Dan Kegalauan Kali Ini Tentang…


Selalu ada jeda yang panjang di hati. Bukan, bukan tentang hal cengeng itu. Samasekali bukan. Ini tentang hal yang sering sekali menggangguku di kala malam. Tentang impian-impian yang terus membuatku gelisah. Tentang pengharapan yang terus menggebu.

Betapa aku iri dengan kalian yang telah menjejak kaki di negeri luar sana. Berkawan dengan jauh. Merindu tanah sang merah putih. Merindu hangatnya tangan sang ibu yang menyambut dengan sarapan paling enak sedunia di pagi hari. Merindu dengan tatapan khawatir sang ayah saat kau pulang telat waktu. Merindu dengan adik-adik yang… Ah lupakanlah bagian yang satu ini. Aku anak tunggal, jadi tak perlulah membahas bagian itu.

Terhenyak di meja kerja, ketika kalian dengan riang bercerita bagaimana kalian di sana. Bagaimana kalian bertutur tentang sistem transportasi di sana, makanan di sana, kota-kota indah di sana, atau bahkan bagaimana kalian membunuh rasa rindu pada negeri asal dengan membeli makanan khas Indonesia. Aku iri, pada kalian yang berani mengakrabi diri dengan kata asing. Kalian manusia hebat, berani tinggal di negeri asing, bergaul dengan orang asing, berbicara bahasa asing, dan menegarkan diri untuk mengonsumsi makanan asing.

Aku yang di sini, yang baru mampu mengintip dunia dari buku, dari liputan berita dan dari tulisan-tulisan inspiratif kalian di blog. Entahlah, rasanya paru-paru ini serasa mengecil, sesak karena harapan-harapan yang memenuhi dada. Mungkin langit di Ciganjur sudah bosan akan kehadiranku di setiap malam yang selalu mengukir permintaan-permintaan yang lumayan muluk. Iya, aku menyadari muluk, karena suatu hal yang mustahil seorang anak perempuan dari daerah pinggiran Jakarta bisa menjejak kaki di negeri luar sana.

Tapi satu yang kuingat. Dari sebuah training kepemudaan, seorang kakak pernah berkata “ Allah tidak memberitahukan kelak kita akan jadi apa, jadi mintalah, minta pada Allah. Ya Allah tulislah di lauhul mahfudzku, aku ingin menjadi ini, ingin menjadi itu. Jikapun aku mati dengan tidak meraih impian tersebut, setidaknya aku telah hidup untuk memperjuangkannya.”

Kusampaikan pada kalian, salam dari negeri tercinta, Indonesia. Ia kangen kalian, jadi cepatlah pulang. Berilah kami petuah dari seorang kakak kepada adik-adiknya untuk menjejak kaki di negeri  yang jauh untuk mengukir mimpi, mempelajari ilmu demi perbaikan di negeri kita yang cantik ini.  Kalian mau kan kak? J

Teruntuk kalian yang di luar sana, meski bukan saudara sekandung, izinkan aku memanggil kalian kakak. Aku, yang berusaha membentuk konstelasi impianku sendiri.

Dari seorang yang akan sangat galau jika mendengar kata carrier backpack, gunung dan hutan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s