Dalam Sebuah Kesibukan yang Panjang


“Ini anak lugu banget sih!”

Hmm.. apakah ini karena masalah diskriminasi lagi? Tampilan luar lagi? Fisik lagi? Aku selalu tak suka hal yang seperti ini. Apa salahnya bertanya? Apa bertanya menunjukkan ketakmampuan dalam bernalar?

Selesai berdoa :

“Lho, lanjutin aja, minta yang banyak, minta yang ganteng, yang sayang, yang soleh, yang kaya.”

“Hehe, iya pak.”

“Usahakan, kamu targetin setahun dapet sertifikat, minimal dua sertifikat. Apa aja.”

“Seminar pak?”

“Iya, buat nambah referensi kamu. Buat nambah pengalaman kamu. Saya selama kerja, ga pernah ngelamar.”

“Selalu dipanggil ya?”

“Nah iya. Kamu ikut seminar, nambah temen, nambah wawasan, kalo di sini kamu ga bakal tau perkembangan. Nanti kalo udah dapet jaringan, ya paling engga ada yang nawarin dua kali lipat. Saya dulu, abis nonton, di wc lagi pipis, ada yang nawarin kerja. Semua ini pasti ada hikmahnya, ini sekadar motivasi buat kamu.”

“Iya pak.”

“Oh ya, saya salat dulu.”

“Oh, silakan pak.”

(senyum)

Hidup itu terasa indah 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Dalam Sebuah Kesibukan yang Panjang”

      1. huu,ln ngelirik saljunya kak, bukan ngelirik kaka. ngapa jadi kaka yg enak? harusnya kan saljunya yg salting -__-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s