Mutiara Tangisku


Langitnya sudah menghitam tapi peluhmu masih bercucuran

Ribuan keributan muncul tak henti bergerumul di otak seperti benang kusut

Walaupun kau tak pernah bicara kesusahanmu tapi bukan berarti aku tak melihatnya

Betapa kesadaran ku membangkit, ada benteng tegak dalam hatimu yang disebut kesabaran

Seberapa kuat kau teguhkan jalanmu, seberapa banyak krikil-krikil hidup tak rata kau lalui

Tersandung, tersungkur, bangun dan jatuh kembali

Hidup bagai tak indah tapi kau menikmatinya dengan senyum indah syukurmu

Hampir terlewat tapi kemudian ku tau tentang dirimu, sejatinya kau merengkuh ketegaran

Walau sulit tapi begitulah adanya, membangun puing-puing harapan dalam terjangan ujian hidupnya

Mereka tak pernah peduli kita, apalagi harapan-harapanmu

Mereka sering tertawa saat kita menyeret-nyeret beban kehidupan tepat di atas punggungmu

Mereka benar-benar manusia bermulut binatang

Walaupun remajaku tak seindah teman-temanku di sana, walaupun waktu ini untuk membayar segala keprihatinan hidup sejak ku ada

Aku tau, sejak aku lahir hidupku sudah lebih dari indah, berharga, bahagia dilahirkan dari rahim seorang wanita kuat sepertimu…

Seindahnya senyummu, sebeharganya recehan dari hasil peluhmu, sebahagia kisah hidup kita…

Karena sungguh, baktiku kini masih kepadamu….

Sampai nanti datang waktunya seorang cucu adam menjemputku, menjanjikan kebahagiaan hakiki.. Ridhoi aku untuk menjalani baktiku untuknya….

Aku tak pernah berfikir banyak hal tentang masa depanku, yang ku fikirkan kebahagiaanmu, keluarga kita…

Tapi harapanmu bagaikan lantunan do’a-do’a yang tiada pernah putus kau munajatkan..

Tentang dia, laki-laki yang akan menjagaku dan membawaku ke surga terindahnya..

Aku tidak mencari dia yang ku cintai utk kau cintai, aku mencari dia yang kau ridhoi utk ku cintai..

Segalanya, harapanku, do’aku, kerja kerasku untukmu Ibu…

Sebelum waktu menghampiri, sebelum Allah menutup lembaran-lembaran episode kita..

Entah siapa? Entah aku atau kamu…

Saat malaikat pengambil nyawa itu menghampiri, menelusuk, menghabiskan nafas dan detak nadi, mencabutnya perlahan……….

Satu hal, sebelum kita terpisah, sebelum kau meninggalkan aku atau entah aku pergi meninggalkanmu lebih dulu..

“Allah telah takdirkan segalanya indah, terlahir dari rahim seorang ibu yang tak pernah menyerah. Yang mengenalkan ku tentang Dia yang menciptakanku, yang menciptakanmu pula, Dia juga yang membukukan episode kehidupan dalam Lauhul Mahfudz. Tentang hidup ini yang lebih terjalani mudah karena kekasih-Nya. Juga tentang hijabku yang juga sangat ku cintai. Ibu, seperih apapun kecilku atau seberat-beratnya masa remajaku. Sungguh, semua tak lebih dari kebahagiaan dan syukurku karena Allah pasangkan sebelah sayapku oleh manusia indah sepertimu. Terimakasih Ibu, terimakasih Allah yang menjadikan semua dan segalanya penuh makna”

Segenggam senyum,

Della Jessyca Huzay

01 Maret 2013, @my office

Advertisements

1 thought on “Mutiara Tangisku”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s