YouthCare 2013. Satu Hati, Satu Visi, Satu Aksi


Kali ini saya akan posting kegiatan muda peduli. Yep, berkat rekomendasi teman se-gank, se-kantor, se-kelas dan se-se lainnya *tebar senyum ke Wina 😀  saya mengikuti sebuah seminar kepemudaan yang bertajuk “ National Youth Conference ( NYC ) “ tanggal 20 Januari 2013 kemarin. Saya daftar sebagai peserta, Wina sebagai panitia. Jadi selama acara berlangsung, kami sama sekali tak bertemu karena lain dunia (loh). Mianhamnida psotingnya telat, hehe. Cara ini diselenggarakan di Masjid Nurul Badar Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

IMG00657-20130120-0925

Awalnya agak kecewa, karena dari 10 tokoh yang dijanjikan hadir ternyata tak ada yang datang. Hanya tiga orang perwakilan dari tokoh-tokoh nasional. Dan saya ga jadi foto bareng Anies Baswedan. T_T

But the show must go on. Dengan berbekal antusias punya temen dari kampus-kampus se-Indonesia, saya tetap mengikuti acara. Yang agak wah, akhirnya saya berkumpul dengan teman-teman mahasiswa yang berjaket almamater warna-warni. Hal ini mengingatkan anggapan saya yang agak wah dalam memandang mahasiswa. Dulu kalau mengikuti lomba-lomba, yang selalu menjadi panitia pelaksana adalah mahasiswa. Saya membayangkan proses kerja yang super rebut, super capek untuk menghasilkan acara yang bagus. Ada antusiasme tersendiri saat melihat mahasiswa mengenakan jaket almamaternya. Terlihat keren. Intelek. Cerdas. Pokoknya kepingin. Memang kondisi yang ada, tak semua mahasiswa produktif dalam masa perkuliahannya. Namun itu bukan indikator untuk men-generalisasi  semua mahasiswa itu kupu-kupu. Saya senang melihat jaket almamater. Dan Alhamdulillah, hari itu saya menjadi bagian dari mahasiswa berjaket alamamater yang berkumpul dalam event nasional. Padahal  rasanya baru kemarin lulus SMK.

haru's0716

Warna-warni jaket  mahasiswa

haru's0718

Disatukanoleh jaket Youthcare dan ruangan berwarna hitam, sewarna.

 

Acara lalu diisi dengan materi rencana strategis, penetrasi, lalu persiapan untuk aksi sepanjang HI-Monas. Yeaay  -.-9

haru's0720

Membuat poster

haru's0722
di perjalanan

Akhirnya ketemu si Wina, ( poster buatan saya kalau dilihat2 agak berbau galau ya? ) -__-

IMG00669-20130120-1351

muda peduli2

Turun ke jalan~

haru's0728

Di HI

muda peduli1

Muda Peduli di Monas

Sebelum memasuki kawasan Monas, kami sempat berorasi di depan istana. Menurutku agak aneh, karena kita teriak-teriak di jalan, belum tentu yang dituju mendengar. Emmh, kupikir lebih baik mengadakan diskusi public atau semacamnya yang lebih produktif, ketimbang berkoar-koar di jalan. Menurutku sih begitu~ tapi tak ada yang sia-sia sih, setidaknya saya merasakan bagaimana aksi damai ala mahasiswa, menyanyikan yel-yel dan tahu euphoria demo.

Saat santa-santai di halaman Monas, saya dan Wina berkenalan dengan seorang mahasiswa dari UNS. Awalnya membahas apa angkot ke Depok, ujung-ujungnya dia cerita tentang komunitas LGBT ( Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgensder ). Kalau didpikir secara anak kandang sih, ngapain juga dengerin cerita perilaku-perilaku moral begitu? Tapi saya bertekad saya bukan anak kandang, harus berani membuka mata. Peduli. Ya, peduli adalah cara terindah mengekspresikan cinta kita. Begitu pula dengan Indonesia ini. Jika cinta dengan negeri ini, sudah seharusnya membuka mata, peduli terhadap apa yang sedang terjadi dalam tubuh negeri ini. Agak menyebalkan memang, jika berjumpa dengan generasi muda yang hanya sibuk memeikirkan dirinya. Ditanya apa masalah yang sedang terjadi di negeri ini, malah bungkam.

Oke, maaf agak berbelit-belit. Lanjut ke topic LGBT yang ternyata dalam realita kehidupan banyak terjadi di sekitar kita. Bayangkan guys, ada orang-sakit yang membutuhkan bimbingan, tapi kita belum bisa membantu banyak. Saya takkan membahas perilaku LGBT tersebut, karena di zaman penuh kemudahan ini, kalian bisa langsung surfing dan mencari info yang lebih akurat dan lengkap. Saya hanya ingin mengajak kalian untuk setidaknya, berhenti sebentar memikirkan di kita, lalu merenungi nasib saudara negeri kita yang butuh bimbingan. Adalah bersyukur, hal yang paling tepat untuk hal selanjutnya kita lakukan. Bersyukur, karena kita memiliki lingkungan keluarga dan sekolah yang “lurus”, yang masih peduli ketika kita salah, mendidik sebagaimana kodrat kita seharusnya. Karena perilaku LGBT tumbuh dan berkembang karena kurangnya pihak yang meluruskan ketika ada hal-hal kecil yang membawa pada ketimpangan. Pihak terdekat itu adalah keluarga.

haru's0739

Berfoto. Senja Monas menjadi saksi pertemanan dan perbincangan seru kita. Hendra, Wina, Febry and me. Maaf ya Faizal dan Anggi cuma jadi juru foto 😀

muda peduli di koran

Muncul di media cetak

Hikmahnya adalah, banyak hal yang masih menunggu untuk kita kerjakan demi negeri ini. Kalau belum mampu melakukan hal besar, mulailah dengan melakukan hal-hal baik yang kecil. Karena besar itu bermula dari yang kecil. Peduli. Jangan terlalu berpikir hidup-ini-sulit-lalu-pikirkan-saja-nasibmu-sendiri. Mulai menata diri, menjadi sebaik-baik generasi muda yang mampu mengelola hidupnya lalu mengembangkan diri untuk bermanfaat bagi orang lain. Sungguh, pemuda yang menjadi cerminan kondisi suatu bangsa. Jika ingin mengenal suatu bangsa, maka lihatlah pemudanya. Dan tentang pemuda, tak melulu mengenai bilangan umur, tapi mengenai semangat yang dimiliki.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s