebih lama karena jadwal tiket kereta yang berbeda. Ada haru yang menggantung di langit-langit Stasiun Pasar Turi senja itu, mendadak ada rasa yang menggumpal di kerongkongan ketika mengucap kata pamit, tanda telah tiba saatnya berpisah. Sekuat tenaga saya coba menahan air yang hendak tumpah membanjiri sudut pipi saat terakhir kalinya melihat mas Ucup, bang Ides dan bang Nazrul. Tengsin kan kalau ketahuan cengengnya mentang-mentang paling kecil di rombongan 😛 Surabaya, saya pasti kembali, entah untuk trip apa…

19 Agustus 2013

Saya terbangun seraya membetulkan posisi duduk di bangku kereta. Pagi yang manis karena disambut dengan suguhan pemandangan Ciremai yang mengintip di kaca jendela. Beberapa menit saya lewatkan dengan meresapi hingar-bingar di kereta sebelum akhirnya kembali melanjutkan tidur. Hingga akhirnya…

haru's1209
Ciremai yang mengintip

Stasiun Senen. Saya kembali harus menahan haru saat berpamitan dengan kak Anggi dan bang Asep, mencoba meringankan langkah kaki menghadapi perpisahan, se-ringan hati saat menyadari bahwa saya telah tiba di Jakarta. Mama, saya pulang…

Sebagai penutup, izinkan saya mengutip sepenggal paragraf dari video MLSR yang juga melakukan pendakian ke Argopuro saat itu, meski sayang kami tak sempat berjumpa.

“Alam adalah ibu manusia. Hilanglah hasrat menaklukkan apalagi menggagahi. Dengan ibumu sendiri, gunakan cara lain!”

– tjuandha

Terlalu banyak momen yang tak cukup saya masukkan di catper ini karena begitu banyak kenangan yang membekas hingga tulisan ini selesai diketik. Trek terpanjang se-Jawa yang telah mengajarkan saya banyak hal. Dan jika ditanya maukah kembali ke Argopuro? Dengan mantap saya akan menjawab : Yes, for sure. Karena hati saya benar-benar tertinggal di sana 🙂

P.S. Foto taken by : kak Anggi Kartikawati , bang Nazrul Budi , mba Endang Yuni Purwanti dan Ariel Stevan

Advertisements

57 Replies to “Pendakian Gunung Argopuro ; What A Long and Winding Road”

  1. leni.. jgn lupa sertakan sumber foto2 kamu sprti catoper di tempat lain.. klo di liat2 itu mayoritas dr foto2ku kan yah. niat bawa 3 batre dari jakarta krn gak mau kehilangan momen sdikit pun. mski akhirnya di danau taman hidup yg jd gak banyak foto.

  2. “ Iya, Argopuro tuh, Leuser-nya Jawa.”

    “Leuser? Maksudnya kak?”

    “Iya, trek terpanjang di pulau Jawa.”

    pasti yg dimaksud “kak” itu kk ida bukan ???

  3. Leni, aku memutuskan untuk tidak membaca catpermu sebelum benar-benar merasakannya sendiri >.< tapi untuk tidak melihat gambarnya, itu tidak mungkin sekali *miris* tapi yang lebih penting dari semua itu, aku suka jaket hitam perpaduan merah yang kamu pakai tiap foto dengan backgroud gunung yang membentang. Boleh tahu kamu beli itu dimana? -___-

    1. aduh, ngebaca komen kakak jadi agak ngerasa bersalah gitu. hehe
      di toko outdoor byk kak, tinggal pilih. atau mau ditemenin? atur tglnya aja, ntar ln temenin deh 😀

  4. membacanya bagian perbagian, jadi inget saat melakukan pendakian Gunung Kemiri di Aceh yang memaksa saya membawa barang yang tidak bisa dikonsumsi T_T
    perjuangan berat tentunya ya…
    mantap foto-fotonya mba 😀
    jadi pengen kse sana ….

    1. hehe, postingan Gunung Kemiri di Aceh bikin iriii, impian bgt bisa menjejak di tanah Aceh 😀
      ke sanalah, dijamin bakal susah move on karena selalu terkenang indah sabananya. *sepertisaya T_T

      1. ahahaha… gunung-gunung di aceh titik 0 pendakiannya yang bikin perlu beberapa hari sampai puncak…. 😀

        heEm…semoga bisa segera ke sana, lagian udah lengkap banget dijabarin per chapter di postingan ini…
        ahaha… susah move on ya?? aaaaakkkk
        gak kebayang kalo menetap di sabananya 😀

      2. ho gitu, jadi krn deket pantai ya jadi butuh waktu lama gitu?

        hehe, coba diklik yang video MLSR, di situ ada dokumentasi penampakan sabananya. saya setiap liat itu selalu galau pengen ke sana lagi 😀

      3. dari pantai malah lebih jauh…..coba buka peta aceh dan perhatikan skalanya 😀
        topografi di sana yang membuat akses angkutan darat terbatasi, jadi titik 0 nya ya sebatas yang bisa ditapaki pembangunan

        ok deh mba, meluncur ke tkp video sabana.nya 😀

      1. hehe, tp ngeliat postingan lautnya kakak juga bikin irii >.< someday ngetrip bareng yuk kak 😀 *anak gunung pengen main air*

  5. wah,,,haha… ini yang asli bikin ngiri. luar biasa. ranting, dahan, pohon, hutan, belukar, padang, sungai, dan danau, eksponen gunung yang selalu ajaib.

  6. baru bisa nyari-nyari info via blog. kalo darah sih udah berdesir membisikkan “argopuro”! 😀 what a lovely winding hike! tahun ini mungkin kesana, harus!

    salam kenal, saya nafis dari Bandung! 🙂

  7. Leni.. Slmat dah jelajah kampung halaman ku.. 1985 kls 5 SD bremi aku dah naik taman hidup.. Dah puluhan tahun dah ga lihat taman hidup dah kesaktiannya.. Makasih dah kasih lukisan rengganis.. Bikin mesin waktu berputar kmbli.. Tengkiu..

    1. tahun 85 sudah ke taman hidup? whoah keren kaak. yuklah kapan2 kita ke argopuro bareng, kangen sabananya dan merak di cikasurnya ini 😀
      makasih sudah mampir ke blog saya ya kak nur cholis

  8. Bagi yg pernah ke argopuro saya mau traktir bakso sukowati di cikeas bogor.. Hayuk.. Ciyuuuuuuusssss.. Kuota 50 org.. Salam dari argopuro.. 087781797373 nur cholis (metrotv) pengen dgr ceritanya soalnya.. Hehehee gmn argopuro dan sktrnya saat ini.. Kalo perlu kita jelajah lagi..

  9. hai, mau nanya nih untuk simaksi pendakian bisa diurus disana langsung ga? trs besoknya baru mulai mendaki atau harus booking online.
    makasih sebelumya 🙂

  10. Selalu terbentur alasan macam-macam ketika melangkah ke sana, padahal kuliah di malang dan ga jauh-jauh amat. Saya malah lebih sering “mendekam” di Arjuno 😀

  11. Hi Leni, salam kenal.. catpernya lengkap dan jelas. sangat membantu 🙂

    kalo boleh, bisa share CP/no telp elf yang team kamu pakai pas ke Baderan?

    thank you 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s