If Cats Disappeared from The World (2016) : How Actually Does Life Feels Like?

“If I disappeared from the world.. the dreams and wishes I couldn’t think about, things that I couldn’t do when I was alive, and things I want to redo.. there must be many regrets left behind. But the world where I existed and the world where I vanished.. I want to believe they are different. It may be an insignificant change, but it’s proof that I was alive. Struggling and worrying, these are proof that we’re alive.”

Percayalah, bahasan kali ini bukan tentang film kucing yang tiba-tiba hilang di muka bumi semata. Saya pun kecele saat pertama kali melihat poster filmnya di postingan instagram, huhu.

Continue reading “If Cats Disappeared from The World (2016) : How Actually Does Life Feels Like?”

Children Who Chase Lost Voices (2011) It’s Okay to Letting Go the People We Loved

Mitos tentang orang menuju ke bawah bumi untuk membangkitkan orang, ditemukan di seluruh dunia. Negeri Yomi, Underwold, Hades, Shambala, Agartha, mereka dipanggil dengan nama yang berbeda. Tetapi mereka semua berkata berada di dunia di bawah bumi. Orang pernah percaya bahwa di bawah bumi tersimpan rahasia untuk kematian itu sendiri.

Asuna, sumber dari sini
Asuna, sumber dari sini

Asuna, seorang gadis yang hidupnya terlalu sering diliputi kesepian. Ayahnya meninggal sejak ia kecil, ibu yang sibuk bekerja, menjadikan ia sosok pelajar yang gila belajar dan tak banyak memiliki teman. Bahkan, ia cenderung menutup diri dari teman-teman yang mencoba mendekatinya. Atas kesendiriannya itulah, ia sering menghabiskan waktu di bebatuan puncak bukit, membangun markas rahasianya dan bereksperimen Continue reading “Children Who Chase Lost Voices (2011) It’s Okay to Letting Go the People We Loved”

The Imitation Game : Cz Everything Has A Price

Saya lupa, denger tentang film The Imitation game ini di podcastnya bang Adriano Qalbi karena faktor teknologi kriptografi yang dipakai di saat zaman perang atau karena pembahasan penemu komputer modern itu sebenarnya bukan yang selama ini kita kira.

Hingga akhirnya saya mencoba mendonlotnya dan menghasilkan kepala yang sibuk menebak-nebak, hendak memberi judul apa yang tepat dalam menggambarkan keseluruhan garis besar dari film ini. Hingga rasanya, frasa ‘everything has a price’ rasanya lumayan tepat juga.

Continue reading “The Imitation Game : Cz Everything Has A Price”

Sejarah Kemang dan Keprihatinan Lainnya di ICAD 7th

12 Oktober 2016

“.. di gps harusnya lurus, tapi di rambu ga boleh lurus, harus belok kiri. Sedangkan di gps dibilangnya Grand Kemang itu tinggal lurus lagi. Ga mungkin kan ngelawan rambu. Yah yaudahlah pasrah. Sayapun belok kiri, dengan hati pasrah sudah kalau ternyata nyasar..”

Pagi itu saya melintasi jalanan di Kemang dengan dada berdebar. Tujuan saya ialah hotel Grand Kemang, tapi dengan pengalaman ngubek-ngubek Kemang cuma ke Kemang Barat tiap berkunjung ke rumah teman, maka saya mengendarai motor bersenjatakan gps hp dengan rasa was-was dan pasrah. Kalau ga ketemu, yaudahlah.

Continue reading “Sejarah Kemang dan Keprihatinan Lainnya di ICAD 7th”

Mai Mai Miracle (2009) dan Tentang Teman Bermain yang Ajaib

Dalam masa kecil, kita pasti punya teman bermain yang ajaib. Yang benaknya penuh diisi imajinasi hebat, dan selalu ada untuk melindungi serta menyenangkan kita. Coba diingat-ingat, ada atau tidak? Yang jelas, Kiiko punya teman yang seperti itu.

Film ini berlatar tahun 1955, 10 berlalu sejak Perang Dunia II berakhir di Jepang. Hiduplah Shinko yang punyai ‘mai mai atau biasa kita sebut ‘user-useran di rambut’, duduk di kelas 3 SD dan sering mengkhayalkan dunia sekitarnya dengan cerita-cerita dari kakeknya tentang lingkungan mereka yang dulunya menjadi ibukota, 1000 tahun yang lalu. Btw, kakeknya Shinko ini tipe-tipe kakek lovable yang senang dongeng, senang membuatkan mainan untuk cucunya, dan figur kakek yang bisa dicurhati atau ditanyai ini-itu tanpa sekalipun menghardik karena meresa direweli atau diganggu oleh cucunya yang penuh rasa ingin tahu. Bagi orang-orang dewasa yang punya sosok kakek semacam ini, pastilah meninggalkan kesan mendalam saat kita tumbuh besar.

Continue reading “Mai Mai Miracle (2009) dan Tentang Teman Bermain yang Ajaib”

Niat yang Menjadi Nyata di Gunung Guntur

“Saar, ada mobil Saaar. Ayo cepetan…” sontak kami pun berlari semampu kami, meski kaki sudah begitu pengkor akibat turun menuruni trek berkerikil dengan ngesot. Entah diletup api semangat dari mana, tubuh-tubuh yang terlalu lemah itu kembali bugar mengejar suara truk pickup sembari menerjang tumpukan batu bekas galian pasir…

Saat berada di Gunung Putri, saya dan Pandu melontarkan ajakan untuk mendaki gunung sambil nyebrang pulau. Tersebutlah teh Ghemi dan Salman mengiyakan untuk bergabung. Berikutnya, terbersitlah ide untuk latihan fisik di Gunung Guntur. Tanggal dipilih, pasukan disiapkan, berangkatlah kami ke Gunung Guntur dengan niat mengolah fisik. Sungguh mulutmu harimaumu itu benar nyata adanya, niat sederhana itu berubah menjadi nyata *elap airmata*.

Continue reading “Niat yang Menjadi Nyata di Gunung Guntur”

Wolf Children (2012) and How Women Supposed to Be

Biasanya ngepost review film di sini, tapi berhubung lagi gandrung sama per-gif-an-dari-scene-anime, ditambah biar lebih enak pengarsipan postsnya, maka ditulislah di sini.

Semua berawal dari dorongan untuk download film animasi dengan semena-mena tanpa mengindahkan judul maupun isi filmnya. Pokoknya ada stok film aja dulu. Sampai akhirnya saya membuka salah satu file dan judulnya “Wolf Children”, dan membuat saya dalam hati berujar “Lah, ga salah donlot nih?”. Selanjutnya, karena toh acara tv pun tak banyak yang menghibur, akhirnya ditontonlah itu film. Dan ternyata cakeep!!

Continue reading “Wolf Children (2012) and How Women Supposed to Be”

Nanjak Sambil Puasa di Gunung Putri

Berawal dari ketidakhadirannya kak Peye yang rusuh-rusuh ngerencanain trip ke Burangrang tapi dianya sendiri malah ga dateng, akhirnya grup fb Viator Mundi kala itu merencanakan untuk kembali ngetrip demi bisa ngumpul lagi. Sampai akhirnya muncullah ide dari kak Ilham, spesialisnya spot-spot kece tapi masih sepi di Bandung, ehehe. Kak Ilham ini menyebut satu tempat : Gunung Putri. Karena saat itu masih sangat jarang terdengar trip ke gunung ini, maka mengiyakanlah kami untuk ke sana meski bertepatan dengan bulan Ramadhan kala itu namun dijanjikan trek yang bersahabat, setujulah kami semua.

Continue reading “Nanjak Sambil Puasa di Gunung Putri”

Geng Uno di Pendakian Gunung Sumbing

Semua dimulai dengan event Europe on Screen 2014, di mana kami saling bertemu untuk mendiskusikan kesiapan kami berangkat menuju Wonosobo, yang diskusinya kebanyakan ngebully ulah mas Eko yang tempo hari ngegunung bawa 4 kardus camilan. Setelah fixed semua pembagian tugas bawaan, berjanjilah kami untuk berkumpul kembali di Basecamp Gunung Sumbing di Desa Garung, karena mas Eko akan berangkat dari Klaten sementara saya, Lia, Ade dan Pandu akan berangkat dari Jakarta.

Continue reading “Geng Uno di Pendakian Gunung Sumbing”

Berbunga-bunga di Taman Bunga Nusantara

Ada suatu waktu di mana ketika Lia merasa perlu jalan-jalan, lalu mengajukan idenya untuk bepergian yang agak santai, unyu, cewek banget, tapi masih murah di budget ke saya. Hingga teringatlah saya untuk berjalan-jalan syahdu di antara hamparan bunga. Setelah googling, saya menemukan 2 taman bunga recommended di Indonesia, yang pertama ialah Taman Bunga Nusantara yang berada di Cipanas, kawasan Puncak, Bogor dan satunya lagi Taman Bunga Selecta yang berlokasi di Malang. Saat itu, saya sungguh berharap untuk mengunjungi Taman Bunga Selecta, karena kerapatan bunganya yang sungguh instagrammable. Namun apa daya, kami hanya memiliki budget untuk ke Taman Bunga Nusantara saja yang hanya perlu ditempuh menggunakan bus tujuan Puncak. Dan impian suatu hari ke Taman Bunga Selecta yang ternyata menyimpan kisah sebagai tempat kesukaannya Soekarno untuk beristirahat, saya simpan dalam hati semoga suatu hari bisa mengunjungi.

Continue reading “Berbunga-bunga di Taman Bunga Nusantara”

Surga Impian di Jalur Candi Cethonya Gunung Lawu

Apa definisi surga impian menurutmu?

Bagi saya, surga yang selalu saya khayalkan dalam setiap perjalanan menjejakkan kaki di alam ialah menemui hamparan padang rumput, dengan oase di tengahnya di mana binatang hendak minum di kubangan airnya.

Imaji sepercik surga itu selalu membayang di dalam kepala, akibat kebanyakan nonton tayangan Natgeo Wild sih keknya, tapi ya begitulah. Impian untuk merasakan oase itulah yang akhirnya menyampaikan saya pada catper-catper pendakian Gunung Lawu via Jalur Candi Cetho, di mana hutannya masih rapat, dan kabar adanya genangan air yang disebut Tapak Menjangan sebagai sumber air yang sering digunakan minum oleh para hewan. Mendengarnya, membuat saya lantas mengazamkan diri “Mesti ke sini!”

Continue reading “Surga Impian di Jalur Candi Cethonya Gunung Lawu”

Mie Rebus Memorable di Curug Cibereum

Saya sempat menghadapi writer’s block, tapi ga gitu juga sih, saya masih bisa menuliskan catatan perjalanan ini meski memakan waktu hampir 3 tahun, hanya saja saya bingung hendak memberi judul apa, hingga kemudian ketika saya bertanya pada Lia Hastien tentang trip ini serta merta ia mengungkapkan rasa mie rebus yang disantap kala break waktu itu terasa enak.

Sebenarnya awalnya saya hendak memberi judul ‘Piknik Cantik’, tapi apa daya waktu itu tripnya ga cantik-cantik amat, tidurnya numpang di masjid, transportnya carter angkot, makannya di pinggir jalan, satu-satunya yang membikin cantik karena tanpa sadar warna jilbab kami kali itu tanpa disadari senada meski samasekali ga pernah janjian. Ya sudahlah, mari kita mulai. \m/

Semua berawal dari requestnya Ika kala itu, yang meminta kesempatan diajak ngebolang. Karena ini merupakan permulaan, saya pikir harus cari destinasi yang tak terlalu jauh dari Jakarta. Selain cari hemat, agak susah kalau mencari tempat-tempat yang jauh yang mengharuskan kami mengajukan cuti kerja. Selain itu, pertimbangan tempat yang tetap bernuansa alam namun tak membutuhkan persiapan peralatan yang terlalu banyak. Akhirnya diputuskanlah Curug Cibereum yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, yang tempatnya dekat, alam banget, view gunungnya masih bisa didapat. Setelahnya, saya mengajak Lia yang sebenarnya juga diajak Ika, lalu 2 orang tambahan yang diajak Ika yang belakangan kami ketahui bernama Irma dan Mayta. Setelah urusan rombongan siap, dijanjikanlah kami akan bertemu di Terminal Kampung Rambutan.

Continue reading “Mie Rebus Memorable di Curug Cibereum”