Fun Hiking di Gunung Gede


Tugas menumpuk, UAS sebentar lagi menjelang, closing belum kelar, deadline buletin, sukses membuat saya galau sepanjang pekan. padahal kesehariannya juga galau terusΒ  saat sedang hectic begitu, saya teringat sebuah postingan kawan di tumblr

Teman : Kalau kamu lagi galau pengennya ngapain?

Saya : Naik gunung

Teman : Terus bisa ilang gitu galaunya kalau sudah turun?

Saya : Nggak. Jadi makin galau pengen naik yang lain. Seperti sekarang ini

— Setiap orang punya ‘kagalauan’ masing-masing

source : klik di sini

 

Di kala absurd moment macam itu, masuklah satu mms dari Zaki yang bikin saya uoow. Takjub karena:
1. Ternyata hp saya bisa nerima mms! *hpnya jadul
2. Nanjak kali ini merupakan pendakian yang tertunda. Kalau dulu jadinya ke Gunung Papandayan, itu karena kehabisan kuota untuk booking di Gunung Gede.

mms uow-moment
mms uow-moment

Setelah menimbang-nimbang kemampuan dompet yang saat itu sedang tengah bulan, maka berangkatlah saya. Perjalanan nanjak kali ini agak menggamangkan, karena awalnya teman-teman perjalanan di Papandayan tak ada yang bisa ikut untuk reuni. Cemas, karena rombongan perjalanan kali ini tak ada yang saya kenal kecuali Zaki. Hiks, pasti krik kalau orangnya belum kenal semua. But the show must go on. Dan beginilah hasilnya :

Deuttie ikutan ngantor
Deuttie ikutan ngantor

Si Deuttie sukses nongkrong di kantor untuk beberapa jam lamanya. Ya, karena perjalanan akan di mulai pada malam hari, maka saya merencanakan berangkat dari kantor. Enaknya kerja di kantor yang terletak di perumahan adalah, office sweet office banget. Ruang kerja berasa rumah, bahkan kamar sendiri. Maka tak heran, mulai dari nyimpen buku kuliah, mandi, bahkan numpang tidurpun bisa dilakukan di kantor.

Jam ngantor berakhir, maka mulailah saya berangkat menuju meeting point pertama, tempat biasa ngumpul di daerah Pejaten. Sesampainya di tempat ngumpul, sudah hadir beberapa orang yang menunggu di pinggir jalan dengan jejeran carrier yang disandarkan di pagar rumah orang. Huaah, i really miss that moment, saat-saat menunggu kedatangan kawan perjalanan dengan carrier yang berjejeran, menunggu untuk diajak bertualang >.< Tak berapa lama, datanglah Zaki, lalu kak Syifa dan kak Indri (tau namanya setelah kenalan) yang menandakan perjalanan akan segera dimulai.

Perjalanan selanjutnya membawa kami menuju kawasan Pasar Rebo, di mana kami di sana bertemu dengan kawan-kawan lainnya yang bergabung dengan trip nanjak kali ini. Rame dan banyak euy! Dan dengan bertambahnya pasukan, menandakan saya harus ekstra keras menghapal nama-nama dan wajah >.< Tujuan kami malam itu adalah kawasan Cibodas, di mana kami akan naik ke Gunung Gede melalui jalur Cibodas dan turun lewat jalur Gn. Putri. Bus baru kami dapatkan sekitar jam sebelas malam, sungguh sebuah penantian yang lumayan.

tempat pemberhentian dan rombongan pendaki lain
tempat pemberhentian dan rombongan pendaki lain
formasi hampir lengkap | minus bang Fajar yang fotoin

Setelah beberapa jam melakukan perjalanan dengan bus, kami tiba di depan sebuah tempat penginapan pinggir jalan, tempat pemberhentian yang biasa digunakan para pendaki untuk melakukan start awal. Menumpang angkot, kami selanjutnya tiba di kawasan kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sarapan kami pagi itu dilakukan di warung Mang Keling. Jam 3.30 pagi, kami memulai pendakian. Night trip broh, serasa kece gendong-gendong carrier malam-malam sambil memakai headlamp di kepala >.< Trek Cibodas ini bagi saya agak berbeda dengan perjalanan-perjalanan mendaki sebelumnya, karena jalanannya merupakan setapak yang dilapisi batu.

bersiap
bersiap
trek setapak berbatu
trek setapak berbatu

Melakukan perjalanan mendaki di kala gelap, menimbulkan kesan tersendiri bagi saya. Melangkah dalam keheningan sambil memasanga pendengaran baik-baik dan fokus berjalan menggunakan bantuan sinar headlamp.

Pos pertama : Telaga Biru

Telaga Biru, dinamakan begitu karena kalau pemandangan siangnya telaga tersebut airnya berwarna biru bening. Huaah, saya penasaran karena saat googling pemandangan aslinya bagus, tapi karena jalan malam, maka tak terlihat wujud birunya.

Pos Kedua : Rawa Gayonggong

Jalan di area ini, akan melewati jembatan yang terbuat dari semen yang dibentuk menyerupai tekstur kayu. Barulah agak lama berjalan, kita akan melewati jembatan yang asli dari kayu. Di bagian yang berkayu ini, harus agak hati-hati karena beberapa bagiannya ada kayu yang terlepas dan berlubang. Dari cerita, sebelum jembatan tersebut dibangun,sebelumnya para pendaki harus jalan berbasah-basah ria karena di bawahnya merupakan rawa.

Pos Ketiga : Air Terjun Cibereum

Di pos ini, kami beristirahat agak lama karena perjalanan akan kembali dilanjutkan ketika langit mulai agak terang. Air terjun Cibereum merupakan alternatif berwisata ke TNGP, karena keadaannya yang lumayan asyik untuk main-main air meskipun dari beberapa cerita teman yang pernah ke sini, airnya lumayan dingin. Tapi karena langit masih gelap, lagi-lagi saya tak bisa melihat bagaimana wujud air terjun tersebut, hiks. Di sini, sempat beberapa kali saya melihat kemunculan kunang-kunang. Meskipun hanya dua kali momen tersebut dan kunang-kunang yang muncul hanya satu, namun sangat menggembirakan hati. Setelah subuhan, perjalanan kembali kami lanjutkan. Headlamp pun mulai dipadamkan.

Pos Keempat : Air Panas

Di perjalanan menuju pos ini, perjalanan kami sempat terhenti karena di atas pepohonan sana, tiba-tiba muncul suara gemerisik dan beberapa sosok mulai berlompatan dari dahan ke dahan. Ada monyeeet! Huah, sebuah momen langka, karena jarang-jarang bisa main-main ke hutan dan bertemu atau bahkan sekadar melihat warga hutannya secara langsung. Dan yang menarik, ada di antara mereka yang sedang menggandong anaknya. Uow, how a great moment! >.< Sayang memfoto mereka agak susah, selain jarak yang memisahkan, kamera yang kami gunakan hanyalah kamera pocket biasa. Tapi, mata adalah kamera terbaik bukan? πŸ™‚

can u see?
can u see?

Selanjutnya, kami beristirahat di tempat datar sebelum air panas berada.

tea time
tea time
airnya beneran panas!
airnya beneran panas!

Pos Kelima : Kandang Batu

Di sini kami melewati air terjun yang tak terlalu tinggi. Kami sempat membuang memori kamera dan menyimpan sebagian airnya untuk memenuhi persediaan air kami selama perjalanan. Air terjun ini bernama Panca Weuleuh.

Pos Keenam : Kandang Badak

Di sini biasanya para pendaki mendirikan tendanya sebelum melakukan perjalanan menuju puncak. Tapi kami kala itu hanya beristirahat dan menyalakan kompor untuk menyiapkan makan siang. Agak ke kanan, terdapat pancuran air yang dapat digunakan untuk mencuci peralatan masak dan sebagai sumber air. Juga berdiri sebuah bangunan yang belum rampung pengerjaannya dan biasa digunakan tempat menunaikan panggilan alam para pendaki. Tapi kala itu sedih saya melihatnya, karena kondisinya yang tak mengenakkan untuk dipandang;Β  banyak sampah tisu basah, pembalut, bahkan ‘ranjau’bertebaran. Hal yang unik di Gunung Gede-Pangrango ini adalah : ada tukang jualan! Yeah, di gunung ada yang jualan. Nasi uduk, nasi kuning, kopi dan pop mie. Rasanya? Jangan tanya, namanya juga makanan gunung -.-

penampakan nasi kuning
penampakan nasi kuning

Tanjakan Rante-Puncak

Jalur pendakian Cibodas terkenal berkat Tanjakan Setannya. Bukan, bukan karena setan banyak yang ikut nanjak di situ, tapi karena kecuramannya hingga disediakan tali untuk membantu mendaki. Namun saya kali itu tak lewat Tanjakan Setan, tapi lewat jalur alternatifnya yang belakangan saya googling bernama Tanjakan Rante. Dan meskipun jalur alternatif, tapi rasanya ga beda jauh sama Tanjakan Setan T_T Perjalanan setelah dari Kandang Badak agak memelan karena turun hujan. Yak, kombinasi kehujanan, dingin dan jalanan yang curam sangat tak mengenakkan. Kondisi saya mulai melemah kala itu, karena dari pagi saya belum makan nasi. Indonesia banget memang, tapi nyatanya makan nasi selama pendakian itu berpengaruh banyak pada ketahanan stamina. Meskipun saat di Kandang Badak saya banyak makan mie dan menolak nasi kuning, ternyata itu mulai ngefek –– Langkah makin melambat. Karena kondisi tak mendukung, maka carrier saya dibawakan Andre. Duh, lagi-lagi ngerepotin orang, hiks. Keseruan belum berhenti sampai di situ. Setelah beban tubuh agak ringan karena saya memanggul daypack, saya bisa menambah kecepatan merayap di tanjakan. Memakai jas hujan tak cukup membantu, karena nyatanya tangan saya mulai kebas karena kedinginan. Sambil menunggu kawan lain yang di belakang, saya menyempatkan diri untuk tidur beberapa menit. Tak berapa lama, yang lainnya mulai muncul. Karena merasa ada teman, saya mulai melangkah lagi,agak terbelakang dengan kak Binzai dan kak Dimas. Dasar mental saya sudah drop karena kedinginan, saya mulai merajuk di tanjakan. Saya minta waktu untuk tidur di tanjakan, karena kantuk hebat melanda, dingin menjadi-jadi dan tangan sudah kebas samasekali. Saat duduk bersandar padaΒ  Cantigi, pikiran saya mulai kacau. Tak menyangka, di tanjakan terjal begitu saya kehujanan dan kedinginan parah, saya merasakan musuh utama pendaki, yakni kedinginan. Saya mulai berpikir untuk tinggal hingga malam, saat di mana mungkin hujan akan berhenti dan badan mulai menghangat. Sibuk berspekulasi, tak lama saya tertidur. Iyah, ketiduran di tanjakan, di bawah guyuran hujan dan hanya bersandar pada Cantigi yang lebar batangnya tak seberapa –– Kak Dimas dan kak Binzai tak berapa lama membangunkan saya dan menyemangati saya untuk melangkah lagi. Perasaaan saya berkecamuk kala itu. Antara pasrah+ingin menyerah dan mencoba bersemangat demi kawan-kawan yang sudah tiba di ujung tanjakan. Setengah hati saya mencoba melangkah. Sepanjang sisa tanjakan, dua orang kakak itu mencoba menyemangati, mengatakan sebentar lagi tiba. Padahal kalau melihat ke depan, mananya yang sebentar? Yang terlihat tanjakan semua, masih panjang pulak T_T

Hingga akhirnya :

tanjakannya habis \m/
tanjakannya habis \m/

Tanjakannya habis! Terlihatlah kawah Gunung Gede, yang menandakan sebentar lagi kami akan berada tepat di puncak Gede. Di sini, saya mulai bisa tersenyum lagi. Hehe

belakang : Gunung Pangrango
belakang : Gunung Pangrango

Dan untuk menuju tenda kami, yang sudah didirikan oleh kawan-kawan yang sudah tiba duluan juga masih lumayan jalan lagi >.< Tapi tak apa, karena pemandangan pinggir kawah Gede sangat menghibur tubuh yang mulai merengek minta istirahat.

pinggiran kawah
pinggiran kawah
kawah Gede
kawah Gede
tugu puncak Gede
tugu puncak Gede
ngecamp~
ngecamp~

Awalnya saya bingung, kenapa mendirikan tenda si puncak? Bukan di Surya Kencana, karena setahu saya, Surken paling cocok untuk ngecamp. Hingga akhirnya saya sadari, bahwaΒ  ngecamp di puncak meskipun diterpa hembusan angin yang dingin bingit >.< tapi enaknya adalah bisa lihat sunrise sesuka hati. Kalau jenuh nunggu, tinggal masuk ke tenda lagi. Hoho

sunrise : yang ditunggu tertutup kabut
sunrise : yang ditunggu tertutup kabut
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
awan di kejauhan
menyiapkan sarapan
menyiapkan sarapan
the truly breakfast πŸ˜€

Hari menjelang siang, kami packing dan bersiap untuk pulang. Perjalanan pulang beda trek, karena kami akan lewat jalur Gunung Putri. Turun dari puncak, kami melewati padang Edelweiss yang bernama : Surya Kencanaa. Yaps, setelah sekian lama hanya mampu memandang dariΒ  foto milik pendaki lain, alhamdulillah saya bisa menjejakkan kaki di padang cantik itu. Luas, lumayan untuk main tap jongkok di sana. Meski kerapatan Edelweiss tak seperti yang saya lihat di Tegal Alun-Alunnya Papandayan, tapi Surken ini menimbulkan efek romantisme tersendiri bagi saya, karena memperlihatkan sebuah padang yang luaas.

meluruskan kaki di Surken | belakang kami puncak Gede
meluruskan kaki di Surken | belakang kami puncak Gede
Surya Kencana
Surya Kencana
Edelweissnya Surken
Edelweissnya Surken

Setelah menyimpan air yang ditemukan di sela bebatuan, kami pun berjalan menuju jalur Gunung Putri. Awal perjalanan, trek yang ditemui berupa permukaan tanah dengan turunan yang lumayan. Perjalanan turun ini saya kurang hapal nama pos-posnya, karena saya turun sambil ngetrek, jadi kurang memperhatikan plang nama di setiap pos. Yap, saya mencoba ngetrek alias turun dengan berlari. Awalnya agak sulit, karena nafas belum terlalu terbiasa. Setelah beberapa menit berlalu, mulai enak untuk ngetrek. Meskipun pakai rok, ternyata gak menghalangi untuk ngetrek kok, malah anggun-anggun gimanaa gitu πŸ˜› Hasil belajar ngetrek kali ini, beberapa jari kaki tampak lecet, ditambah mendekati penghabisan hutan ada trek yang berupa tangga. Hiks, turun lewat tangga, itu mengerikan sob, karena tumpuan badan sepenuhnya berada pada kaki.

turun
turun
kanan-kiri sayuran
kanan-kiri sayuran
pos terakhir untuk lapor diri
pos terakhir untuk lapor diri

Ke luar kawasan hutan, mata disambut oleh pemandangan perkebunan warga. Jejeran sayuran yang tampak menggoda untuk dimasak, alhasil membuat saya lapar -_- Sambil menunggu kawan lainnya, saya bersama Adi, Adit dan Bang Fajar menunggu di dekat kali. Lumayan, akhirnya ketemu air berlimpah, segar rasanya bisa berwudhu di air segar macam itu >.< Demi manghemat waktu, kami melanjutkan perjalanan menuju pos lapor, sambil menunggu kedatangan kawan lainnya. Lumayan lama kami menunggu, karena beberapa kawan agak ngedrop di perjalanan turun tadi. Untuk menghibur diri, sebelum pulang kami menyempatkan bertandang ke salah satu warung makan milik warga. Senja itu, meski penampilan masih kusut, cuaca agak mendung, malah menambah keakraban dan kebersamaan kami. Senang mendaki bersama kawan-kawan Palaten πŸ˜€

Advertisements

39 Replies to “Fun Hiking di Gunung Gede”

  1. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk
    gunung gede…. edelweissnyaaaaaaa, surya kencana,
    belom pernah ndaki kesana, dan pingin banged bisa ndaki ke sana
    mupeng nih

  2. Pernah kesana juga, tapi rute-nya berlawanan… paling seneng pas lagi di rute hutan dari awal sampai ke edelweis itu… bisa dipakai loncat2…
    pas dari puncak ke kandang badak gerimis, gelap, dan sudah malam… rada serem, ahaha

    hmm, kayaknya perlu ditulis juga di blog sendiri

    salam kenal

      1. ya Allah.. leni O.O
        semoga ga kenapa-napa ya, cuma encok doang mah, semoga besok sembuh πŸ™‚
        lain kali hati-hati, nak.. *sok tua haha*

  3. turunnya lewat jalur gn.putri ya mbak? Wuh, itu emang curam beut tapi cepet. Kalo lewat cibodas memang enak, walopun lebih lama dan panjang. Belum lagi ada tanjakan setan, yg 90 derajat itu. Hehe. Seru ya mbak. Adakah rencana kesana lagi? πŸ™‚

    1. hehe, iya curam. tp kabarnya sekarang jalur gn.putri sudah diperbaiki. disemen, tp mungkin akan berkurang kegregetannya (apasih) hehe
      kepengin pangrango sih, entah kapan. yuk kak, kita muncak bareng πŸ˜€

  4. Pengalaman nanjak pertama ni disini, jalur kebalikan, naik gn. putri, turun cibodas, waktu perjalanan bisa dibilang “waw” banget (pergi 12 jam pulang jg 12 jam, maklum nyubi smuah + ada yg cedera) sampe bosen ga nyampe2….

  5. kayak ya seru tu ke gunung gede,?
    sorry ya gw nupang coret dikit,,.,ada kah yang hiking ke gunung gede bulan november,gw
    akan mendaki bulan november kalau ada boleh lah kita bareng,info ya.di email gw. choiri.arthy0110@gmail.com..

    makasih”

  6. semoga bisa menikmati indahnya alam Indonesia.
    sudah mampir ke gunung mana ajaaa saaii??
    salam kenaall.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s